Tuesday, November 10, 2015

INGAT MATI

Serem ya judulnya ?

Beberapa waktu yang lalu saya habis melayat di rumah seorang kerabat ; adik laki-laki dari adik ipar perempuannya nenek saya yang meninggal. Pelayatnya banyak sekali. Puluhan mobil dan ratusan sepeda motor datang dan pergi memenuhi area parkir di sepanjang jalan sekitaran rumah duka. Jangan ditanya jumlah pelayatnya, saya nggak sempat ngitung !
Kata orang-orang tua, kalau seseorang semasa hidupnya baik nanti waktu meninggal banyak yang melayat, yang berarti banyak yang menyolatkan, banyak juga yang mendoakan. Kalau banyak yang mendoakan 'kan (katanya) akan diringankan siksa kuburnya (katanya lho ya, saya nggak berani jamin. Karena ada kepercayaan bahwa doa si hidup tidak akan sampai pada si mati) . Tidak peduli seseorang itu terkenal, atau orang kaya, atau orang miskin, kalau seseorang itu baik pada sesama, tetap akan dikenang jasanya.

Waktu melayat itu, saya ajak #batitanyamomma. Namanya juga emak-emak, kemanamana tetep buntutnya dibawa. Di rumah duka itu agak rewel dia, minta gendong terus sambil nunjuk-nunjuk ke salah satu tempat. Saya ikutin lah kemauannya, saya gendong ke tempat yang dia tunjuk. Eh,, ternyata.... jadi merinding saya. Di situ tempat jenazah disemayamkan. Hiiii.... (katanya anak kecil bisa lihat yang kita nggak bisa lihat lho).
Tapi ini bukan cerita horor. Habis itu saya ajak Uprin ke tempat lain berkumpul bersama pelayat lainnya untuk baca tahlil dan berdoa (Uprin ikut menengadahkan tangan dan bilang "amin amiiinnn").

Sampai di rumah saya teringat ingat terus soal melayat itu. Bagaimana kalau saya yang terbujur kaku ? Seberapa banyak yang datang melayat dan berdoa dan menyolatkan saya ? Lalu setelah itu bagaimana ? Apakah ruh saya melayang-layang di sekitar rumah ? Atau sudah dibawa malaikat untuk ditanyai ? Kalau ditanyai nanti apakah saya bisa lancar menjawab ? Siapa Tuhanku, siapa nabiku, atau pertanyaan lainnya yang kedengarannya mudah. Bagaimana kalau saya menjawab terbata-bata atau malah tidak bisa menjawab ? Bagaimana kalau nanti saya masuk neraka ? Ih... ngeri sekali.

Selama ini saya tidak banyak berpikir tentang kematian. Well, saya sengaja tidak mau memikirkan karena takut dengan kehidupan setelah kematian itu. Penuh misteri dan tanda tanya, dan serba tidak pasti (oke, kehidupan di dunia juga serba tidak pasti). Saya selalu sibuk berdoa minta ini minta itu banyak sekali. Banyak hal duniawi yang saya inginkan ; ingin mobil itu, ingin sepatu ini, ingin lipstik itu, ingin travelling ke sana, ingin punya rumah di situ. Kedengaran dangkal, ya ? Padahal itu semua tidak akan dibawa mati. Baju yang mahal-mahal itu tidak akan dipakai di kuburan nanti. Lipstik yang mahal itu juga akan ditinggal kalau mati nanti. Selalu merinding kalau ingat itu.

Jadi kenapa saya cerita soal merinding-merindingan ini ? Sebenarnya ini hanya self reminder saja buat saya. Syukur kalau jadi reminder buat yang baca. Saya jadi ingat waktu pelajaran Fiqih di Madrasah Tsanawiyah (setingkat SMP) dulu. Salah satu hikmah melayat adalah mengingatkan yang hidup tentang kematian yang bisa datang tiba-tiba dan tak terduga tapi sangat dekat. Sekarang saya mengerti hikmah yang dimaksud.

Mulai sekarang, persiapan untuk menghadapi akhirat harus dimatangkan lagi. 'Kan tidak mau di akhirat yang kekal nanti tidak bisa masuk surga tapi malah meraung raung di neraka ?

No comments

Post a Comment

Halo, terimakasih sudah mampir di JurnalSaya. Satu komentar Anda sangat berarti bagi saya.
Semua komentar dimoderasi ya. Komentar yang berisi pesan pribadi akan saya anggap spam.
Oiya, tolong jangan tinggalkan link hidup di badan komentar. Kisskiss

© JurnalSaya
Maira Gall