Kamis, 03 November 2016

VIRLY’S CHOICE : 5 NOVEL LAMA YANG MEMBUAT SAYA INGIN TRAVELLING

novel travelling

Setting tempat adalah salah satu unsur intrinsik yang jika dimanfaatkan dengan benar akan menghidupkan sebuah cerita. Bahkan pada sejumlah cerita, setting tempat menjadi karakter utama. Dengan kata lain, jika tokoh tidak berada di tempat itu, ceritanya tidak akan jadi seperti itu. Iya, begitu. Misalnya Titanic, kalau settingnya dipindah ke Laut Jawa, misalnya, tentu tidak akan menabrak gunung es lalu tenggelam. Misalnya lagi 5 CM, kalau setting gunung Semeru diganti menjadi gunung Muria, tentu adegannya tidak akan sedramatis itu. Atau pada Memoirs of Geisha, dari judulnya sudah bisa dipastikan settingnya memang harus Jepang.


Namun ada juga cerita yang menjadikan lokasi sebagai bumbu. Descendant Of The Sun misalnya, bisa saja setting Urk diganti negeri perang di Timur Tengah yang lain, dan ceritanya akan tetap sama. Atau pada Boys Before Flowers, di mana F4 mengajak Geum Jan Di berlibur ke Macedonia, bisa saja diganti berlibur ke Hawai atau Karimunjawa sekalian, tidak akan mengubah cerita.

Apapun perannya, setting tempat tetap penting dalam sebuah cerita. Pengarang biasanya memilih lokasi tertentu untuk mendukung ceritanya. Tidak jarang sebuah cerita baik novel atau film mempopulerkan suatu tempat. Atau yang biasanya terjadi, pembaca ingin mengunjungi lokasi yang menjadi setting sebuah cerita.

Kali ini saya menulis daftar cerita (dalam bentuk novel) yang sukses membuat saya ingin travelling mengunjungi berbagai lokasi yang disebut di dalamnya. Baru tahap ingin, karena saya sama sekali belum membuat rencana mengunjungi salah satunya. Oiya, daftar ini saya buat penuh subjektivitas, hanya berdasarkan perasaan saya. Kalau kamu punya rekomendasi novel yang settingnya menarik, tulis di kolom komentar ya ?

PS : Urutan dalam daftar di bawah ini sesuai abjad.

antologi rasa

1.    Antologi Rasa (Ika Natassa, 2011)

Bagi yang mengikuti blog atau instagram saya, pasti tahu kalau Ika Natassa adalah salah satu novelis favorit saya saat ini. Novel-novelnya selalu menarik, ringan dibaca, dan baper-able. Dan karakter utamanya suka jalan-jalan ! Sudah membaca Critical Eleven dan The Architechture of Love ‘kan ? Selalu ada adegan travellingnya ‘kan ?

Pada Antologi Rasa, bab pertama saja pembaca sudah diajak trip ke Singapura nonton balap F1. Membuntuti Keara dan Harris keliling negeri singa lalu ikut Keara shopping till drop di sekitar Orchard lalu besoknya nonton konser Backstreet Boys di lapangan. Kemudian di bagian tengah novel, pembaca diajak Keara menikmati sunrise di Bali, berkeliling pasar Ubud, menonton tari kecak, dan macam-macam lagi. Selain itu ada juga cerita Keara ke Manila demi menonton konser John Mayer. Kalau diingat-ingat, si Keara ini memang suka sekali travelling.

novel breaking dawn

2.    Breaking Dawn (Stephenie Meyer, 2008)

Ini buku terakhir dari seri Twilight. Paling tebal di antara tiga buku prekuelnya. Walaupun tebal, saya enjoy membacanya. Bisa dibilang, yang paling drama dari semua drama pada seri Twilight ada di Breaking Dawn. Mulai dari pernikahan, honeymoon, melahirkan, transformasi, hingga konfrontasi antara dua kubu vampir ada. Tapi saya tidak akan membicarakannya sekarang.

Sama seperti novel Twilight sebelum-sebelumnya, setting utamanya adalah Forks dan La Push. Saya sudah puas membayangkan tinggal di Forks atau mengendarai motor ke La Push melalui tiga novel sebelumnya. Breaking Dawn memberikan penyegaran bagi pembaca. Bersama dua karakter utamanya, pembaca diajak menjelajah Amerika Selatan, menikmati jalanan Rio de Jeneiro yang riuh, kemudian menikmati pulau tropis pribadi bernama Pulau Esme. Memang pulau fiktif, namun tetap saja sepertinya menyenangkan tinggal di pulau tak berpenghuni namun segala fasilitas terpenuhi (walaupun agak seram juga). Bosan main pasir bisa snorkelling. Bosan bermain air bisa hiking ke bebukitan. Bosan adventuring di luar bisa bersantai nonton streaming drama Korea (well, tidak ada nonton drama Korea sih, di ceritanya). Dan tidak perlu repot soal makanan, karena ada asisten rumah tangga yang senantiasa menyetok bahan makanan kapan saja diminta.

eiffel im in love

3.    Eiffel I’m In Love (Rachmania Arunita, 2003)

Bohong kalau tidak pernah dengar soal novel fenomenal ini. Yang pernah remaja di sekitar tahun 2004 pasti minimal pernah mendengar soal novel yang difilmkan ini. Dari judulnya saja sudah ketahuan kalau Eiffel I’m In Love pasti ada setting Perancisnya. Memang tidak banyak sisi Perancis yang diceritakan, hanya seputaran menara Eiffel saja. Namun waktu itu novel abege ini sudah cukup membuat saya terobsesi pada Perancis.

harry potter 3

4.    Harry Potter and The Prisoner of Azkaban (JK Rowling, 2001)

Tahu desa penyihir di dekat Hogwarts, yang di dalamnya ada The Three Broomsticks yang terkenal dengan butterbeernya ? Namanya Hogsmeade. Diceritakan di novel, kalau Hogsmeade adalah desa yang indah. Dihiasi lilin-lilin bergantungan. Di film, desa Hogsmeade divisualkan sebagai desa yang damai dan penuh salju. Saya membayangkan pasti setiap sudut Hogsmeade sangat instagramable.

the da vinci code

5.    The Da Vinci Code (Dan Brown, 2003)

Dari museum Louvre ke Westminster Abbey, kejar-kejaran dengan mobil polisi di jalanan malam kota Paris sambil memecahkan teka-teki rumit. Lalu ke tempat-tempat tidak terduga. Novel-novel Dan Brown memang selalu menegangkan disertai latar lokasi luar biasa. Rasanya seperti diajak menjelajah Perancis underground. Jika ingin menjelajah Roma underground bisa membaca novel Dan Brown yang lain, Angels and Demons.


PS : Tulisan ini juga bagian dari #CollaborativeBlogging. Baca tulisan Prita HW :Staycation

20 komentar

  1. dari semua itu saya baru baca yang terakhir mbak.

    entah kalo betulan bisa ke louvre apakah aslinya sesuai bayangan saya apa ga. haha...

    BalasHapus
  2. baru baca yg antologi rasa. saya juga suka tuh sama Ika Natassa. gaya penulisannya tuh santai tp nggak mainstream.

    yang Dan Brown baru baca 3 novelnya tp da vinci code malah belum ehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Suka banget sama Ika Natassa.
      Suka Dan Brown juga ya?

      Hapus
  3. Suka ke 4nya, tapi yang paling saya suka Breaking Dawn :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Breaking Dawn nggak pernah bikin bosan ya?

      Hapus
  4. Dari semua novel di atas, cuma Antologi Rasa tuh yg belum saya baca wkwkwk. Kapan-kapan akan saya cari deh di toko buku. Kalo novel yg menginspirasi saya untuk traveling tuh Journey To The West. Membaca perjalanan Biksu Tang ke Barat, saya juga jadi tertarik untuk melihat dunia luar...

    Terus selama ini udah traveling ke mana aja jadinya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Journey To The West itu Kera Sakti bukan ya?
      Belum kemana-mana :)

      Hapus
  5. nomor 3 bikin aku yg masih unyu2 kepingin ke perancis trus di sana ngarep dapat mas2 bule buat ajak aku nikah XD

    tapi yg paling bikin banget aku mupeng travelling itu novel2nya sitta karina

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha,,bener bener jaman masih unyu :D
      Sitta Karina ? Langsung browsing.

      Hapus
  6. nomor 3 mak, bikin aku yg masih unyu2 kepingin pergi ke paris dan (ngarep) ketemu mas2 bule yg ngajak aku nikah XD

    BalasHapus
  7. wahh satu yg aku suka...antologi rasa..

    BalasHapus
  8. Saya suka baca novel kalau pas main toko buku aja, kalau beli, novel novel serial mahal hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya juga betah banget kalo nongkrong di toko buku, sayang di daerahku nggak ada toko buku beneran :(

      Hapus
  9. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maaf komentarnya saya hapus, ada link hidupnya :(

      Hapus
  10. Suka semuanya :) yang paling suka sih Breaking Dawn :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo juga, Breaking Dawn emang seru sih dibaca.

      Hapus
  11. berdasarkan 5 novel tadi,, tempat favorit yang ada di novel-novel tadi ya Hogwarts. I wish I can fly there

    BalasHapus

Halo, terimakasih sudah mampir di JurnalSaya. Satu komentar Anda sangat berarti bagi saya.
Semua komentar dimoderasi ya. Komentar yang berisi pesan pribadi akan saya anggap spam.
Oiya, tolong jangan tinggalkan link hidup di badan komentar. Kisskiss

© JurnalSaya
Maira Gall