Friday, April 15, 2016

When I’m Thinking About Life and Destiny

Rambut saya sedang rontok parah, bukan karena shampo tidak cocok. Jerawat di dahi saya timbul tenggelam tanpa jeda dan tidak kunjung hilang, padahal saya rajin pakai skincare. Saya makan coklat dan es krim banyak-banyak. Am I stressed ? A little. Tapi bukan itu penyebab utamanya. Akhir-akhir ini saya banyak berpikir.

Setiap malam sebelum tidur pikiran yang sama menghantui saya. Apa tujuan hidup saya selain menunggu mati ? Honestly, I have no idea what I’m living for. Beberapa tahun belakangan saya hanya menjalani hidup hari demi hari. Bangun pagi, mandi bareng Uprin, makan, main bareng Uprin, nonton drama Korea, internetan, tidur, besok lagi. Nyesek juga rasanya, kalau ingat dulu hidup saya tidak sedatar ini. Waktu masih sekolah selalu ada ambisi untuk jadi yang terbaik, ada nilai berupa angka yang saya kejar, ada hasil yang menyertai usaha. Tujuan saya dangkal, tapi saya tahu apa tujuan saya.

typography quote ini ambil dari google

Waktu berlalu dan roda berputar. Ada mati setelah hidup. Ada jatuh setelah naik. Ada takdir yang menyertai hidup. Saya hidup mengikuti takdir juga. Yang menjadi pertanyaan adalah, takdir yang bagaimana ? Setelah semua ini, lalu apa ? Apakah saya akan menjadi seseorang yang melakukan sesuatu, atau hanya menjadi seseorang yang rata-rata ? Menyedihkan sekali ‘kan kalau ternyata saya ditakdirkan untuk menjalani hidup yang datar, normal, dan jujur saja luar biasa membosankan.

Well, seharusnya tidak semenyedihkan itu. Milyaran orang di bumi ini juga menjalani hidup yang normal. Salah satu sahabat saya juga sekarang hidup dengan ritme datar. Sehari-hari yang dia lakukan adalah mengurus keluarga kecilnya, dan dia nyaris tidak pernah mengeluh. Padahal saya tahu she has ability to do more than that. Saya pernah menanyainya, apakah dia tidak ingin berkarir atau melanjutkan kuliah. Jawabannya sederhana. Katanya, “jalani saja hidup kita apa adanya, ngurus anak saja sudah pusing apalagi ngurus lain-lain”.

Mungkin itu juga yang seharusnya saya lakukan. Hidup saja apa adanya. Tidak semua orang harus menjadi sesuatu. Tidak semua orang harus memiliki tujuan besar.



“Who will fit in when everybody wants to stand out ?”
© JurnalSaya
Maira Gall