Senin, 15 Agustus 2016

TENTANG INDONESIA DAN GOTONG ROYONG

kemerdekaan indonesia, agustusan, gotong royong
Sudah hampir 17 Agustus, ya ? Semua rumah di sekitar sini sudah memasang bendera merah putih (uups, rumah saya sendiri yang belum). Hawa-hawa tujuh belasan sudah terasa, tapi tidak seterasa dulu. Di masa kecil saya dulu, perayaan tujuh belasan itu ramai sekali. Setelah upacara di sekolah, diadakan macam-macam lomba di berbagai tempat di penjuru desa.
Pagi hari biasanya lomba-lomba ringan macam lomba makan kerupuk, lari karung, lari kelereng, dan sebagainya untuk anak-anak SD. Siang sedikit ganti lomba berbau olahraga seperti bola voli, bulutangkis, atau tarik tambang untuk usia SMP-SMA. Sore harinya ada lomba panjat pinang untuk para pemuda, kadang ada juga panjat pisang (persis panjat pinang tapi memakai pohon pisang) untuk anak-anak. Saya ingat dulu semua orang keluar rumah untuk menonton, kami jalan kaki, lalu menonton sambil berdiri di pinggir arena, kalau capek sesekali jongkok, kalau ada peristiwa lucu kami tertawa bersama. Semua orang senang, kelihatan tanpa beban. Semua orang saling bercengkerama. Tidak ada yang sibuk memotret ini itu apalagi memotret diri sendiri.

panjat pinang
illustrasi lomba panjat pinang, gambar punya shutterstock

Sayang sekali tradisi perayaan tujuh belasan seperti itu semakin berkurang dari tahun ke tahun. Sejak saya SMP, perayaaan begitu sudah langka. Dan saya notice sejak saya SMA lomba-lomba tujuh belasan itu sudah tidak eksis lagi di sini, bahkan lomba-lomba ringan untuk anak SD pun tidak ada lagi. Mungkin orang-orang dewasa terlalu sibuk mengumpulkan rupiah sehingga tidak bisa meluangkan waktu untuk mengorganisir acara-acara non-profit seperti itu. Mungkin anak-anak muda terlalu sibuk tumbuh dewasa sehingga tidak punya waktu untuk menjalin hubungan dengan kebiasaan lokal. Sedangkan anak-anak kecil, tentu saja tidak punya alasan untuk keluar rumah.

Sayang sekali, ya ? Padahal perayaan tujuh belasan begitu ‘kan mempererat tali silaturrahmi antar tetangga, mempererat gotong royong dan rasa kekeluargaan, juga membuat anak-anak terus bergerak. Alih-alih kemana-mana mencari pokemon tapi mata tetap fokus ke layar smartphone, bukannya lebih sehat bermain dan tertawa bersama teman-teman di lapangan terbuka ?

anak anak bermain di luar

Time flies, kebiasaan berganti, budaya bergeser. Tidak bisa juga menyalahkan masyarakat karena tidak melestarikan budaya. Bisa jadi memang budaya itu tidak relevan lagi, tidak menguntungkan, sehingga tidak diminati. Budaya lomba panjat pinang contohnya. Dulu dalam sehari entah ada berapa kali lomba itu diadakan, setiap batch ramai peserta dan sarat penonton. Sekarang di sini tidak ada lagi. Mungkin orang-orang merasa lomba-lomba perayaan tujuhbelasan tidak bermanfaat, hanya membuang waktu dan tenaga, tidak peduli seberapa agung filosofi yang terkandung didalamnya. Mengumpulkan rupiah jauh lebih penting daripada beracara macam itu, begitu mungkin pikir orang-orang dewasa. Melakukan pekerjaan rumah tangga yang tidak ada habisnya jauh lebih mendesak daripada menonton lomba-lomba tidak penting itu, begitu mungkin pikir kebanyakan ibu-ibu. Main game online jauh lebih seru daripada ikut lomba makan kerupuk, begitu mungkin pikir anak-anak.

Benar, kan ? Di era kapitalisme seperti sekarang, orang-orang tidak mau melakukan sesuatu yang tidak memberi keuntungan untuk diri sendiri. Boro-boro gotong royong merayakan kemerdekaan, gotong royong dalam kehidupan sehari-hari pun sudah menjadi barang langka. Padahal katanya gotong-royong adalah jati diri bangsa Indonesia (menurut saya pernyataan ini cuma teori, buktinya sekarang orang-orang sudah tidak bergotong-royong tapi KTP mereka masih Indonesia. LOL).

gotong royong
illustrasi gotong royong, gambar pinjam pixabay

Kenapa saya bilang budaya gotong royong sudah menjadi barang langka ? Banyak contohnya di sekitar saya, saya yakin banyak juga contohnya di sekitar Anda. Dulu, orang-orang di sini saling peduli pada tetangga. Kalau got sudah kelihatan kotor, warga ramai-ramai kerja bakti membersihkannya. Kalau ada yang sakit cepat-cepat dijenguk. Kalau ada tetangga meninggal, yang lain cepat-cepat membantu apa saja untuk keluarga duka. Kalau ada yang sedang hajatan, para tetangga turut membantu di dapur dan bersuka cita bersama. Sekarang apa-apa dihitung pakai uang. Kerja bakti bayar orang. Sekalinya diadakan kerja bakti karena ada anak-anak KKN. Peduli pada tetangga hanya ketika si tetangga kena gosip, barulah yang lain peduli sekali (peduli pada gosipnya, maksudnya).  

Lalu sebagai perempuan, apa yang bisa kita lakukan ? Banyak. Saya pernah dengar sebuah ungkapan : kebaikan suatu bangsa dilihat dari perempuannya, kalau perempuannya baik maka baik pula bangsa itu, kalau perempuannya buruk, maka buruk pula bangsa itu. Mari kita mulai dengan hal kecil seperti : tersenyum tiap kali bertemu orang, kenal atau tidak ; memberikan semangkuk sayur pada rumah sebelah ; mengajak anak bermain di luar rumah ; menyimpan smartphone ketika berada di suatu acara ; memasak untuk tetangga yang sedang berduka ; membuka pintu rumah ketika tetangga sedang hajatan ; dan masih banyak lagi.

Ayolah, Indonesia sudah berusia 71 tahun sekarang. Mari kita kembalikan budaya gotong royong pada negeri kita. ^_^

10 komentar

  1. Alhamdulillah mbak di lingkungan rumahku di Surabaya masih ada lomba-lomba. Bahkan kerja bakti pun masih sering dilaksanakan. Jadi insyaAllah gotong royong ini masih ada yang menerapkan :D Malah ada rumah sakit di sini namanya rumah sakit gotong royong :v

    BalasHapus
  2. alhamdulillah, di tempat tinggalku masih ada gotong royong, itupun yg aktif buibunya .. hidup buibu !

    BalasHapus
    Balasan
    1. hidup ibuibu ! emang biasanya yang rajin bersosialisasi ibuibu ya?

      Hapus
  3. Tahun ini tempatku perayaannya rame, Mbak... beda sama tahun lalu
    Lomba buat anak kecil sampai orang tua, ada
    terus hari Sabtu besok juga ada karnaval...

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah rame banget dong ya? di sini nggak ada apa-apa tuh :(

      Hapus
  4. "memberikan semangkuk sayur pada rumah sebelah"

    jadi ingat ibu saya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ibunya pasti suka bagi-bagi sama tetangga ya ?

      Hapus
    2. Mau dong jd tetangganya
      Hehehe

      Hapus
  5. Hmmm, tadi ada perayaan 17 an di RT saya. Lomba anak-anak. Tapi ya gak seseru jaman dulu sih.

    BalasHapus

Halo, terimakasih sudah mampir di JurnalSaya. Satu komentar Anda sangat berarti bagi saya.
Semua komentar dimoderasi ya. Komentar yang berisi pesan pribadi akan saya anggap spam.
Oiya, tolong jangan tinggalkan link hidup di badan komentar. Kisskiss

© JurnalSaya
Maira Gall