Sunday, September 25, 2016

TENTANG KUTUKAN PENULIS, KEBETULAN, DAN FIKTIF BELAKA

resiko menjadi penulis, kutukan penulis

Beberapa waktu lalu, kami sesama penulis saling berbagi pengalaman di grup WA. Sebagian dari kami ternyata pernah mengalami “kutukan penulis”.  Apa itu? Jadi, itu semacam ujian di mana penulis mengalami sendiri apa yang ditulisnya. Seringnya sih pengalaman yang tidak menyenangkan ya, makanya disebut kutukan. Ujiannya dari siapa ? Dari Yang Punya Hidup lah!


Bisa diibaratkan seperti kutukan gaun Vera Wang, yang kabarnya siapapun yang menikah memakai gaun Vera Wang pernikahannya tidak akan bertahan. Apakah terbukti ? Well, tidak semua sih, tapi sejumlah selebriti yang menikah memakai gaun Vera akhirnya bercerai. Kebetulan. Bagaimanapun juga, gaun Vera Wang itu cakep-cakep pakai banget!

Back to kutukan penulis. Saya yakin juga kebetulan. Kebetulan kami penulis. Kebetulan kami menulis. Kebetulan kami mengalami sendiri. Kebetulan kami menyadari kami pernah menulis pengalaman itu sebelumnya. Kebetulan kami menyebutnya kutukan penulis.

PS : Istilah “kutukan” di sini hanya penyebutan lho ya, tidak ada kaitannya dengan kepercayaan manapun.

Lalu, apakah kami akan berhenti menulis atau hanya menulis yang baik-baik saja untuk menghindari kutukan ? Tentu saja tidak. Sssttt.... menulis yang baik-baik saja juga bisa kena kutukan. Misalnya, si A menulis “bersikap seperti milyuner” lalu beberapa waktu kemudian si A menjadi milyuner betulan, bisa tidak si A bersikap seperti yang ditulisnya ? See ? Menjadi milyuner itu juga kutukan. Lagipula, kalau penulis fiksi bagaimana caranya menulis yang baik-baik saja ? Ceritanya tidak asik dong ya ?

Bagaimanapun juga, setiap pilihan profesi ada resikonya. Kalaupun tidak mau menjadi penulis karena takut terkena kutukan, beralih profesi jualan gorengan juga beresiko terpercik minyak panas atau kompor meledak. Alih-alih khawatir dengan kutukan yang mungkin terjadi hanya karena kebetulan, mari kita menulis dengan hati ikhlas. Kalau kebetulan mengalami “kutukan penulis”, anggap saja sebagai ujian sebelum naik kelas.

Postingan ini hanya fiktif belaka, jika ada kesamaan peristiwa hanya kebetulan semata dan tidak direkayasa. Ralat : postingan ini bukan fiktif, tapi memang penuh dengan kebetulan. ^_^

PS : Tulisan ini bagian dari #CollaborativeBlogging
Baca punya Momaliza : Menghilangkan Trauma dalam Menulis

37 comments

  1. Kalo aku menganggap semuanya ga ada yang kebetulan sih Mbak :D Kalo soal resiko itu bener. Semua profesi pasti punya resiko. Termasuk seorang penulis. Bisa ga dia jadi seperti apa yang ditulisnya. Duh jadi berat deh ini pembahasannya :v

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau bukan kebetulan berarti apa ya? Takdir?
      Berat sama dipikul atuuhhhh 😁

      Delete
  2. jernih, padat dan jelas, mbak.

    tentunya menulis yang baik artinya yang bermanfaat ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aww, makasih 😊
      Iya, kan sebaikbaik manusia adl yg bermanfaat bagi sesama, kata guru ngaji saya.

      Delete
  3. Good or bad, saya pun terkadang ada mengalami kutukan penulis itu :D

    ReplyDelete
  4. Menulis berarti bisa diartikan catatan doa y mba klo baca ulasan mba ini :) bagi saya menulis yang bermanfaat jd reminder bwt diri sendiri untuk memproyeksikan sesuai dg yg saya tulis alias komit :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ummm, masak iya jadi doa ya? Nggak tau juga sih, karena menurut saya itu kebetulan.
      Self reminder juga,,

      Delete
  5. Belum pernah mengalami kutukan penulis, dan semoga takkan mengalaminya.. kecuali kalau nulis sesuatu yg baik dan ternyata terjadi, malah seneng bgt :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga kita semua dijauhkan dari hal-hal buruk, amiin.

      Delete
  6. Setuju Mba, setiap profesi ada resikonya.
    Sebisa mungkin tindak tanduk kita bisa bermanfaat untuk lingkungan di sekitar.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener banget, sebisa mungkin harus memberi manfaat.

      Delete
  7. Semua kembali ke niat menulis ya Mbak :)

    ReplyDelete
  8. Tentunya apapun yg terjadi dlm hidup kita tdk terlepas dari skenarionya😊 jd sebelum nulis yg 'serem2'berdoa dulu supaya nggak mengalami kutukannya hihihi

    ReplyDelete
  9. Saya belajar menulis hal positif. Kalaupun ada pengalaman pahit, ambil hikmahnya untuk dibagi sebagai pembelajaran bersama.

    helenamantra dot com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bagus ituuu, semua peristiwa diambil hikmahnya 😊

      Delete
  10. kutukan penulis yaa, memang terkadang apa yang kita tulis bisa jadi kenyataan sih, atau bisa saja apa yang kita tulis menjadi sugesti didalam diri kita dan akhirnya jadi kenyataan? :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Teori sugesti itu jg masuk akal. Makanya ada yang menganjurkan semua tujuan ditulis dg jelas πŸ˜‰

      Delete
  11. waah aku malah baru tau ada istilah kutukan penulis hihi

    Ray - www.rayditaa.com

    ReplyDelete
  12. Jadi inget penyanyi dan lagu yang dinyanyikannya, mba..

    Kl lagunya sediihh melulu, kejadianlah begitu.

    Jadi kesimpulannya, apa yang kita lakukan berulang-ulang...maka akan menjadi doa (yg bs jadi malah diijabah) Allah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jd intinya pengulangan ya? Thanks for sharing mbak 😊

      Delete
  13. wah jangan nakutin saya ah mbak, aku baru belajar menilis ini hehe

    ReplyDelete
  14. Makanya aku banyak nulis yang bermanfaat, agar tetap dalam kebaikan sih maksudnya, hehee

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak, terus nulis yang bermanfaat yaaa 😊

      Delete
  15. Ambil positifnya saja deh.
    Ustad yang suka menyampaikan kebenaran sering diuji sama tingkah laku anakya sendiri kok.

    Tetap semangaaaaaaattt

    ReplyDelete
  16. Ambil positifnya saja deh.
    Ustad yang suka menyampaikan kebenaran sering diuji sama tingkah laku anakya sendiri kok.

    Tetap semangaaaaaaattt

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huum, bahkan motivator jg diuji dg motivasinya sendiri kan yaaa *eh!

      Delete
  17. baru tahu ada istilah kutukan penulis, tahunya kutukan ibunya Malin Kundang doang. Piss, mba.......

    ReplyDelete
  18. aku masih penasaran sama kutukan penulis. Brarti krg lebih tulisan = perkataan ya? yg dikeluarkan adl doa, hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya serupa jg sih yaa,,, mungkin nggak melulu doa tp bisa jd kebetulan atau memang ujian 😊

      Delete
  19. Waduh. Gak kebayang kalau yang ditulis cerita horor. :( Kalau aku sih, percaya nggak percaya. Lebih suka menulis sesuatu yang non fiksi, atau menulis cerita yang memang pernah terjadi di kehidupanku. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau horor ngeri dong kalau jadi kenyataan 😁
      Makasih udah mampir mbak annisa ae

      Delete

Halo, terimakasih sudah mampir di JurnalSaya. Satu komentar Anda sangat berarti bagi saya.
Semua komentar dimoderasi ya. Komentar yang berisi pesan pribadi akan saya anggap spam.
Oiya, tolong jangan tinggalkan link hidup di badan komentar. Kisskiss

© JurnalSaya
Maira Gall