Jumat, 11 November 2016

JIKA DIA SEORANG ABUSIVE

abusive relationship

Mudah sekali mengidentifikasi pasangan abusive, kalau tahu apa yang harus diidentifikasi. Paling mudah adalah mendengarkan nurani Anda. Jika Anda merasa tidak nyaman, tidak bisa berkata tidak, dan kehilangan kendali atas hidup Anda sendiri, sudah pasti Anda terjebak dalam abusive relationship.


PS : Kalau saya bilang ‘Anda’, yang sama maksud adalah ‘Anda’ perempuan. Saya selalu membayangkan pembaca JurnalSaya adalah perempuan-perempuan hebat.

Menjalin hubungan dengan orang yang abusive, sesungguhnya hanya buang-buang waktu, hati, dan hidup. Sungguh.

PS lagi : tulisan ini terinspirasi dari postingan Kak Icha dan Nahla kemarin.

Dia akan memaksa Anda menuruti semua kemauannya. Dan entah bagaimana caranya Anda akan mengikutinya. Dia akan membuat dinding tak kasat mata di sekeliling Anda sehingga orang lain tidak bisa menjangkau Anda. Dia akan memeriksa ponsel Anda lalu mengamuk jika menemukan call register atau pesan dari laki-laki lain, sekalipun itu atasan Anda. Dia akan memaksa untuk tahu password social media Anda, lalu besoknya semua orang berjenis laki-laki sudah diblok dari daftar teman Anda.

Dia membuntuti Anda kemanapun Anda pergi, bukan karena khawatir, tapi karena tidak ingin Anda lepas dari cengkeramannya. Jika pun Anda bisa pergi tanpanya, dia akan menelpon Anda setiap lima menit untuk menanyakan kapan Anda pulang, Anda bersama siapa, Anda sedang apa, terus menerus. Jika pun Anda segera pulang, dia akan menanyai Anda dengan sangat detail, apa saja yang Anda lakukan dari menit berapa sampai menit ke berapa, layaknya penyidik mengintrogasi tersangka.

Sekali waktu dia akan mengizinkan Anda berkumpul dengan teman-teman Anda, dalam pengawasannya. Kemudian dia menjelek-jelekkan keluarga Anda, teman-teman Anda, siapapun dalam lingkaran Anda, yang dia rasa tidak menyukai hubungannya dengan Anda. Which means, semuanya. Di depan Anda. Lalu Anda ingin membela orang-orang terdekat Anda, namun Anda tahu hal itu akan membuatnya semakin marah. Anda ingin menghindari konfrontasi, jadi Anda diam saja.

pasangan posesif
via pixabay

Anda semakin terkucil dari kehidupan sosial Anda yang dulu menyenangkan. Tentu saja, dia yang membuat Anda tidak memiliki kehidupan lain selain seputar dirinya. Dia sangat tahu, jika Anda bersama teman-teman Anda, Anda akan diperingatkan supaya meninggalkan dia. Karena dia tahu benar, orang-orang yang sangat mengerti Anda sebenarnya tahu Anda dalam masalah. Dia tidak ingin Anda dibantu. Dia tidak ingin kehilangan Anda.

Karena sebenarnya Anda sangat berharga baginya. Bagaimana Anda tahu? Bukankah dia selalu membangga-banggakan Anda di depan teman-temannya ? Dia bangga atas pencapaian Anda sebelumnya. Dia bangga pada apa yang Anda punya. Bukankah dia bangga mengumumkan bahwa Anda adalah miliknya ?

Namun tidak begitu ketika dia hanya bersama Anda. Dia mengkritik apapun yang ada pada diri Anda. Dia meremehkan segala yang telah Anda capai. Dia merendahkan kegemaran Anda dan mengagung-agungkan kegemarannya sendiri. Dia mengkritik cara berpakaian Anda. Menyuruh Anda berpenampilan sesuai seleranya. Anda mungkin dilarang memakai lipstik ungu yang sangat Anda suka. Anda mungkin dipaksa memakai sepatu datar padahal Anda rindu pada koleksi angkle boots Anda. Bisa jadi dia sedang membuat Anda tampak lusuh sehingga tidak ada lagi yang tertarik pada Anda.

Di hati terdalam Anda, Anda tahu ini salah. Anda mau melawan dan menjadi diri Anda sendiri. Namun dia berkata kasar dan selalu mementahkan kata-kata Anda. Menjadikan Anda merasa tidak berharga lagi.

Lain waktu Anda berani melawan, Anda berani berkata tidak. Kemudian dia mulai menyakiti Anda secara fisik. Lalu Anda menangis. Lalu dia memohon maaf pada Anda. Lalu mengulangi lagi besoknya. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Sampai Anda lelah berhitung.
Ketika Anda akhirnya sadar, Anda sudah berjalan terlalu jauh. Anda ingin kembali, namun jalan di belakang Anda bercabang banyak sekali. Anda berencana berlari ke belakang ketika dia lengah, namun dia tetap sejengkal di depan Anda.

Lalu Anda berniat juga berjalan ke depan mendahuluinya, memimpinnya. Namun jalan di depan Anda juga bercabang banyak sekali. Salah satu cabangnya menuju jalan keluar namun penuh dengan semak berduri. Salah satu yang lain merupakan jalan menuju labirin yang lebih rumit lagi. Sementara cabang-cabang lainnya tanpa petunjuk.

Anda tahu dia menjadi abusive karena merasa insecure. Anda merasa kasihan padanya, sebenarnya. Anda merasa harus membuatnya berubah. Namun Anda mengingat lagi perjalanan Anda. Anda melihat diri Anda. Anda tidak pantas dibegitukan. Hidup Anda terlalu berharga untuk disia-siakan bersama orang yang abusive.

Akhirnya Anda memilih berlari ke belakang. Berlari melalui cabang yang mana saja di belakang Anda. Meskipun panjang, berliku, dan membingungkan, Anda tahu cabang mana saja di belakang Anda akan menuju jalan keluar.

hubungan yang abusive
via pixabay

The day you leave him is the day you get back your own life.

Well, setidaknya Anda mendapat banyak hal untuk dipelajari.

10 komentar

  1. Yess, tinggalkan.. karena sia2 hidup di lingkaran orang seperti itu

    BalasHapus
  2. Aku pernah dekat dengan orang semacam ini, dan nggak enak bangeeeettt. Saat aku tolak dia, duh kelakuannya tak sampai deh kalau dipikiran orang normal macam kita. Sampai sekarang saja dia masih menghubungiku mbak. Aku bales sekedarnya saja. Setingnya malah tak cuekin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, cuekin aja. Semoga nggak ketemu yang begitu lagi ya 😊

      Hapus
  3. Aku termasuk yg suka abusive ke pasangan. Sometimes i act like a drama queen, hehehe. Untungnya ketutup sama sifat cuek n plegmatis, jadi abusivenya kalau lagi kumat aja dramanya, :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah iya ya? Semoga nggak kumat2 lagi ya? 😉

      Hapus
  4. Seremmm bangett ini mbakkk..aku jujur pernah nemu cowo yang kelihatannya bakal jadi abusive..baru pedekate aja nelpon mulu ga kenal waktu, ga sopan, saya ngutarain pendapat tentang sikap dia yang kurang sopan,malah berdalih dalih ada aja kalimat yg buat pembenaran..saya sampe kesel akhirnya saya block karena udah mengganggu hidup banget...sampai sekarang bersyukur doi ga pernah kontak lagi sejak saya cuekin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Udah tanda2 bakal abusive kalo itu.. Syukur nggak kontak lagi ya?

      Hapus
  5. Dulu aku pernah ngalamin di abuse sama mantan, dan seremnya ngga nyadar dan masih tetap mau sama dia... Alhamdulillah Allah sayang & membukakan mata aku, akhirnya ada kejadian yg lumayan bikin traumatik dan aku bisa lepas dari dia. Kadang, wanita yg di abuse suka ngga sadar, dan mikir bahwa laki2 itu bisa berubah, padahal sekali laki2 menyakiti perempuan, hal itu akan terjadi berulang...

    BalasHapus
  6. Betul. Tinggalkan saja laki2 seperti itu. Hidup kita terlalu berharga

    BalasHapus

Halo, terimakasih sudah mampir di JurnalSaya. Satu komentar Anda sangat berarti bagi saya.
Semua komentar dimoderasi ya. Komentar yang berisi pesan pribadi akan saya anggap spam.
Oiya, tolong jangan tinggalkan link hidup di badan komentar. Kisskiss

© JurnalSaya
Maira Gall