Friday, July 15, 2016

CANTIK DARI HATI TANPA RASA DENGKI

“Girls compete each other, women empower one another”
women quote
image taken from here
Saya pertama kali melihat kutipan tersebut di instagram Dian Pelangi berbulan-bulan yang lalu. Kalau tidak salah ingat, waktu itu mba Dian Pelangi memposting fotonya bersama beberapa desainer hijab lainnya, ada Jenahara, Ria Miranda, Zaskia Sungkar, dan lain-lain. Maksudnya, walaupun mereka satu profesi, sama-sama desainer baju muslim dan memiliki label masing-masing namun mereka tidak bersaing secara tidak sehat. Tidak ada iri dengki atau persaingan atau semacamnya. Benar-benar menginspirasi, ya ?

Kembali pada kutipan di atas tadi, kenapa saya begitu teringat pada kutipan itu ? Tentu saja, karena saya merasa kutipan itu ‘saya banget’.

Saya merasakannya jadi ketika pertama kali membacanya langsung menempel di otak saya. Saya pernah menjadi ‘that girl’, yang ingin selalu menjadi yang terbaik, yang terkenal, terpintar, tertinggi nilainya, pokoknya serba ‘ter’ segala macam. Iya, saya memang dangkal, tapi saya realistis. Saya tidak melihat alasan kenapa saya tidak bisa menjadi yang ‘ter’ segala macam itu tadi. Cause I was. Sejak SD saya selalu menjadi murid yang paling pandai, setiap halaman rapor saya dihiasi oleh predikat peringkat pertama. Seluruh penjuru sekolah mengenal saya. Lanjut ke SMP, saya agak kesal karena saya bukan lagi murid paling populer. Ada seorang teman yang cantiknya masya Allah, saya masih yang paling pintar, tapi tetap saja. Kata orang, perempuan pintar kalah oleh perempuan cantik. Sejak itu sepertinya saya jadi agak sinis pada orang cantik. Saya berpikir bahwa perempuan cantik itu sebenarnya tidak bisa apa-apa, otaknya kosong, dan mereka mudah mendapatkan apapun hanya karena mereka beruntung lantaran mereka terlahir cantik.

Kemudian saya masuk SMA besar yang penuh murid-murid pintar, saya tahu akan sulit untuk menjadi yang terbaik. Sialnya, seorang teman terdekat saya juga cantik. You khow that feel ‘kan, berjalan ke sana kemari bersama teman yang jauh lebih cantik ? Rasanya seperti itik buruk rupa yang berjalan di samping angsa. Sialnya lagi, saya harus puas dengan predikat ‘murid pintar’ saja. Well, setidaknya saya pintar, karena bisa saja saya menjadi murid ‘rata-rata’ yang tidak dikenal dan mudah dilupakan.

Lalu ketika saya masuk kuliah, lagi-lagi seorang sahabat saya cantik jelita. Bukan hanya cantik, dia juga baik hati, pandai, dan rajin. Awalnya saya iri setengah mati, namun kemudian tidak mempermasalahkannya karena meskipun IPnya bagus kami beda kelas. Selain dia, saya punya sahabat lain yang tidak cantik tapi pintar. Meskipun kami bersahabat, we compete each other. Kami berangkat kuliah bersama, pulang bersama, sholat bersama, makan siang bersama, ke perpustakaan bersama, duduk selalu berjejeran, namun rasa dengki itu masih ada. Saya sebal kalau nilainya lebih bagus dari saya dan saya puas kalau nilai saya lebih tinggi. Saya ingat  setiap kali dia presentasi paper di depan kelas, saya selalu membaca papernya huruf demi huruf untuk menemukan kesalahan atau cacat apapun dalam papernya, kemudian saya memikirkan pertanyaan yang paling sulit dengan tujuan sahabat saya itu tidak bisa menjawabnya. Tapi dia cerdas, setiap kali saya berusaha menjatuhkannya, dia selalu bisa mengatasinya. Sahabat saya itu lulus lebih dulu tapi IPK saya lebih tinggi. Tapi persaingan semacam ini benar-benar tidak berguna. Dia menjadi ibu, saya juga. Dia sibuk mengurus anaknya, saya juga.

Kalau diingat-ingat lagi, saya menghabiskan masa muda dengan sia-sia. Bukannya mengukir prestasi yang membanggakan, saya malah sibuk dengan kompetisi yang saya buat sendiri, yang didasari oleh rasa dengki. Padahal rasa dengki itu banyak sekali mudhorotnya serta dilarang dalam agama. Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, “Janganlah kamu saling membenci, saling iri, dan saling berselisih. Jadilah kamu hamba-hamba Allah yang bersaudara” (HR Bukhari).  Memelihara rasa dengki hanya akan menyusahkan diri sendiri.

Kalau dipikir-pikir lagi, rasa dengki saya itu muncul karena saya tidak cantik. Coco Chanel bilang, “there are no ugly woman, only the lazy one”. Ungkapan itu benar sekali. Saya dulu tidak cantik karena malas merawat wajah. Saya tidak peduli pentingnya skincare dan make-up. Saya bahkan tidak memakai lipbalm meskipun bibir saya kering. Tidak heran penampilan saya dulu kusut masai seperti itik buruk rupa. Hahaha... Sedangkan sahabat saya waktu kuliah yang cantik jelita, baik hati, dan rajin itu memang sangat rajin. Dia rajin memakai skincare, rajin merawat wajahnya, rajin mensyukuri anugerah yang dimiliki berupa wajah cantik dengan cara memakai make-up. Persepsi saya tentang perempuan cantik tidak bisa melakukan apa-apa itu salah besar. Justru perempuan yang cantik wajahnya adalah perempuan pintar. Cukup pintar untuk menampilkan sisi terbaiknya, cukup pintar untuk mensyukuri anugerah Tuhan, cukup pintar untuk tidak merasa iri saat melihat perempuan cantik lain.

cantik dari hati
ilustrasi muslimah, gambar diambil dari sini

I am completely grown up now. Bukan lagi ‘that girl’, I’m a woman. Wanita muslimah yang saling menguatkan wanita lain, saling membantu, saling memberdayakan dalam bidang apapun. Senang melihat wanita lain bahagia, dan membantu sebisanya ketika mendengar wanita lain kesusahan. Seperti sabda nabi, “Mukmin yang satu dengan yang lain adalah seperti sebuah bangunan yang bagian-bagiannya saling mengokohkan” (HR Bukhari). Karena itulah makna cantik dari hati yang sesungguhnya.


Jadi, kalau sekarang saya ditanya apakah masih iri pada perempuan cantik, saya akan menjawab, “tidak, saya hanya iri pada Uprin yang kulitnya mulus halus tanpa noda”. ^_^

wardah blog competition

1 comment

  1. Suka sama tulisan kak virly yang ini <3

    Aku pun pernah merasa begitu. Aku belum ibu ibu, masih kuliah hhaa tapi menyesal juga dulu pernah merasa seperti itu.

    Bener juga.. dulu pas SMA temen temen selalu ngomongin anak cewek yang udah perawatan. Dibilangnya neko neko, tapi kalau di pikir pikir ya dia udah investasi ya. Ngerawat diri, gak harus pakai obat dokter. Cukup bawa pembersih muka kemana mana, misal lagi camping atau apa skin care dia paling lengkap.

    orang lain bilang rempong, tapi... ya itu lah.. cara merawat diri. Cara mensyukuri diri sendiri. Yaa yaaaa aku suka banget tulisan kak virly yang ini :D

    ReplyDelete

Halo, terimakasih sudah mampir di JurnalSaya. Satu komentar Anda sangat berarti bagi saya.
Semua komentar dimoderasi ya. Komentar yang berisi pesan pribadi akan saya anggap spam.
Oiya, tolong jangan tinggalkan link hidup di badan komentar. Kisskiss

© JurnalSaya
Maira Gall