Friday, September 23, 2016

MUSIC NEVER DIES


Who doesn’t love music, ya nggak ? Dari anak bayi sampai oma-oma suka. Suka dengerin musik, suka nyanyi juga. Tentu aliran dan genrenya berbeda. Anak bayi suka musik yang tenang, lullaby, atau lagu bermain. Anak abege suka lagu galau. Orang dewasa suka.....macam-macam tergantung selera. Oma-oma suka.....lagu kenangan, mungkin ? Tapi tetap saja, everybody enjoys music. Bahkan ada yang bilang, musik adalah bahasa paling universal.


Saya juga suka musik. Suka nyanyi sendiri kalau lagi mandi (eh, sekarang nyanyi berdua sama Uprin). Suka mendengarkan musik sambil nulis (ini penting banget, kalau mutar lagu galau+mood lagi galau juga, bisa nulis berhalaman-halaman tapi isinya galau semua ! hahaha, nggak penting).

Waktu kecil, saya mendengarkan musik lewat tape, pakai kaset yang modelnya vintage itu, yang saya yakin anak zaman sekarang nggak ngerti itu benda apa. Koleksi kaset tape saya banyak banget. Semuanya lagu anak-anak tentu saja. Dulu ‘kan lagu anak-anak banyak. Dan seingat saya, di zaman kejayaan kaset tape nggak ada tuh pembajakan. Istilah ‘kaset bajakan’ nggak pernah dengar ‘kan? Yang ada vcd/dvd bajakan. Itu satu masa sesudahnya. Mungkin karena CD original harganya relatif mahal, dan tidak ada videonya. Bagi sebagian konsumen, mendengarkan lagu atau musik kurang lengkap tanpa video clip. Jadilah mereka membeli vcd bajakan, yang harganya hanya sepertujuh dari CD originalnya, ada gambarnya juga.

Saya ingat pada masa keemasan CD fisik ini, penyanyi sukses atau tidak diukur dari berapa banyak penjualan CD albumnya. Apakah mendapat dobel platinum atau tripel platinum atau 4x platinum. Albumnya Peterpan yang Bintang Di Surga dulu mendapat 4x platinum kalau tidak salah. Saya masih punya CD nya, hahaha.

Lalu penjualan CD menurun perlahan. Penyanyi tidak bisa mengandalkan penjualan CD album sebagai sumber penghasilan. Ada yang namanya ring back tone, atau nada sambung pribadi pengganti tut tut tut pada tanda panggilan tersambung. Ssttt...pilihan lagu untuk nada sambung ini biasanya ungkapan perasaan si pemilik. Biasanya lho ya, karena sering juga pemilik memilih lagu yang sedang promo a.k.a gratisan. Nah, dari penjualan nada sambung pribadi ini si artis juga mendapat bagian royalty.

Kemudian seiring perkembangan jaringan komunikasi, semakin jarang orang menelpon, apa-apa email apa-apa chat. Semakin jarang juga orang menggunakan nada sambung pribadi. Saya juga sudah lama nggak pakai, yang nelpon juga paling-paling kurir ekspedisi mau ngantar paket. LOL !

Sekarang era digital, penjualan album pun melalui toko digital. Yang dibeli pun bukan berupa CD fisik, tapi file lagu. Atau streaming. Pernah dengar Melon ? Ini salah satu penyedia layanan lagu digital. Klik saja My Playlist di sidebar blog saya lalu pilih paketnya. Harganya sangat ramah kantong, mulai dari Rp.3.500,- bisa streaming lagu sepuasnya.

review melon lagu digital



(ADV)

1 comment

  1. Tapi kadang2 saya rindu dengar lagu pake CD atau kaset. *hahaha ketahuan deh jamannya*

    ReplyDelete

Halo, terimakasih sudah mampir di JurnalSaya. Satu komentar Anda sangat berarti bagi saya.
Semua komentar dimoderasi ya. Komentar yang berisi pesan pribadi akan saya anggap spam.
Oiya, tolong jangan tinggalkan link hidup di badan komentar. Kisskiss

© JurnalSaya
Maira Gall