Monday, November 30, 2015

BELANJA SERIBU DI MUSLIMARKET.COM


Seribu rupiah bisa dapat apa ? Permen ? Deterjen sachetan ? Di muslimarket bisa dapat baju cantik atau hijab kekinian. Beneran seribu ! Ongkos kirimnya gratis se-Indonesia.

Beberapa waktu lalu saya dapat voucher belanja seribuan dari muslimarket.com . Langsung saya coba sorenya. Vouchernya hanya berlaku di halaman serbu which is, pilihannya terbatas tapi lumayan lah. 'Kan cuma seribu. Memakai vouchernya mudah, nggak kebanyakan T&C seperti beberapa e-commerce.

Setelah memilih item, saya check out as guest, masukkan voucher, isi alamat dan metode pembayaran, lalu place order. Lalu saya dapat email detail pembayaran (yang cuma seribu itu tadi). Hari Sabtu itu saya lakukan payment dan konfirmasi. Sampai hari Senin belum ada notifikasi pembayaran diterima, lalu saya tanya ke CS via chat web. Katanya orderan saya udah dikirim. Dan hari Rabu, belanjaan saya sampai dengan selamat. Ternyata memang nggak ada email notifikasi seperti e-commerce lain.

Overall, saya suka muslimarket.com . CS nya ramah, responnya cepat, dan sangat membantu. Range harganya cukup terjangkau meski pilihan item tidak sebanyak e-commerce muslim lain yang saya tahu. Sayang packagingnya kurang cakep, cuma bungkus plastik yang ditempel alamat. Jadi pas belanjaan datang nggak berasa dapat kado, hahaha..


Tuesday, November 24, 2015

HAUL MBAH RONGGOKUSUMO (PS : ADA PAK MENTRI, KATANYA)


Hari Minggu (22/11) kemarin saya sengaja mendatangi keramaian di Ngemplak Kidul (kabupaten Pati) , where is, tempat kelahiran dan domisili saya sampai sekarang. Jadi, ada keramaian apa di sana ? Itu pawai, karnaval, kirab budaya, atau orang sini menyebutnya dramben (drum band-dialek Jawa). Setiap tanggal 10 Shafar dalam kalender Hijriyah, warga Ngemplak Kidul ini patungan mendatangkan entah marching band, dangdut truck, barong-barongan, dan semacamnya. Tahun ini kata panitianya merupakan kirab paling besar, pesertanya 28 grup dari berbagai daerah. Tahun-tahun sebelumnya saya malas menonton karena penuh sesak dan biasanya ada kerusuhan. Tahun ini saya memutuskan menonton. Alasan saya ; saya harus tahu tradisi asli di dini, saya mau jadi orang lokal yang cinta budaya lokal. Alasan lain : sedang kurang kerjaan. LOL. Hahahahaha...

Yang menarik perhatian saya pada kirab tahun ini adalah, kata panitianya lewat speaker , ada Menteri Desa Marwan Ja'far ikut dalam kirab. Wajar menurut saya, pak mentri itu orang asli sini. Saya kira bapak mentrinya bakal berdiri naik jip sambil dadah-dadah pada rakyat, ternyata nggak tuh. Penonton kecewa sebenarnya. Pak mentrinya nggak kelihatan sama sekali, entah di dalam mobil tertutup atau sudah pulang duluan.



Walaupun gagal ketemu pak mentri, warga tetap menonton dengan sangat antusias. Apalagi ketika ada grup marching band dengan mayoret cantik, jangan tanya berapa puluh kamera ponsel yang muncul untuk merekamnya.

Sayangnya, kirab budaya ini kurang mendidik. Banyak grup dangdut yang ikut arak-arakan, bahkan ada juga grup khusus banci (bukan transgender, tapi laki-laki yang memang dandan banci). Sangat disayangkan karena hampir setengah populasi penontonnya anak-anak. Tapi apapun itu, kirab seperti sudah jadi tradisi. Dan yang seperti ini juga menjadi alternatif hiburan gratis bagi rakyat yang kebanyakan berasal dari kelas menengah ke bawah. Yang penting rakyat suka, gembira, tidak perlu berpikir terlalu keras dengan mendidik selera hiburan rakyat, 'kan ?

Note : Haul maksudnya perayaan ulang tahun meninggalnya seorang tokoh.

PERFECT BRUSH SET FOR BEAUTY NEWBIE


I bought them at Sociolla . Beauty Story brush set ini harga aslinya Rp. 230.000,- tapi saya punya voucher Rp. 100.000,- jadi cuma bayar setengah harga lebih dikit. Hihihi... Brushnya lembut dan ujungnya berwarna cokelat jadi nggak kelihatan jelek kalau habis dipakai. Ukuran tangkainya pas dan ergonomis jadi lebih mudah digunakan. Brush set ini juga dilengkapi tempat penyimpanan berupa pouch berkancing warna soft pink. 



Brush set ini terdiri dari 7 pieces brush :
1. Face powder brush, untuk apply bedak tabur dan multifungsi untuk blush on juga.
2. Foundation brush, biasanya saya pakai untuk BB cream supaya coveragenya lebih rapi dan tangan nggak kotor.
3. Blender brush, saya pakai untuk membaurkan eye shadow supaya warnanya jadi cantik.
4. Eye shader brush, untuk memulas eye shadow.
5. Small angle brush, untuk membuat cat eye atau winged eyeliner.
6. Lip brush, untuk memulas lipstik.
7. Pencil brush, yang ini kuasnya keras dan belum pernah saya coba, bingung juga untuk apa.

Dengan set yang cukup lengkap brush set ini sangat pas untuk beauty newbie yang baru belajar atau untuk expert yang memang suka koleksi beauty tools cantik-cantik. Bagi para newbie tidak perlu bingung karena di setiap tangkai brush ada tulisan nama brushnya.



Tuesday, November 10, 2015

INGAT MATI

Serem ya judulnya ?

Beberapa waktu yang lalu saya habis melayat di rumah seorang kerabat ; adik laki-laki dari adik ipar perempuannya nenek saya yang meninggal. Pelayatnya banyak sekali. Puluhan mobil dan ratusan sepeda motor datang dan pergi memenuhi area parkir di sepanjang jalan sekitaran rumah duka. Jangan ditanya jumlah pelayatnya, saya nggak sempat ngitung !
Kata orang-orang tua, kalau seseorang semasa hidupnya baik nanti waktu meninggal banyak yang melayat, yang berarti banyak yang menyolatkan, banyak juga yang mendoakan. Kalau banyak yang mendoakan 'kan (katanya) akan diringankan siksa kuburnya (katanya lho ya, saya nggak berani jamin. Karena ada kepercayaan bahwa doa si hidup tidak akan sampai pada si mati) . Tidak peduli seseorang itu terkenal, atau orang kaya, atau orang miskin, kalau seseorang itu baik pada sesama, tetap akan dikenang jasanya.

Waktu melayat itu, saya ajak #batitanyamomma. Namanya juga emak-emak, kemanamana tetep buntutnya dibawa. Di rumah duka itu agak rewel dia, minta gendong terus sambil nunjuk-nunjuk ke salah satu tempat. Saya ikutin lah kemauannya, saya gendong ke tempat yang dia tunjuk. Eh,, ternyata.... jadi merinding saya. Di situ tempat jenazah disemayamkan. Hiiii.... (katanya anak kecil bisa lihat yang kita nggak bisa lihat lho).
Tapi ini bukan cerita horor. Habis itu saya ajak Uprin ke tempat lain berkumpul bersama pelayat lainnya untuk baca tahlil dan berdoa (Uprin ikut menengadahkan tangan dan bilang "amin amiiinnn").

Sampai di rumah saya teringat ingat terus soal melayat itu. Bagaimana kalau saya yang terbujur kaku ? Seberapa banyak yang datang melayat dan berdoa dan menyolatkan saya ? Lalu setelah itu bagaimana ? Apakah ruh saya melayang-layang di sekitar rumah ? Atau sudah dibawa malaikat untuk ditanyai ? Kalau ditanyai nanti apakah saya bisa lancar menjawab ? Siapa Tuhanku, siapa nabiku, atau pertanyaan lainnya yang kedengarannya mudah. Bagaimana kalau saya menjawab terbata-bata atau malah tidak bisa menjawab ? Bagaimana kalau nanti saya masuk neraka ? Ih... ngeri sekali.

Selama ini saya tidak banyak berpikir tentang kematian. Well, saya sengaja tidak mau memikirkan karena takut dengan kehidupan setelah kematian itu. Penuh misteri dan tanda tanya, dan serba tidak pasti (oke, kehidupan di dunia juga serba tidak pasti). Saya selalu sibuk berdoa minta ini minta itu banyak sekali. Banyak hal duniawi yang saya inginkan ; ingin mobil itu, ingin sepatu ini, ingin lipstik itu, ingin travelling ke sana, ingin punya rumah di situ. Kedengaran dangkal, ya ? Padahal itu semua tidak akan dibawa mati. Baju yang mahal-mahal itu tidak akan dipakai di kuburan nanti. Lipstik yang mahal itu juga akan ditinggal kalau mati nanti. Selalu merinding kalau ingat itu.

Jadi kenapa saya cerita soal merinding-merindingan ini ? Sebenarnya ini hanya self reminder saja buat saya. Syukur kalau jadi reminder buat yang baca. Saya jadi ingat waktu pelajaran Fiqih di Madrasah Tsanawiyah (setingkat SMP) dulu. Salah satu hikmah melayat adalah mengingatkan yang hidup tentang kematian yang bisa datang tiba-tiba dan tak terduga tapi sangat dekat. Sekarang saya mengerti hikmah yang dimaksud.

Mulai sekarang, persiapan untuk menghadapi akhirat harus dimatangkan lagi. 'Kan tidak mau di akhirat yang kekal nanti tidak bisa masuk surga tapi malah meraung raung di neraka ?

MY VERY FIRST SHOPPING VIA LINE @HIJABENKA


Akhir bulan Oktober kemarin rasanya banyak banget promo e-commerce yang cukup menggoda. Salah satunya dari Hijabenka (sister shopnya Berrybenka). Saya selalu suka promo free shipping karena I'm living in a small town which means, kadang sayang ongkir. Hahaha... Kemarin selama Oktober ada free shipping tuh, with no minimum order. Oiya, di Berrybenka mulai November udah ada banner free shipping selamanya loh ! Membantu banget tuh, khusunya buat yang tinggalnya di Indonesia Timur ( I remember my bff when write this).

Selama ini saya shopping online selalu melalui website e-commerce karena tidak ribet,cepat, tidak perlu nulis format order, dan tidak perlu menunggu balasan admin. Hanya log in, pilih barang, check out, bayar, konfirmasi, selesai. Semuanya serba otomatis. Lalu kenapa kali ini saya belanja via line ? Jawabannya, coba-coba aja mumpung ada voucher diskon yang cuma bisa dipakai shopping via line. Ada yang mau juga ? Add line @hijabenka deh, pakai @ ya...

Lalu, lebih suka shopping via line atau langsung website ? Kalau saya, jelas lebih suka shopping via website. Pengalaman saya belanja via line lama dan kurang praktis. Saya harus mengisi format order, lalu mengunggu balasan dari admin sekitar hampir lima jam. Kalau barang yang dipesan habis harus pilih barang lagi dan menunggu balasan lagi. Tips dari saya : selalu sertakan barang pilihan alternatif supaya langsung diberi total harga yang harus ditransfer. Untuk konfirmasi pembayaran, menunggu balasannya lama sekali. Faktor 'sedang peak season' juga berpengaruh. Katanya sih kemarin itu memang sedang overload Hijabenka-nya. Selain itu tidak ada pengalaman kurang menyenangkan yang berarti. Pengirimannya pakai JNE jadi cepat sampai seperti biasa. Di dalam paket juga disertakan form pengembalian barang kalau misalnya sepatu kekecilan atau kebesaran, atau ternyata tidak suka barangnya.

Ada yang punya pengalaman seru atau bahkan kurang menyenangkan waktu belanja online ? Share yuk !


© JurnalSaya
Maira Gall