Selasa, 26 Juli 2016

TENTANG JALAN RAYA, BUS SEMARANG-SURABAYA, DAN CERITA HARI RAYA


Euforia hari raya sudah lewat. Sejak libur usai, jalan raya kembali lengang, suasana terasa lesu dan bau-bau kemalasan tercium di sepanjang jalan. Nyaris terasa seperti kesunyian yang tertinggal setelah badai lewat. Saya tidak berbicara tentang Jakarta atau kota besar lain, ya. Ini daerah tempat tinggal saya, kota kecil tujuan mudik banyak keluarga, tempat asal banyak pemuda yang merantau ke lain kota.

bus, cerita
Ngomong-ngomong tentang jalan raya, saya punya banyak cerita. Setiap jengkal jalan raya Kudus-Semarang dan sekitarnya menyimpan cerita. Tidak peduli seberapa sering saya dulu berlalu-lalang bolak-balik melewatinya, selalu ada cerita baru. Misalnya di pertigaan sana, tempat saya turun dari bus setiap Senin pagi ketika masih berseragam putih abu-abu, untuk ganti angkot sebelum berlarian menuju gerbang sekolah karena nyaris terlambat. Atau di pinggir jalan setelah lampu merah sebelah situ, tempat saya ditilang pak polisi gara-gara katanya menerobos lampu merah padahal saya merasa tidak. Atau di sepanjang lebih dari 100 km perjalanan girls’ touring Semarang-Blora dimana saya merutuki pemerintah karena sebagian jalan raya bergelombang. Atau ratusan penggal cerita lain.
Namun di antara semua cerita yang saya-sentris, ada satu yang paling saya ingat sampai sekarang. Waktu itu saya sedang di dalam bus antarkota antarpropinsi jurusan Surabaya-Semarang ketika sayup-sayup terdengar adzan Maghrib dari seantero jalan. Masih ada satu jam perjalanan lagi sebelum saya turun dari bus untuk ganti bus lain. Dan suasana di dalam bus terasa tenang dan lengang. Saya pun membetulkan posisi, bergaya sok cool menempel ke jendela (itu yang suka dari naik bus sendirian, berasa seperti sedang syuting salah satu adegan drama Korea, hahaha..).

And there he is, duduk di bagian paling kiri dari bangku panjang penumpang, berseberangan dengan saya yang duduk di bagian paling kanan. Have I told you this is not a romance ? Dia yang saya maksud adalah pak kondektur berusia hampir lima puluh (tebakan saya), sedang... sholat ! Iya, beneran SHOLAT ! Dalam posisi duduk, pak kondektur itu melakukan gerakan takbir, rukuk, sujud sebisanya sambil umak-umik (melafalkan tanpa suara-jawa). Baru kali itu saya melihat kondektur bus menjaga sholat fardhunya. Well, saya jadi malu sendiri. Saya seringkali menjamak sholat ketika bepergian lebih dari 81 km (termasuk waktu itu) karena memang boleh. Boleh, ada dalilnya. Tapi boleh tidak sama dengan afdhol.  Hal itu mengingatkan saya pada sebuah pengajian pagi di salah satu stasiun TV swasta. Pak kiai-nya bilang, kurang lebih begini : “ibadah seseorang itu tergantung imannya. Orang sakit, orang hamil, musafir boleh tidak berpuasa, tapi bagi hamba yang imannya kuat, mereka akan tetap berpuasa. Mereka yakin menjalankan kewajiban tidak akan membahayakan hidup mereka sehingga bagi mereka tidak ada satupun alasan untuk tidak berpuasa. Begitupula dengan menjamak sholat. Sahabat nabi dulu juga menjamak sholat ketika berperang dan bepergian. Tapi itu dulu, ketika alat transportasi tidak seperti sekarang. Dulu jarak 81 km itu jauh sekali, dan masjid masih jarang. Sekarang situasinya berbeda, masjid dan mushola ada di mana-mana, kendaraan banyak macamnya. Jadi seharusnya tidak ada alasan lagi untuk menjamak sholat. Jika naik mobil, bisa menepi sebentar di mushola di pinggir jalan. Jika naik pesawat boleh sholat sambil duduk....” Begitu kira-kira isi pengajiannya. Saya tahu, ibadah itu benar-benar personal. Saya hanya berbagi cerita dan pelajaran yang saya dapat dari sebuah bus antarkota.

Ngomong-ngomong soal bus antarkota, setengah tulisan ini saya dapat idenya ketika saya sedang di dalam bus antarkota beberapa minggu lalu. Namun kali ini bus antarkota yang saya naiki khusus dicarter oleh keluarga besar untuk acara halal bihalal tujuh turunan di luar kota. Seriusan, ini acara reuni keluarga super besar dari kakeknya nenek saya yang punya delapan atau sembilan anak, yang masing-masing anak punya entah berapa anak lagi. Bisa dibayangkan ramainya seperti apa. Sebagian di antara kami bahkan tidak saling kenal. FYI, saya keturunan kelima sedangkan Uprin keturunan keenam.

efek gadget dalam masyarakat

Reuni keluarga super besar begini memang bagus. Yang awalnya tidak saling kenal kemudian tahu ternyata bersaudara. Yang pernah ketemu di mana lalu ketemu di sini, silaturrahmi terjaga. Yang tadinya tidak tahu lantas mengobrol, ternyata kuliah di kampus yang sama. Dulu memang begitu. Namun beberapa tahun belakangan trennya bergeser. Saya notice baru tahun ini ada ABG yang kerjaannya sibuk banget sama action cam sepanjang acara halal bihalal (belum ada yang niat banget bawa drone, sih !). Jadi, si ABG itu saya perhatikan sibuk selfie dan wefie sendiri. Kalau tidak sedang cekrak-cekrek ya sedang asik sama smartphone sendiri. Bukan cuma yang ABG saja, tapi sebagian besar ibu-ibu muda juga saya perhatikan lebih asik main smartphone ketimbang memperhatikan ceramah pak kiai di panggung atau menjalin silaturrahmi. Bedanya, yang ibu-ibu muda seringnya sibuk memotret balita masing-masing, lalu scrolling hasil fotonya, lalu motret-motret lagi. Acara halal bihalal jadi kehilangan esensinya, hanya menjadi acara pengisi lebaran. Sayang sekali ‘kan, tradisi halal bihalal yang seharusnya mendekatkan saudara jauh tidak lagi berfungsi sebagaimana mestinya. Kalau terus begini di tahun-tahun berikutnya, saya kira bukan tidak mungkin tradisi halal bihalal seperti terhapus sepenuhnya suatu hari nanti. Atau mungkin saja di masa depan tradisinya bergeser menjadi halal bihalal via video conference. Who knows?


Well, ini hanya personal thoughts yang saya tulis berdasarkan tangkapan panca indra saya sendiri. Sampai jumpa di post berikutnya. ^_^

4 komentar

  1. Bener mba, halal bi halal kehilangan esensinya. Pada sibuk dg henpon masing2.

    BalasHapus
  2. Udah banyaaakk yg kayak gitu. Sedih. Terakhir ikut acara pelantikan gitu, ga tau deh berapa kali fotonya. Ibu A minta foto pake kameranya, B pake hp pribadinya. Belum foto sendiri jeprat jepret, selesai foto langsung ganti dp bbm nggak nyapa yg td habis foto bareng. Lah gimana ya jd bingung esensinya apa :))

    BalasHapus
  3. Kalau saya punya sugesti naik bus pasti mual dan gak nyaman sejak TK pe sekarang, bandung garut aja mesti pusing, semarang bandung pake travel menahan eneg gak nyaman sering pas istirahat muntah deh di kamar mandi, dan semarang jogja pun pening, apalagi semarang ponorogo tiap ganti bis torun terminal mesti muntah parah ya heuheu

    BalasHapus

Halo, terimakasih sudah mampir di JurnalSaya. Satu komentar Anda sangat berarti bagi saya.
Semua komentar dimoderasi ya. Komentar yang berisi pesan pribadi akan saya anggap spam.
Oiya, tolong jangan tinggalkan link hidup di badan komentar. Kisskiss

© JurnalSaya
Maira Gall