Rabu, 24 Agustus 2016

MY FAVOURITE ONLINE BOOKSTORE

toko buku online terbaik

Saya sudah bilang ‘kan kalau saya tinggal di kabupaten kecil di pesisir utara Jawa Tengah. Kalau saya sebut nama kabupatennya juga pasti jarang yang tahu. It’s a place where MAP doesn’t exsist. Bahkan Gramedia aja nggak ada. Serius !
To be honest, I have lived here since I was born. Bukan berarti saya nggak pernah kemana-mana ya. Saya tinggal di propinsi lain bertahun-tahun lalu kembali lagi ke sini, sekolah lagi di luar kota beberapa tahun lalu kembali lagi ke sini, lalu hijrah lagi ke kota lain tapi akhirnya saya kembali juga ke sini. Kalau boleh pamer, di sini hidup damai aman tentram makmur sentosa. Nggak pernah banjir di musim hujan, nggak kekurangan air di musim kemarau, nggak ada gempa atau sebangsanya. Alhamdulillah bangettt pokoknya (iya, triple T).


koleksi buku

Kembali ke “bahkan Gramedia aja nggak ada”. Padahal saya suka banget window shopping ke toko buku. Saya betah berjam-jam keliling toko buku, dari rak satu ke rak lain. Just like Keara (or Anya, in Ika Natassa’s book, of course) said, “toko buku is the least discrimative place in the word”. Saya bisa bebas melihat-lihat buku tanpa dikintilin shop assistant (kalau di toko sepatu, pasti SPGnya nempel terus kayak perangko sambil bilang “yang itu baru lho, kak” setiap lima menit). Saya mau mantengin rak novel-novel metropop juga nggak ada yang berisik bilang, “nggak mutu banget bacaan kamu”, ya kecuali saya ke toko buku bareng orang rese. Di toko buku saya bisa jadi apa saja ; pura-pura stylish dengan sok membaca buku fashion berbahasa Perancis ; pura-pura religius dengan berdiri di deretan rak buku-buku agama ; pura-pura mau kuliah lagi dengan membanding-bandingkan tiga atau empat buku kumpulan soal ujian masuk magister ; atau jadi diri sendiri dengan memilih beberapa tennlit dan metropop.

 Di sini ada sih, toko buku kecil. Dulu ada tiga, sekarang tinggal dua, itupun yang satu cuma menyediakan buku pelajaran sekolah (plis deh ya, sedangkan waktu masih sekolah saja saya kebih pilih beli novel ketimbang buku pelajaran). Satunya lagi koleksi bukunya sedikit. Toko buku beneran yang paling dekat ada di Semarang, which is, 90 km dari sini, tiga setengah jam naik mobil kalau nggak macet. Praktis, saya sempat merasa bosan setengah mati karena terus membaca buku-buku lama saya.


BBB book Dian Pelangi

Kemudian saya mulai browsing mengenai toko buku online (dalam hati saya menyesal, kenapa nggak dari dulu-dulu saya cari online bookstore). Banyak yang saya temukan, tapi pilihan saya jatuh pada bukukita. Katalog bukunya banyak, semua kategori, semua genre, semua penerbit, ada. Memang sih, tidak semua buku stoknya di gudang bukukita. Sebagian besar buku ada di gudang penerbit, namun bukukita selalu mencantumkan keterangan di mana stok buku tersebut berada. Kalaupun stoknya di gudang penerbit, prosesnya cukup cepat. Kalau ternyata buku yang dipesan habis, konsumen akan diberitahu. Komunikasi customer servicenya bagus sekali. Buku-buku yang saya pesan biasanya akan sampai di tangan saya paling lama lima hari setelah pembayaran (FYI, pengiriman ke daerah saya memakan waktu paling tidak tiga hari).

Ngomong-ngomong soal customer service yang oke, saya pernah punya pengalaman belanja yang kurang mengenakkan di online store lain. Ceritanya saya sudah membayar pesanan, ternyata barang yang saya pesan habis, waktu saya bilang mau ganti barang lain kata CSnya nggak bisa, harus bikin pesanan baru. Uang saya direfund sih, tapi saya kurang puas aja kalau buka paket belanjaan isinya sedikit. Nah di bukukita ini nggak begitu. Saya pernah pesan buku apa gitu, ternyata pas dipesan ke penerbit harus tunggu cetak ulang dan perlu waktu agak lama. Lalu saya bilang mau ganti buku lain aja yang ready stock, ternyata bisa. Bahkan saya nggak perlu transfer kekurangannya (selisihnya cuma seribu atau dua ribu sih, tapi kan membantu banget).


bukukita

Tapi.. ada satu yang saya kurang sreg di bukukita. Saya nggak tahu hitungan ongkirnya gimana. Tapi setiap saya belanja lebih dari Rp 200.000,- ongkirnya dihitung dua kilo. Nah, ongkir ke daerah saya kan sekilonya Rp 24.000,- ya, jadi saya mesti bayar ongkir Rp 48.000,-. Sebenarnya agak sayang juga, segitu bisa dapat satu novel lagi. Tapi kalau dihitung-hitung lagi, kalau dibandingkan saya harus bepergian 90 km hanya untuk membeli buku ya worth it lah. Tetap saja, saya berharap ada fasilitas free shipping. Pakai minimal belanja nggak apa-apa deh.

Bagaimanapun juga, sejauh ini bukukita masih menjadi toko buku online favorit saya. Pengemasan bukunya rapi kok, walaupun nggak pakai signature box tapi semua buku saya aman sampai ke tangan saya. Kalau kamu punya online bookstore favorit lain ? Share yuk ! ^_^

PS : ini tulisan sukarela, bukan sponsored post.

4 komentar

  1. Sukaaa juga sama BukuKita. Duh langganan aku banget dulu. Sayang. Sekarang udah pindah k Surabaya, jadi ga pernah lg beli di sana. Karena ongkirnya boo mahal hihi. Dulu kan msh tinggal di Bekasi, jadi murah hehe

    BalasHapus
  2. Semangat bacanya luar biasa ... yg dekat dengan toko buku jadi malu *ngumpetdibelakangrakbuku

    BalasHapus
  3. salam kenal mbak virly, wah hobi kita sama ya, sama2 suka membaca

    BalasHapus
  4. Cobain belanja di grobmart.com deh Mbak, worth it dan kece badai offernya :D

    BalasHapus

Halo, terimakasih sudah mampir di JurnalSaya. Satu komentar Anda sangat berarti bagi saya.
Semua komentar dimoderasi ya. Komentar yang berisi pesan pribadi akan saya anggap spam.
Oiya, tolong jangan tinggalkan link hidup di badan komentar. Kisskiss

© JurnalSaya
Maira Gall