Jumat, 02 September 2016

SAYA KEPINGIN JADI VAMPIR SAJA

usia, vampir

Waktu masih SD, saya pengin buru-buru masuk SMP. Setelah berseragam biru-putih, saya ingin cepat-cepat memakai seragam putih-abu-abu. Saya ingat dulu (waktu masih SMP) menganggap murid SMA itu keren, sudah gede, seperti di TV-TV dan seperti di cerita-cerita novel (waktu itu bacaan saya teenlit). Hingga kemudian saya jadi murid SMA, ternyata rasanya
biasa saja. Padahal awal masuk saya antusias sekali. Sekolah saya lumayan, teman-teman saya baik, nilai saya bagus. Tapi ya, hanya itu. Menjadi anak SMA tidak sekeren yang saya kira.

Lalu saatnya masuk kuliah, yang kata orang merupakan “gerbang menuju hidup sesungguhnya”. “It would be nice”, pikir saya waktu itu. Tidak ada yang istimewa juga. The best thing yang saya dapat dari fase kuliah adalah bestie, best girl I could ask for. Bukan teman yang sekedar haha hihi atau touring kemana-mana, tapi teman yang tahu jatuh bangun saya dan tetap stay with me even when I was wrong.

Saya 25 sekarang. 25 isn’t just a numberit’s an age. Taylor Swift sudah punya 5 album saat berusia 25. Emma Watson sudah lulus dari Brown University di usia 25 tahun, sudah menjadi aktivis pendidikan perempuan juga. Kristen Stewart jadi ambassador Chanel sebelum berusia 25. Dian Pelangi sudah menjadi desainer papan atas di usia 25. Lah saya ? Nobody. Saat yang lain sudah menapaki tangga menuju impian mereka, saya masih mencari cara mewujudkan mimpi saya yang tertunda sekaligus merakit mimpi-mimpi baru yang lebih realistis.

25 isn’t just a number. It’s a sign. Tanda usia mulai tua. Tanda beban hidup bertambah berat. Tanda fine lines start showing. Kalau dulu saya ingin cepat-cepat dewasa, sekarang saya takut menjadi tua. Setiap kali melihat cermin, saya melihat kerutan di sekitar mata saya mulai terlihat, kerutan di garis senyum makin kentara. Rasanya seperti mendengar cermin di depan saya tertawa mengejek, “ih sudah tua ya? Sudah jadi apa ?”. Kalau sudah begitu, yang ada di otak saya hanya tiga.

Pertama, saya ingin bertemu Doraemon untuk meminjam mesin waktunya. Saya ingin kembali ke masa muda saya dulu, tidak masalah masa muda saya biasa saja. When I was young, masalah-masalah saya sepele, solusinya efisien. Besok pagi ada ujian, malamnya buat contekan belajar. Pegal waktu upacara, pura pura pingsan jongkok sebentar. Dilabrak anak kelas sebelah, labrak balik minta maaf baik-baik. As simple as that. Tapi Doraemon hanya tokoh fiksi.

Kedua, terbang ke Forks mencari Edward Cullen untuk minta digigit supaya menjadi vampir. Kalau saya vampir, saya akan muda selamanya. Saya tidak perlu takut wajah saya menjadi keriput. Saya jadi punya waktu selamanya untuk mewujudkan semua impian saya. Kalau saya vampir, saya akan terlihat cantik. Di dunia ini, menjadi cantik berarti membuka semua pintu. Semua kesempatan terbuka untuk mengejar cita-cita. Sayangnya, Edward Cullen sudah tamat.

Ketiga, saya berharap dapat menghentikan waktu.

Mustahil, I know. Setiap detik waktu berjalan, tanpa hari libur. Berapapun usia kita, masalah selalu datang. Alih-alih bersedih karena bertambah tua, we should menua dengan tenang. Bagaimanapun juga, mau atau tidak, setiap kita akan bertambah usia.

Merasa insecure ketika menyadari usia tidak lagi muda sementara banyak impian belum terlaksana itu wajar. Sewajar tersenyum ketika tidak sengaja teringat saat-saat menyenangkan di masa lalu. Lalu menyadari bahwa the past is in the past, bagus diceritakan namun tidak ada gunanya diingat-ingat.

Berapapun usia kita, bersyukurlah kita masih diberi perpanjangan usia.
7 tahun, bermainlah sepuasnya.
13 tahun, tekuni minat sedalam-dalamnya.
15 tahun, mulai gunakan basic skincare.
18 tahun, have fun with your friends.
22 tahun, pergilah ke tempat-tempat baru.
25 tahun, kumpulkan banyak uang.
30 tahun, rayakan hidup.
40 tahun, 50 tahun, 60 tahun, perbanyak doa. Wenever know exactly when Izrail will come.


PS : Tulisan ini juga bagian dari #CollaborativeBlogging. Baca juga postingan kolaborasi saya pada tema Gagal Paham, Indonesia, dan Nikah Muda.

12 komentar

  1. 22 tahun, saya nikaaaah :D Ke tempat barunya Alhamdulillah sama suami hihi. Jangan jadi Vampirlah Mbak, lebih enak jadi manusia. Banyak temennya, banyak enaknya, banyak juga suka dukanya :v

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha,, banyakan dukanya deh ๐Ÿ˜„

      Hapus
  2. aduh aduh. yang muda-muda tulisannya lucu-lucu.

    25, saya baru nganggur di rumah cari kerja. hehe...

    ah, kita memang suka buang waktu ya. semoga keturunan kita ga seperti itu kelak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mumpung masih bisa lucu mbak. Hihihi...
      Amiin.

      Hapus
  3. Huhuhu...aku tertarik dengan judulnya.
    Ehm..lihat masa lalu dan aku merasa tidak memanfaatkan waktu dengan baik.

    BalasHapus
  4. Sangat menghibur mbak..manfaatkan masa muda sebaik2 nya y

    BalasHapus
  5. Now I'm 25. Mencoba membuat setiap detik di hidup saya jadi lebih produktif. Di usia 25 tahun ini, saya pengen nanti anak saya kukasih tahu bahwa emaknya dulu pernah nakal dan rebel, tapi bertanggung jawab sama hidupnya ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Rebel is good, with responsibility ๐Ÿ˜Š

      Hapus
  6. Kita hanya perlu belajar dari masa lalu, tanpa harus menyesali. Meski bukan apa-apa, buatlah berharga hidup kita untuk kita sendiri.

    BalasHapus
  7. Huah seru tulisannya....salam kenal ya, gie sekarang udah 27 dan sepertinya sudah lewat dhuhur klo diibaratkan dengan hari. Suka banget kata-kata menua dengan tenang :)

    BalasHapus

Halo, terimakasih sudah mampir di JurnalSaya. Satu komentar Anda sangat berarti bagi saya.
Semua komentar dimoderasi ya. Komentar yang berisi pesan pribadi akan saya anggap spam.
Oiya, tolong jangan tinggalkan link hidup di badan komentar. Kisskiss

© JurnalSaya
Maira Gall