Sabtu, 10 September 2016

QUALITY TIME TANPA GADGET

quality time tanpa gadget

Mari kita samakan definisi quality time untuk tulisan ini. Waktu yang berkualitas berarti sejumlah masa, dihitung dalam satuan detik/menit/jam yang dihabiskan bersama anak dengan melakukan kegiatan positif tanpa melibatkan gadget. Oke, itu definisi quality time bersama anak dalam artikel ini. Indikatornya jelas : melakukan kegiatan positif dan tanpa gadget. Kenapa harus tanpa gadget ?
Ya karena kalau melibatkan gadget, si anak pegang gadget sendiri, si emak juga pegang sendiri, walaupun menghabiskan waktu bersama duduk berdampingan 25 jam sehari juga tidak ada bekasnya. Setuju ?

gadget

Saya lupa pernah baca di mana, ada seorang ibu yang sedang merintis bisnis online shop. Setiap hari dia memegang smartphone, setiap saat, in every single minutes. Nah, si ibu ini punya batita. Yang namanya batita kan suka rusuh ya, nggak bisa lihat ibunya bekerja dengan tenang. Jadi supaya si batita anteng, diberikanlah tablet untuk si batita menonton video lagu anak-anak. Sesuai harapan sang ibu, si batita anteng sekali ketika memegang gadget. Sang ibu bisa bekerja dengan tenang, dan online shop pun menjadi besar.

Singkat cerita, beberapa tahun berlalu. Si batita kini menjadi balita. Masih suka menonton video. Hafal banyak lagu anak-anak berbahasa Inggris. Bangga dong ya, punya anak masih piyik sudah lancar menyanyi bahasa Inggris. Akan tetapi, katanya si balita mengalami keterlambatan bicara. Lho kok ? Kan sudah bisa menyanyi bahasa Inggris ?

Keterlambatan bicara atau speech delay merupakan gangguan tumbuh kembang anak yang ditandai dengan berkembangnya kemampuan berbicara anak namun tidak sesuai dengan tahapan tumbuh kembang. Pada anak berusia lebih dari dua tahun biasanya ditandai dengan : tidak dapat mengikuti perintah sederhana, tidak dapat mengucapkan kata-kata, tidak dapat menyebutkan kata benda di sekitarnya, dsb. (Mengutip Wikipedia)

Well, saya juga baru tahu hal itu. Konon, mengobati masalah terlambat bicara pada balita ini sulitnya bukan main. Perlu ketelatenan sang ibu, dukungan materil yang tidak sedikit, serta dukungan moril dari seluruh keluarga.

Sebegitu besarnya dampak gadget pada anak-anak. Saya yakin banyak ibu-ibu lain yang mengalami hal serupa. Uprin saya juga mulai kecanduan smartphone, dia suka sekali menonton video selfienya sendiri. Dalam sehari bisa berjam-jam anak bersama gadgetnya. Memang efektif membuat anak kecil –terutama balita- anteng, tapi ya itu tadi, akibatnya luar biasa.

Sekarang, saya membatasi Uprin memakai smartphone. Kalau cara saya : unduh gambar badut serem, saya jadikan wallpaper. Uprin takut lihat gambar badut itu, jadi dia tidak lagi merengek minta ponsel (saya nggak tahu ya, kalau teknik memakai gambar badut itu nanti ada efek sampingnya, itu teknik jangka pendek saja).

Beberapa bulan lalu kami-saya dan Uprin- hidup tanpa smartphone, berbulan-bulan. Kami bisa lho J Bahkan kami punya banyak quality time berdua. Ketika kami liburan, kami benar-benar menikmati aktivitas berlibur. Tanpa smartphone, saya nggak melulu jeprat jepret foto selfie. Uprin nggak minta nonton video di sepanjang perjalanan, dia menyanyi sendiri sesukanya. Saya nggak perlu repot mencari colokan karena baterai smartphone sudah bertanda merah. Kami berenang bersama tanpa drama foto-fotoan atau ponsel kecemplung kolam. Kami bermain macam-macam tanpa gangguan aneka notifikasi. Kami saling memakaikan lipstik lalu tertawa bersama karena berantakan semua. Lalu mandi bareng, membuat busa banyak-banyak. Sampai akhirnya kami capek dan bobok bareng tanpa perlu melirik  smartphone. Sangat menyenangkan sebenarnya, tapi tanpa smartphone saya jadi merasa kudet (dan kangen ngrumpi bareng bestie).

quality time bersama anak
Gambar pinjam pixabay

That’s the point. Menghabiskan waktu berkualitas bersama anak (apalagi yang masih balita) itu mudah. Ajak anak bernyanyi, bermain, berjoget, atau beribadah bersama. Atau melakukan berbagai permainan konyol yang terpikir oleh anak. Memang konyol sih, Uprin kadang meminta saya naik sepeda roda tiganya sedangkan dia yang mendorong (tidak usah dibayangkan saya naik sepeda roda tiga!).

Jadi, mari kita simpan gadget masing-masing, lalu bermain bersama anak-anak. Mereka tidak akan menjadi anak-anak selamanya, kenapa tidak kita penuhi masa kanak-kanaknya dengan banyak quality time ?


PS : Tulisan ini juga bagian dari #CollaborativeBlogging. Baca tulisan mbak Maria dan Ade. Baca juga postingan kolaborasi saya sebelumnya dengan tema Usia, Gagal Paham, Indonesia, dan Nikah Muda.

13 komentar

  1. aduh...ngakak lagi...

    mak, kalo jaman sebelumnya anak dibesarkan ibu tiri yang bernama televisi, sekarang ibu asuhnya bernama smartphone atau tablet ya.

    beda nama tapi dampak sama. kayak ujian akhir aja yang gonta-ganti nama tapi esensinya sama: bikin sakit kepala. hahaha... (eh, ini kenapa komen pake rima ya?)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aduh..ngakak mulu...
      Bener juga lho mbak, gadget sekarang sudah ibarat ibu asuh 😅

      Hapus
  2. Asyiknya Uprin.... hahaha. Seru yaaaaa...
    Gadget bikin anak telat bicara?
    Iya bener.
    Dua anak saya juga terlambat bicara.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seru tapi ngeselin juga kadangkadang. Hahaha..
      Terus gimana mbak mengatasinya?

      Hapus
  3. PR banget emang di era gadget sekarang. Saya sendiri masih suka tergoda main gadget depan anak >_< Tapi ga pengen kelak anak jadi maniak gadget hiks. Smoga bisa memberi teladan nantinya :')

    BalasHapus
  4. Wah..makasih mbk virly sdh d ingatkan mb

    BalasHapus
  5. Halo, salam kenal mbak :) Emang asik ketika lupa gadget ya mbak, jadinya keterusan, dan bahagianya lebihhhhh.. Sebaliknya, gadget mulu, jg bikin ketagihan :) Tapi beda efek, kadang penat di kepala, haha

    BalasHapus
  6. alhamdulillah, anakku gak doyan gadget, palingan anakku dapat jatah megang gadget pas suami libur di hari jumat ... buat nonton video heavy equipment ... itupun klo liburan di rumah thok ... seringnya pas liburan itu main2 outdoor, keringetan, kena panas dsb

    BalasHapus
  7. Memang sulit lepas dr hp, tapi saat sdh masuk rmh saya lepas dr urusan kantor yg ada di handphone. Ternyata ngaruh juga ya ke perkembangan bicara anak.

    BalasHapus
  8. Jaman sekarang susah lepas dari HP, tapi bukan berarti enggak bisa. Dibikin perjanjian antara ortu dengan anak juga bisa Mba. Kalau saya sedang main dengan ponakan, saya betul-betul tidak menyentuh HP, begitupun mereka. Nanti kalau sudah selesai main, baru boleh memakai HP ^_^.

    BalasHapus
  9. Iya banget, matikan hape deh kalo mau fokus ma anak

    BalasHapus
  10. Hihi Iyo banyak emak yang kasih anak tablet biar anteng..

    BalasHapus

Halo, terimakasih sudah mampir di JurnalSaya. Satu komentar Anda sangat berarti bagi saya.
Semua komentar dimoderasi ya. Komentar yang berisi pesan pribadi akan saya anggap spam.
Oiya, tolong jangan tinggalkan link hidup di badan komentar. Kisskiss

© JurnalSaya
Maira Gall