Tuesday, November 8, 2016

LESSON I LEARNED #1 : INTROVERT DAN SILATURRAHMI

introvert

Bagi yang berteman dengan saya di facebook (saya tidak punya fanspage, tidak ada yang ngefans juga. LOL) mungkin ngeh kalau beberapa hari terakhir saya sering posting paragraf-paragraf sok bijak. Bukan apa-apa, belakangan ini saya seringkali menyadari bahwa peristiwa kecil sehari-hari sebenarnya menyimpan banyak pelajaran. Mungkin dulu saya kurang peka, atau baru-baru ini saya kelewat sensitif. Yang mana saja lah. Tapi karena saya mempelajari hal baik, saya ingin membagikannya. Seperti visi JurnalSaya, spread the love and positive vibes.


Ceritanya, saya sedang mengikuti MUA class. Banyak sekali pelajaran yang saya dapat. Bukan hanya soal teknik atau pengalaman seru dengan klien, tapi jauh lebih banyak dari itu. Surprisingly, saya belajar banyak tentang hidup, networking, sampai persoalan mitos-fakta yang berkembang di sekitar. Sebelumnya saya tidak pernah tahu ada mitos bahwa pengantin tidak boleh didandani oleh MUA yang berstatus divorcee. Bukankah itu bentuk diskriminasi ? Alasannya, takut kalau nantinya si pengantin menjadi divorcee juga. Tidak masuk akal kan ? Ada juga mitos yang sangat dipercayai oleh banyak warga di satu desa ; pasangan pengantin tidak boleh mengenakan pakaian berwarna hijau neon muda. Alasannya : ya tidak boleh saja, pokoknya jangan sampai! Lebih tidak masuk akal.

Bagi yang ingin tahu, kelas yang saya ikuti mengharuskan peserta membawa model sendiri. Awalnya semua berjalan lancar. Saya punya model yang sudah setuju untuk saya kontrak selama saya mengikuti kelas. Ternyata itu cuma keberuntungan pemula. Baru tiga kali masuk, model saya tiba-tiba banyak acara. Tapi saya tidak bisa mundur hanya karena model saya mundur, ‘kan ? Bagaimanapun juga, saya harus menemukan pengganti. Bisa saja sih, merekrut model bayaran. Tapi tutor saya pernah bilang, “cari tetangga atau teman-teman”. Jadi saya yakin pasti ada pelajaran di balik “mencari model” itu.

Mencari teman di dunia nyata yang bersedia membantu bukan perkara mudah bagi introvert macam saya. FYI, saya nyaris tidak punya teman di dunia nyata. Serius. Teman-teman yang masih ada kontak dengan saya hanya beberapa teman dekat semasa kuliah dan beberapa teman sesama blogger. Padahal sebagian besar teman SD saya tinggal di desa yang sama dengan saya. Tapi saya memang bukan orang yang bisa mengobrol dengan semua orang.

Bukannya saya anti sosial, saya tersenyum ketika berpapasan dengan tetangga dan menundukkan kepala pada orang yang lebih tua. Saya orang yang menjawab setiap kali ditanya dan bertanya jika saya butuh jawaban. Bukannya saya tidak mau berbasa-basi, tapi saya merasa basi sendiri jika mengobrol tanpa tujuan atau menanyakan hal-hal yang tidak krusial.

Saya tidak bisa berbasa-basi, “mau belanja, mbak?” pada tetangga yang sedang berjalan menuju warung. Atau bertanya, “anaknya umur berapa?” pada ibu-ibu yang menggandeng anak balitanya di preschool. Atau tiba-tiba menyahut, “si anu anaknya pak nganu itu ya? Wah, kok belum dengar kabarnya ya?” pada rumpian yang sedang berlangsung seru di depan mata saya. Simply karena saya sudah tahu jawabannya, atau karena saya tidak ingin tahu jawabannya.

karakter extrovert dan introvert

Sesungguhnya saya iri pada orang-orang yang memiliki kemampuan berbasa-basi, yang bisa membaur dengan komunitas apa saja, yang dapat dengan mudah beradaptasi pada pergaulan baru tanpa mengurangi totalitas pada pergaulan lama, yang berteman semudah berjabat tangan.

Beberapa teman saya punya kemampuan itu. Ekstrovertnya luar biasa. Sangat alami. Temannya banyak, setiap kali melangkahkan kaki, ada saja yang menyapanya dengan nada akrab. Bukan karena dia cantik, pintar, atau kaya. Tapi karena dia mudah berteman, asik diajak mengobrol, dan pandai membawa diri. Sementara bagi saya, beradaptasi dengan orang-orang baru sama sulitnya dengan memasukkan bola basket ke ring. Which means : butuh perjuangan ekstra dan banyak gagalnya.

Tapi setiap orang memiliki kelebihan dan tantangan masing-masing ‘kan ?

Jadi itulah tantangan saya : berkomunikasi secara verbal pada orang-orang terdekat di dunia nyata. Percayalah, ada satu hari penuh yang saya habiskan untuk bertamu ke rumah-rumah tetangga, meminta salah satunya menjadi model saya. Dan hasilnya nihil. Alasannya kalau bukan “saya suka sebenarnya, tapi punya anak kecil” ya “saya sih mau, tapi tidak punya waktu”. Intinya tidak bersedia. Saya sudah hampir desperate sebenarnya, saking desperate-nya saya bahkan mencari orang via cyber. Saya benar-benar mencari. Saya scrolling instagram, search via map dan hashtag nama daerah namun tidak menemukan siapa-siapa. Tapi saya tidak boleh give up. Kalau saya tidak berhasil menyelesaikan tantangan yang terdengar sepele, bagaimana saya bisa naik kelas ?

Kemudian saya mendapatkan beberapa orang, bukan dari searching di social media atau mengetuk pintu demi pintu. Ternyata beberapa kerabat keluarga bersedia, seorang teman SD bersedia, dan seorang kenalan bersedia.

Meskipun usaha saya keliling kampung dan woro-woro di media sosial tidak membuahkan hasil, ada hikmah yang dapat saya ambil. Saya terhubung lagi dengan teman-teman lama. Saya mengunjungi sudut desa yang seumur-umur belum pernah saya lirik. Saya berbicara dengan orang-orang yang seumur-umur belum pernah saya sapa. Saya mengerti bagaimana cara berusaha. Saya mengerti arti kata silaturahmi. Saya mengerti implementasi gotong royong. Dan saya mengerti bagaimana caranya berbasa-basi.


Pada akhirnya, yang saya pelajari dari sesi ini adalah : berbasa-basilah, berbicaralah, bertemanlah, karena menjalin silaturahmi tidak ada hubungannya dengan sifat ekstrovert atau introvert ^_^

14 comments

  1. cerdas dan this is really and nyata....
    sukses selalu nok..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pak Anas ini? Aduh, terharu sekali dikomen sama bapak dosen paling baik di dunia ๐Ÿ˜Š
      Terimakasih Pak.

      Delete
  2. Aku dulu diem doang kl ketemu orang, bukan congkak bukan sombong, tapi malu hihihihi, malu & bingung ntar musti ngomong apa, jadi banyak yg bilang aku jutek & sombong. Untungnya punya suami yg extrovert beraaat, jadi bisa diimbangi sama suami :D kadang orang bilang don't judge a book by it's cover, kalau menurut aku don't judged by cover, tapi tetep boleh lah basa basi dikit ahahah #naooon

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama banget ya mbak, bingung kalo membuka percakapan ๐Ÿ˜Š

      Delete
  3. yap, mengalami sulit bergaul krna beberapa kali pindah di daerah tanpa kerabat. ntah saya tipe introvent dan extrovent tp ternyata klo ada kemauan (sedikit kepepet keadaan juga sih) mesti bisa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener banget,kalo kepepet jadi bisa semua ๐Ÿ˜…

      Delete
  4. Aku juga kaya gitu, Mbak. :) Aku suka gugup kalau berhadapan langsung sama orang. Padahal sering jadi pembicara di depan banyak orang.

    ReplyDelete
  5. saya jg mirip mbak, hehe,
    sya cenderung malas basa basi, apalagi kalo ga penting,
    eh iya MUA itu apa ya mbak?

    ReplyDelete
  6. Saya malah nggak kenal orang-orang di sekitar rumah lho, Mbak. Serius. Bukan karena introvert, tapi karena kegiatannya banyak di luar rumah. Saya tahu saya salah. Tapi memulainya gimana juga ya :))

    ReplyDelete
  7. Mbaa, aku walau keliatannya cerewet, tapi bisa jadi pendiam kalau nggak pede :)

    ReplyDelete
  8. Saya pun introvert dan cuma bisa bercerita ngalor ngidul dengan orang2 yang udah bikin nyaman dan pastinya mulut mereka nggak rombeng. Teman2 saya di keseharian memang pilihan, saya cuma berteman dg orang yang paham saling menghargai privacy masing2 :)

    ReplyDelete
  9. Aku tergantung sikon mbak, kadang jg khawatir dibilang sok akrab hehe
    Btw sukses buat MUA class-nya :D

    ReplyDelete
  10. aku ngerasa ekstrovert, but sometime i become introvert :(

    http://www.febtarinar.com/2017/01/hootd-at-parlor.html

    ReplyDelete
  11. aku enggak pny fans tp punya fanpage, siapa tau trs ada yg nge-fans hahahah *minta di keplak*

    akupun tau bgt ini rasanya susah basa basi apalg di real life huhu aku jd sering dikira sombong karena jarang basa basi, mana muka ku judes bawaan nya :s

    Ray,
    www.rayditaa.com

    ReplyDelete

Halo, terimakasih sudah mampir di JurnalSaya. Satu komentar Anda sangat berarti bagi saya.
Semua komentar dimoderasi ya. Komentar yang berisi pesan pribadi akan saya anggap spam.
Oiya, tolong jangan tinggalkan link hidup di badan komentar. Kisskiss

© JurnalSaya
Maira Gall