Saturday, October 8, 2016

BULLIES, SAYA SEBENARNYA BEREMPATI PADA KALIAN...

stop bullying

Pernah menjadi korban bully ? Sekarang masih hidup ? Selamat, Anda salah satu orang terkuat di dunia. Pernah dengar ‘kan ada ungkapan : if it doesn’t kill you, it makes you stronger. Jika pernah dibully dan survive, Anda akan menjadi orang yang lebih kuat dari sebelumnya.


Bully /’bulie/ kb. (j. –lies) penggertak, orang yang mengganggu yang lemah. –kkt. (bullied) menggertak, mengganggu. (Kamus Inggris Indonesia)

Kalau dipiki-pikir lagi, sebenarnya korban bully bukan orang yang lemah. Justru sebaliknya, para bullies inilah yang lemah. Coba perhatikan, pada setiap kasus bullying pasti si korban adalah orang yang stand out, memiliki kelebihan, atau memiliki pemikiran yang mengancam eksistensi pelaku. Pemikiran atau kelebihan si korban biasanya berbeda atau justru senada dengan yang dimiliki pelaku sehingga pelaku bullying merasa tertekan atau iri. Mengatasi rasa tertekan itulah kemudian pelaku mengganggu korban. Atau pada sebagian kasus bullying lain, pelaku mengganggu korban hanya untuk mendapatkan perhatian si korban. Aneh ? Mari kita lihat contohnya.

Contoh 1 : Ibu tiri mem-bully Bawang Putih karena takut kehilangan harta peninggalan suaminya jika Bawang Putih tidak tunduk kepadanya. Nyonya Bawang ini tahu diri, bahwa ia tidak punya apa-apa kecuali harta peninggalan Tuan Bawang. Ia juga tahu, bahwa pewaris harta Tuan Bawang tentu saja anak kandung Tuan Bawang yaitu Bawang Putih. Namun Nyonya Bawang juga punya anak kandung, si Bawang Merah. Ibu mana yang tidak mengutamakan anaknya, iya ‘kan? Jika Bawang Putih diperlakukan bak putri, besar kemungkinan Nyonya Bawang tidak kebagian warisan, yang berarti Bawang Merah tidak punya apa-apa di masa depan. Kita ‘kan tidak tahu bagaimana masa lalu Nyonya Bawang sehingga ia memperlakukan Bawang Putih begitu kejam sementara Bawang Merah dimanjakan.

Contoh 2 : Choi Young Do suka mengganggu Cha Eun Sang (di The Heirs) hanya supaya bisa dekat dengan Cha Eun Sang. Percayalah, Choi Young Do sama sekali tidak berencana mengganggu Cha Eun Sang. Sebenarnya yang ia rencanakan adalah menghampiri Cha Eun Sang, mengajak berjabat tangan, lalu mengatakan, “halo, saya Choi Young Do, saya tertarik pada Anda, dan penasaran, dan ingin menjadi teman dekat Anda”.  Namun tidak bisa. Ada yang namanya gengsi dan grogi bercampur menjadi satu. Dan Choi Young Do memiliki latar belakang yang kurang menyenangkan sehingga membentuknya menjadi pribadi yang seperti itu.

Contoh 3 : Senior cewek berbuat jahat pada murid baru (di banyak teenlit dan sinetron) karena murid baru tersebut cantik, menonjol, atau punya potensi menjadi populer. Sang senior merasa tersaingi. Ehm, pernah dengar pepatah “girls competeeach other, women empower one another”? Namanya cewek, pasti memiliki aspirasi menjadi pusat perhatian. Naluri mempertahankan posisi sebagai yang ‘ter’ itu alamiah. Terutama jika sudah terbiasa berada di bawah sorotan spotlight, tentu menjadi bayangan adalah mimpi buruk. Itu sebabnya jika ada perempuan lain yang dianggap saingan, bawaannya langsung ingin mengenyahkannya sesegera mungkin.

Contoh 4 : Adriana selalu berusaha mencelakai Reva (iya, di sinetron yang penuh adegan berantem sama balapan) karena belum bisa move on dari mantan pacar. Si Adriana merasa kalau posisinya di hati sang mantan sudah digeser. Nyesek nggak sih kalau lihat orang yang pernah punya cerita dengan kita punya kehidupan yang baik-baik saja dan bahagia sementara hidup kita sendiri membosankan dan porak poranda ?

Kok contohnya dari cerita fiksi semua ? Well, sebagian adegan pada cerita fiksi juga terjadi di kehidupan nyata ‘kan ?

Begini lho, para pelaku bullying yang selalu diidentikkan dengan karakter antagonis ini ‘kan tidak serta merta menjadi jahat. Mereka punya alasan mengapa mereka akhirnya terpaksa mem-bully para protagonis tadi. Mereka punya latar belakang yang sedemikian rupa sehingga memiliki karakter yang kurang disukai. Mereka hanya salah strategi sehingga mengambil tindakan yang tidak lovabel.

Kalau si Nyonya Bawang rajin bekerja dan memperlakukan Bawang Putih dengan penuh kasih sayang, atau Bawang Putih mengatakan “nanti harta peninggalan Ayah dibagi dua ya”, pasti Nyonya Bawang tidak jahat lagi. Kalau Choi Young Do bersikap cool, atau Cha Eun Sang mengatakan “hai, Young Do, kamu pengen jadi teman dekat saya? Kenapa ? Saya menggemaskan ya?”, pasti Choi Young Do tidak akan repot-repot mengganggu Cha Eun Sang supaya diperhatikan. Kalau si kakak senior pernah diajari untuk berlapang dada, atau si murid baru berkata “kakak senior, saya nggak akan sepopuler kakak kok”, pasti si kakak senior tidak akan berusaha mem-bully si murid baru.

Eh, kok malah saya pro bullies ya ? Nggak kok, saya hanya berempati. Menjadi pelaku bullying itu tidak mudah. Begitu memutuskan menjadi bullies, mereka harus siap menerima resiko dibenci. Kita juga tidak tahu apa yang sudah dialami para pelaku bullying itu sebelumnya ‘kan ?

PS : Tulisan ini juga bagian dari #CollaborativeBlogging. Baca tulisan mbak Witri : Bully.

18 comments

  1. Yap. Bullies itu pada dasarnya berawal dari iri ya. Mereka ingin apa yang mereka ga punya :))

    ReplyDelete
  2. Hmmm, yang namanya bully itu memang kadang nyebelin yak. Kasian ngeliat korbannya. Tapi sejauh mana perbuatan yang disebut bully itu yak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kasian juga sama yang bully,, disebut bully ya mengganggu, menyakiti fisik, atau mental

      Delete
  3. Kalau anak saya dibully karena dia anak baru.. waktu itu masih pendiam, pemalu, dan tdk pintar matematika. Nah... apa cb yg diirikan oleh para pembully itu dr anak saya coba...?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin anak2 yanh membully itu cari perhatian sama anak mbak.. Saya dulu pernah dibully gara2 jadi anak baru, btw 😊 stay strong

      Delete
  4. Sudut pandang yang unik tentang bullying.
    pada dasarnya bullying memang melukai psikis keduanya, pelaku dan korban.

    ReplyDelete
  5. saya pernah dibully, sekali waktu kecil dan sekali pas kerja kantoran, udah mama2 pula. Dan bener sih mba, pelaku bully itu ngebully krn gak nyaman, dia udah spuluh tahun di kantor gitu2 aja, trus saya masuk dan sebentar aja langsung naik, hehehe...

    ReplyDelete
  6. Kalo bunda di bully tahun 2009 tuh ketika hampir tiap malam keluar sore pulang malam karena harus ke Warnet. Gini nih selentingan bully-nya: "Apa aja sih kerjaan nenek-nenek itu keluarnya koq sore pulang malam?" hukhukhuk... tapi setelah mereka tahu kesibukan bunda, mereka akhirnya saluut koq sama bunda. Tak satu pun dari mereka yang bisa NGEBBLOG, yeeeayyy...

    ReplyDelete
  7. Heran kenapa ada org mampu membully org lain ya...
    Moga2 kita diauhkan dr sifat membully...

    ReplyDelete
  8. kalau dari buku yang pernah saya baca baik pelaku maupun korban memiliki konsep diri yang rendah yang akhirnya berkaitan dengan pengendalian diri maupun problem solving :)

    ReplyDelete
  9. lebih banyak memang orang membully karena dia iri dan merasa tidak puas dengan hidupnya sendiri. sebenarnya memang yg patut dikasihani si pem-bully hehehe..nice post mbak :)

    ReplyDelete
  10. Sering kali orang di bully bukan karena iri, tetapi karena kekurangan dia, misalnya seorang anak korban perceraian, hampir setiap hari dibully karena dia gk punya bapak. Saya yakin mereka gak ngiri sama yg dibully, tapi karena ah sudahlah.

    ReplyDelete
  11. tukang bulli biasanya dia tu gak mampu ngelakuin apa yg bisa dilakuin ama orang yg di bulli.. yaa intinya dia tu iri..
    Lapangan Futsal

    ReplyDelete
  12. asik, sudut pandangnya keren mbak :) pada intinya memang para pembully itu bererekspresi tanda tak mampu.Kalo mrk aja pake strategi, masa kita yg dibully (katakanlah begitu) ga mampu berekspresi, ya ga ? :D

    ReplyDelete

Halo, terimakasih sudah mampir di JurnalSaya. Satu komentar Anda sangat berarti bagi saya.
Semua komentar dimoderasi ya. Komentar yang berisi pesan pribadi akan saya anggap spam.
Oiya, tolong jangan tinggalkan link hidup di badan komentar. Kisskiss

© JurnalSaya
Maira Gall