Selasa, 09 Agustus 2016

TENTANG IKA NATASSA DAN THE ARCHITECTURE OF LOVE

resensi the architecture of love
Spoiler alert : beberapa paragraf artikel ini mungkin akan berisi sinopsis atau penggalan cerita The Architecture of Love , bagi yang belum membaca novel atau mengikuti #TAOL #PollStory di twitter, disarankan membaca artikel ini lain waktu.

novel terbaru ika natassa

Saya jatuh cinta pada gaya bertutur Ika Natassa sejak pertama kali membaca novelnya. FYI, novel Ika Natassa yang pertama kali saya baca adalah Antologi Rasa. It was 2 years ago dan saya hanya membaca novel itu tiga atau empat kali sebelum akhirnya Antologi Rasa saya hilang karena tertinggal entah di mana.

Saya suka bagaimana Ika menjadikan tiga tokoh utamanya sebagai sentral, bercerita melalui sudut pandang orang pertama. Membaca Antologi Rasa membuat saya memahami persepsi Keara, jalan pikiran Harris, serta perasaan tokoh pria satu lagi yang saya lupa namanya. Satu adegan diceritakan dengan cara berbeda melalui sudut pandang masing-masing tokoh. Misalnya ketika Harris muncul sambil membawa Kaya Toast untuk Keara di pintu apartemen di Singapura, sambil mengucapkan “Hai, Sayang...” . Dari sudut pandang Harris, yang dilakukannya benar-benar tulus untuk perempuan yang disayanginya. Sementara menurut persepsi Keara, yang dilakukan Harris itu tidak lebih dari rayuan seorang playboy kepada korbannya. Masing-masing tokoh itu menjadi protagonis bersama-sama. Dan ketika saya mengerti apa yang ada di otak ketiganya, bagaimana saya bisa menyalahkan salah satunya jika terjadi perselisihan atau kesalahpahaman ?

Selain itu, saya sangat menyukai plot maju mundur yang digunakan Ika Natassa. Cerita dimulai dari keadaan si tokoh utama sekarang, lalu kenangan-kenangan dimunculkan, lalu diceritakan lagi bagaimana situasi sekarang, kemudian kembali lagi pada kenangan sampai diceritakan akar masalah yang menyebabkan keadaan si tokoh utama merana, kemudian dilempar lagi ke masa sekarang sampai akhirnya novel selesai. Itu yang membuat saya selalu penasaran tiap kali mulai membaca novel Ika dan membuat saya enggan berhenti membaca hingga akhir buku.

Kemudian ada satu hal lagi yang khas dari karya Ika Natassa, yaitu nasib karakternya tidak berhenti sampai pada satu buku saja. Keara dan Harris yang pada akhir Antologi Rasa mulai berteman lagi diketahui menjalin hubungan yang lebih serius di Critical Eleven lalu menikah pada The Architecture of Love. Anya yang sedang mengandung pada akhir Critical Eleven diceritakan sudah memiliki putri bernama Ansel di The Architecture of Love. Raia dan River pada The Architecture of Love mungkin menikah di novel Ika berikutnya. See ? Semua karakter rekaan Ika berada di lingkaran pertemanan yang sama.

Andrea di A Very Yuppy Wedding, Alexandra di Divortiare, Keara di Antologi Rasa, Anya di Critical Eleven, Raia di The Architecture of Love. Kalau dipikir-pikir semua tokoh utama wanita di novel Ika Natassa memiliki segala yang diinginkan kebanyakan perempuan ; orang tua kaya, pendidikan tinggi, karir bagus, wajah cantik, serta seseorang yang mencintai tanpa syarat. Saya jadi penasaran bagaimana kalau sekali-sekali Ika Natassa membuat cerita dengan karakter utama perempuan miskin, tidak cantik, dan tidak punya seseorang yang mencintai tanpa syarat. Namun bagaimanapun juga selalu ada yang membekas dalam benak saya setiap kali membaca novel-novel Ika.

the architecture of love

Jujur aja, saya membeli The Architecture of Love bukan karena tertarik pada desain sampulnya, atau judulnya, atau penasaran karena cuplikan di deskripsi buku. Saya bahkan tidak mengikuti #PollStory di twitter. Alasan saya membelinya hanya karena penulisnya Ika Natassa. Ekspektasi saya adalah novel ini pasti luar biasa. Saya mengharapkan cerita yang mengaduk emosi  seperti Antologi Rasa (sampai sekarang masih menjadi favorit saya urutan pertama). Bukan berarti TAOL tidak bagus, ya. Novel terbaru Ika ini bagus dan fresh, menggunakan PoV orang ketiga dan orang pertama di beberapa bab. Ada satu istilah yang saya dapat dari novel ini yang membekas di benak saya : “what-if scenarios”. Dan ada satu baris kalimat yang sangat saya suka : every person has at least one secret that will break your heart. Jangan tanya kenapa saya suka, karena bukan itu topiknya.

metropop quote

Tidak seperti Antologi Rasa yang ketika pertama kali membacanya langsung membuat saya menyukai karakter Harris dan Keara, membaca TAoL tidak membuat saya serta merta jatuh cinta pada karakter River atau Raia. River yang pendiam dan sok misterius (dan perokok)  rasanya agak kurang qualified sebagai tokoh utama. Saya baru menyukai tokoh River saat adegan di mobil di Montauk, ketika Raia melepas seat belt kemudian River meneriakinya. Di situ River terlihat seperti seorang laki-laki dewasa yang berusaha melindungi perempuan yang dicintai.

Tidak seperti Critical Eleven yang membuat saya penasaran apa yang terjadi pada Ale dan Anya sejak bab pertama, saya cenderung tidak penasaran (dan tidak berusaha menebak-nebak) apa yang terjadi pada masa lalu River atau Raia. Yang saya ingin tahu malah isi buku yang berhasil ditulis Raia selama bersama River di New York.

resensi metropop

Well, saya tetap menyukai The Architecture of Love. 

15 komentar

  1. Aku baru punya yang very yuppy wedding, bacanya baru setengah halaman hihi, baca ini jadi pengen namatin

    BalasHapus
    Balasan
    1. ayuukkk segera ditamatin trus lanjut novel berikutnya ^_^

      Hapus
  2. kalo kita udah membaca 1 novel karangan si A misalkan, dan terkesan di yg pertama, setelahnya pasti ga mikir ya utk beli judul lain, hanya krn pengarangnya sama. Aku jg begitu sama Dee, mb.. hehe, penasaran jadinya sama Ika Natassa nih..

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak, bener banget. kalau novelnya Dee baru masuk wishlist saya ^_^

      Hapus
  3. Jadi penasaran sama novel2nya mbak, au blm pernah baca tp sering diceritain tmn kalau emang bagus.

    TFS :)

    keluargahamsa(dot)com

    BalasHapus
    Balasan
    1. waahh dikomen blogger kece :)
      emang bagus sih cara berceritanya

      Hapus
  4. *cuus ke gramedia* cari novel iniiii.
    Dulu jaman jaman masih skripsian suka banget baca novel dibanding baca buku refrensi buat skripsi wkwkkw.

    BalasHapus
  5. Walau belum baca satupun, tapi bukunya mba Ika menurut teman2 yg udah baca, memang bagus2 ya.

    BalasHapus
  6. Aku juga. Pertama kali jatuh cinta sama karya karyanya Ika Natassa sejak membaca Antologi Rasa. Aku gemas setengah mati pada tokoh Harris Risjad yang demi apapun sangat oh my Lord buatku. Menikmati karakter lelaki playboy yang ternyata menyimpan ketulusan untuk Keara di hatinya ini, membuat aku merasa ... Ika Natassa sangat keren membangun karakter seorang playboy.

    Untuk buku The Architecture of Love, beruntungnya aku sudah punya dan siap kubaca. Aaahhh aku deg degan, ingin segera menikmati tulisan Ika Natassa lagi.

    BalasHapus
  7. Hmmm.. belum pernah punya buku Ika Natassa, tapi sepertinya tertarik buat beli & baca setelah baca postingan ini :)

    BalasHapus
  8. novel bersambung, enggak puas kalau cuma punya 1 novelnya sajahhh

    BalasHapus
  9. Ahay pencinta novel ada disini.. senang ya bisa menghayati dan mengambil hikmah dari sebuah novel

    BalasHapus
  10. Hmm ... saya pun sama, berburu buku buku karya Ika Natassa seusai membaca Antologi Rasa yang kala itu saya pinjam dari teman kosan saya. Saya pada akhirnya pun menyukai karya karyanya. Kebanyakan bukan karena judul maupun alur yang ditawarkan, tapi karena karya Ika Natassa. Saya suka gaya bahasanya, cara penyampaiannya, sungguh menggoda.

    BalasHapus
  11. bisa di bilang admin punya intuisi yang bagus dalam memilih buku novel^^ hehe

    salam kenal http://www.reviewdansinopsis.com/

    BalasHapus

Halo, terimakasih sudah mampir di JurnalSaya. Satu komentar Anda sangat berarti bagi saya.
Semua komentar dimoderasi ya. Komentar yang berisi pesan pribadi akan saya anggap spam.
Oiya, tolong jangan tinggalkan link hidup di badan komentar. Kisskiss

© JurnalSaya
Maira Gall