Wednesday, September 7, 2016

MEMBACA AYAT AYAT CINTA 2 : BAGUS SIH, TAPI...

resensi-ayat-ayat-cinta-2

Kira-kira satu dekade lalu (atau lebih) Habiburrahman El Shirazy datang ke daerah saya. Mengadakan semacam jumpa fans sekaligus bedah buku Pudarnya Pesona Cleopatra. Saya datang ke acara itu. Saya antusias sekali waktu itu. Kang Abik itu pernah menjadi novelis paling favorit saya karena Ayat Ayat Cinta yang fenomenal. Saya ingat novel laris itu menjadi titik balik kebangkitan para santri. Setelah Ayat Ayat Cinta menjadi best seller di mana-mana, santri-santri (dan penerbit-penerbit) lain latah menelurkan novel bergenre serupa. Ada satu masa ketika novel bergenre islami (dan sebagiannya memiliki sampul bergambar wajah close up perempuan bercadar bermata indah, yang cuma kelihatan sepasang matanya) berjajar memenuhi satu baris rak di toko buku.

Sangat pantas jika Ayat Ayat Cinta menjadi trendsetter. Usai membacanya, saya banyak meredefinisi persepsi saya mengenai islam. Saya jadi bangga menunjukkan identitas islam saya ; tidak malu mengenakan jilbab. Saya ikut-ikutan menulis cerita yang tokoh sentralnya muslim banget ; padahal sebelumnya saya selalu menulis cerita abege yang tidak melibatkan agama. Iya, segitu berpengaruhnya novel Kang Abik pada pola pikir saya. FYI, kala itu saya masih SMP. Satu lagi yang saya sangat suka dari Ayat Ayat Cinta ; settingnya Mesir banget. Saya membayangkan Mesir dengan sangat jelas selama membacanya.

Kemudian saya membaca Pudarnya Pesona Cleopatra. Sampul bukunya didominasi warna hitam, terdiri dari dua novel pendek. Yang pertama berjudul Pudarnya Pesona Cleopatra, saya suka bagaimana Kang Abik bercerita melalui sudut pandang orang pertama hingga si tokoh utama itu tidak diketahui namanya. Novel pendek kedua saya lupa sama sekali.

Kemudian saya menonton film Ayat Ayat Cinta. Film bergenre islami yang pertama kalau tidak salah. Film Hanung itu membuat banyak orang berjilbab yang tidak pernah menginjakkan kaki di bioskop akhirnya berbondong-bondong menonton layar lebar. Tapi sayang sekali, saya tidak suka filmnya.

Enough for Ayat Ayat Cinta season 1. Setelah itu saya tidak lagi mengikuti novel-novel Habiburrahman El Shirazy. Saya sempat membaca Dalam Mihrab Cinta dan Bumi Cinta, tapi saya tidak ingat siapa tokohnya atau bagaimana ceritanya. Yang saya ingat saya sudah bosan dengan cerita-cerita sejenis.

novel ayat ayat cinta 2

Then I found Ayat Ayat Cinta 2, beberapa pekan lalu, milik seorang sepupu. Cetakan pertamanya November 2015, sedangkan buku yang saya baca cetakan keenam Desember 2015. Termasuk novel laris, kalau begitu. Bukunya tebal, saya perlu tiga hari untuk menamatkannya.

novel islami terlaris

SPOILER ALERT : Paragraf berikutnya mungkin akan berisi penggalan cerita. Well, I’ve warn you.

novel pembangun jiwa

Membaca bab-bab awal Ayat Ayat Cinta seri kedua, jujur saya, membosankan. Alurnya terasa lambat. Seperti disuruh membuntuti Fahri sepanjang hari tanpa boleh melirik ponsel. Dan novel ini rasanya too much Fahri-sentris. Iya sih, Fahri peran utamanya. Tapi kok ya...

novel perjuangan islam

Well, mungkin saya yang mulai jengah pada karakter Fahri yang kelewat sempurna. Selalu baik pada siapa saja, sholeh luar biasa, cerdas setinggi langit. Too good to be true lah. Saking sempurnanya malah justru terkesan sok sholeh, sok baik, sok cerdas. Begini ya, (ini opini saya sendiri, tidak ada aturan tertulis atau dalil resminya) karakter utama itu kan harusnya punya problem rumit yang penyelesaiannya perlu memeras otak perasaan hati dan emosi. Harusnya pembaca memahami niat karakter utama sehingga selalu stand by him/her ‘till the end. Saya tidak bisa bersimpati sama sekali pada Fahri. Fahri di sini justru menjadi solusi bagi masalah yang dihadapi karakter lain. Kalau saya ada di dalam Ayat Ayat Cinta 2 , saya akan menjadi antagonis yang menganggap Fahri sok pahlawan.

testimoni pembaca ayat ayat cinta 2

Orang kampung mana yang menjadi doktor di Oxford, hafal qira’ah sab’ah, serta kaya raya sehingga tidak segan membelikan rumah untuk seorang nenek-nenek tetangganya ? Kalau ada, beritahu saya. Dan, kenapa Fahri selalu dikelilingi perempuan cantik ? Mari kita absen : Nurul, Noura, Alicia, Maria, Aisha di novel pertama ; Keira, Brenda, Heba, Joo Suh, Hulya di novel kedua. No need to mention Sabina karena ia adalah Aisha (not a surprise, saya yakin banyak pembaca yang sudah menebaknya).

Masih soal Fahri-sentris. Does it make sense Fahri selalu menang di dua debat yang ia ikuti, even oposisinya adalah profesor slash guru besar ? Masuk akal sih, karena Fahri tokoh utamanya. Di kedua debat itu, oposisi Fahri hanya bicara dua atau tiga paragraf sedangkan bagian Fahri memakan berlembar-lembar halaman. Tentu saja Fahri yang menang.

And then, akhirnya Fahri menikah dengan Hulya atas saran Sabina. De javu nggak sih ? Sama seperti ketika Fahri menikahi Maria atas keikhlasan Aisha. Lalu akhirnya Maria meninggal. Hulya juga meninggal. You know what ? Ketika saya membaca karakter Hulya, yang ada di benak saya adalah Chelsea Islan. Mungkin karena keseringan lihat wajah cantik si Chelsea berseliweran di konter smartphone. LOL.

hukum meminta dalam islam

Too much Fahri di tulisan saya ya? The point is, novel ini tidak berkesan bagi saya. Masalah Israel segala macam yang dikedepankan juga tidak merekonstruksi mindset saya. Tapi jangan salah, saya bukannya mengkritik atau apa. Kang Abik masih one of my favourites.
Ada dua pernyataan Fahri di dalam Ayat Ayat Cinta 2 yang saya suka. Pertama, ketika Fahri membela Sabina di depan masjid. Katanya, “masih beruntung dalam deritanya dia masih teguh memakai jilbab, artinya masih teguh memegang islam. Maih beruntung dia minta-minta di halaman masjid, artinya minta pada pada keluarganya sendiri”. Kedua, ketika Fahri pulang dari mengantar makanan untuk nenek Catarina. Katanya, “..membiarkan tetangga kita perutnya sakit karena lapar, sementara kita tidur kenyang. Itu sebuah dosa sosial”. Kalimat itu seperti mengintrogasi saya, "berapa banyak orang kelaparan di sekitar saya yang saya tidak tahu?". Mengajarkan saya arti gotong-royong yang sesungguhnya.

dosa sosial adalah

Last words dari saya, kalau Ayat Ayat Cinta 2 difilmkan please jangan membuat adegan Rianti Cartwringht dan Chelsea Islan cemburu-cemburuan seperti di film pertama. Adegannya basi. Tapi saya pengen lihat adegan Fedi Nuril, Chelsea Islan, dan Kimberly Ryder main biola bareng (saya memvisualisasikan Keira dengan Kimberly). Dan jangan bilang Semarang itu Edinburgh.

cast ayat ayat cinta 2

Ada yang sudah membaca Ayat Ayat Cinta 2 ? Let me know your thougts by lefting a comments here ^_^

19 comments

  1. Belum baca, yang pertama pun belum hehe. Mungkin Fahri itu khayalan penulisnya utk Setiap lelaki di bumi ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin juga ya..
      Btw, makasih udah mampir.

      Delete
  2. Emm, aq baru baca dari sinopsis yg spoiler alert banget. Dari baca2 gtu doang aja aq udah merasa kecewa. Huks. Serasa gak rela sih fahri nikah lagi. Why oh why???

    ReplyDelete
  3. Baru baca sepertiga dan sudah jenuh :(
    Penokohan fahri yg terlalu sempurna penyebabnya hahaha

    ReplyDelete
  4. Wooow lengkaaaap. Aku suka aku suka. Sekalipun belum baca bukunya LOL. Waktu baca yang pertama sih suka banget. Meski emang sih, Fahri kelihatannya sempurna banget, tapi tetep aja suka. Tapi aku juga kurang suka dengan filmnya yang terkesan gimana ya, haa gitudeh, tidak menarik pokoknya.
    Mau baca yang kedua, eh kok jadi mundur setelah baca review ini haha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huum saya jg suka banget yang pertama.
      Jangan mundur dong,, ayo baca juga πŸ˜ƒ

      Delete
  5. Aku bacanya yang Ayat-ayat Cinta 1. Sempat suka dan amaze sama sosok Fahri tapi emang terlalu darama queen, ya. Apalagi abis itu banyak novel yang tipenya ga jauh beda sama novelnya Kang Abik ini. Tapi sisi positifnya sejak AAC ini minat baca saya semakin bertumbuh dan doyan hunting novel. Dulu jaman kuliah modalnya pinjem aja, karena uangnya pas-pasan hahaha

    ReplyDelete
  6. Akhirnya ada juga tulisan yang dengan jujurnya menggambarkan opini saya, hehe... Saya baca ini waktu masih dalam bentuk fotokopian transkrip mentah, saya juga minjem, krn kebetulan orang yg dekat sama saya salah satu endorser di buku tadi.

    Yang saya suka dari AAC 2 mungkin hanya wawasan keislaman yg ditulis di dalamnya juga tentang toleransi beragama. Cerita keseluruhan flat dan terlalu mudah ditebak endingnya. Yang agak bikin geli sebenarnya tentang transplantasi wajah. Secara medis itu memang ada, tapi ya gak akan sempurna sampai mirip dengan pendonornya. Yah, namanya juga cerita :D

    Kalau kata penulis yang saya kenal, cerita fiksi yang kita tulis, secara tidak langsung bisa menggambarkan mimpi-harapan, ketakutan, kepribadian dan pemikiran si penulis itu sendiri. Mungkin fahri dan apa yang terjadi pada fahri menggambarkan keinginan terdalam seorang Kang Abik? Begitujuga sosok2 lelaki sempurna di novelnya yg lain... :D

    maaf kepanjangan... ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, kita sependapat 😊
      Memang, ada harapan penulis di setiap tulisan yang ditulis

      Delete
  7. Saya belum baca nih AAC 2, setelah baca ulasan mba Virly malah jadi pengen banget baca. Pengen tau sendiri seperti apa penokohan Fahri di buku ke 2. Soalnya even sejak AAC 1 saya udah mikir ini si Fahri kayanya 'too perfect to be real' deh hehehe.. Thanks sharingnya ya mba :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayuukkk bacaa..
      Thanks for stopping by yaaa πŸ˜„

      Delete
    2. Ayuukkk bacaa..
      Thanks for stopping by yaaa πŸ˜„

      Delete
  8. Saya baru baca novel AAC 1 lalu liat filmnya agak gmn gtu dan baca review ini jd ga minat baca yg ke2 hahaha salam kenal mba suka reviewnya 😍

    ReplyDelete
  9. Udah baca..sya suka sma novel kang Abik soalnya ga cuma ttg cerita aja tp banyak wawasan keislamannya, trus yang paling msh kbyang itu ketidakrelaan saya sma Fahri yg menikahi hulya emang sh sya jg sudah nebak klo Sabina itu Aisha ah pokonya ga rela.. so sad bgt jadi Aisha.. dan pda intinya alurnya Sama aja kya AAC 1 ga terlalu kaget..dan di awal cerita membosankan makanya sering saya loncat bacanya baru halaman2 akhir bacany anteng ga lompatπŸ˜‚

    ReplyDelete

Halo, terimakasih sudah mampir di JurnalSaya. Satu komentar Anda sangat berarti bagi saya.
Semua komentar dimoderasi ya. Komentar yang berisi pesan pribadi akan saya anggap spam.
Oiya, tolong jangan tinggalkan link hidup di badan komentar. Kisskiss

© JurnalSaya
Maira Gall