Selasa, 13 Desember 2016

KENAPA BOCAH 13 TAHUN NAIK MOTOR SENDIRI ?

anak di bawah umur mengendarai motor
gambar pinjam pixabay

“Bruumm bruumm ciiitttt...” Begitu bunyi ban yang dipaksa berhenti ketika sedang melaju dalam kecepatan tinggi. Biasanya diikuti suara benda besar dibanting di atas aspal “brakkk!” dan kerumunan terbentuk sejurus kemudian. Terdengar satu dua orang dalam kerumunan itu melafalkan istighfar. Terdengar juga satu dua orang menyebut nama binatang dengan tidak sopan. Beberapa decakan bernada kesal pun terdengar di sela-sela berisik yang terlalu nyaring jika disebut bisik.


Sesaat kemudian, kerumunan bubar perlahan. Tiga bocah awal belasan tahun terduduk beralas aspal di tengah sisa kerumunan. Sebuah sepeda motor matic tergeletak begitu saja di antara mereka. Seorang bocah meringis memegangi lututnya yang berdarah mengintip di balik celana biru yang kini sobek. Seorang lainnya mengeluhkan pergelangan kakinya yang keseleo. Seorang lagi menatap nanar pada beberapa bagian sepeda motor yang penyok.

Penggalan adegan yang terdengar familiar, ya? Bukan, itu bukan pengalaman pribadi saya. Bukan juga bagian dari naskah fiksi yang kerap saya imajinasikan. Kecelakaan yang terjadi pada anak sekolah berboncengan tiga memang sudah menjadi peristiwa yang jamak. Terjadi di mana-mana. Terjadi setiap saat. Umumnya kecelakaan model begini tidak menghasilkan simpati atau rasa kasihan, melainkan umpatan dari pengguna jalan lain atau derai air mata sesal dari keluarga si bocah.

Orang lain (termasuk kita, mungkin) yang melihat kecelakaan seperti ini akan seenaknya menyeletuk, “orangtuanya kemana kok masih bocah dikasih motor?” atau “emang enak kecelakaan, makanya masih kecil naik angkot aja!” atau “jadi anak bandel sih, sukurin lah jatuh, biar tau rasa!” atau macam-macam ungkapan jengkel lainnya. Tapi, pernahkah kita membayangkan penggalan adegan yang sebelumnya dialami si bocah?

Bisa jadi begini :

Teman si bocah : “Heh, pokoknya lo besok harus bawa motor! Kalo nggak berarti lo banci. Masak cowok naek angkot!”
Si bocah : “Tapi gue nggak punya motor.”
Teman si bocah : “ya minta emak lo lah!”

Atau begini :

Si bocah : “Bapak, raporku A semua, mana hadiahnya?”
Bapak si bocah : “Ini hadiah buat kamu (sambil memberikan sebilah kunci).”
Ibu si bocah : “Kok bapak kasih sepeda motor? Adek kan masih SMP”.
Bapak si bocah : “Nggak pa-pa, adek kan laki-laki, pinter lagi. Lagian kalo adek bawa motor sendiri kan bapak nggak usah capek-capek antar jemput”.

Atau begini :

Teman si bocah : (via telepon) “Tolongin gue dong, gue dibuntutin orang di gang kecil, buruan!”
Si bocah : “Oke, gue pinjem motor emak dulu (lalu si bocah langsung meluncur menyelamatkan temannya)”

Atau begini begini yang lain.

Membicarakan kemungkinan tidak akan ada habisnya, saya tahu. Bocah usia awal belasan tahun tidak seharusnya mengendarai sepeda motor (atau mobil) sendiri, saya juga tahu. Orang tua tidak seharusnya memberikan kendaraan bermotor sebagai hadiah pada anak yang belum dewasa, saya juga tahu. Anak di bawah umur yang mengendarai sepeda motor sendiri dapat membahayakan diri sendiri sekaligus pengguna jalan yang lain, saya juga 
tahu.

Dilihat dari kacamata manapun, anak-anak tidak sebaiknya mengendarai kendaraan bermotor sendiri. Namun sebelum menyalahkan si anak atau mencela orang tuanya, bukankah lebih baik untuk mencari tahu alasan di baliknya? Apakah di anak naik motor sendiri karena gaya-gayaan? Atau si anak perlu ke mana-mana seorang diri? Atau si anak memang terpaksa naik motor sendiri? Jika orang tuanya tidak peduli keselamatan anak, berikan pengertian. Jika si anak yang bandel, berikan arahan. Jika terpaksa karena keadaan, luruskan.

Itu jika kita peduli. Jika tidak peduli lantas hanya memaki, apa gunanya? Bukankah lebih baik mendoakan saja?

Saya ingat sebuah hadits yang artinya kurang lebih begini :
“barangsiapa melihat kemungkaran, maka cegah dengan tangan. Jika tidak mampu, cegah dengan lisan. Jika tidak mampu, cegah dengan hati (maksudnya doa)”.
Well, saya tidak mau berdalil panjang lebar di sini. Intinya begitu lah. Jika tidak bisa mengubah, jangan menghakimi.

Lagipula, anak belia usia awal belasan tahun tidak hanya dibentuk oleh orang tuanya. Ada yang namanya peer group, rasa ingin diterima, kebutuhan ingin diakui, dan jiwa yang masih labil. Bocah-bocah itu masih rapuh. Kita orang dewasa yang harus memahami.


PS : Tulisan ini merupakan bagian dari #CollaborativeBlogging. Baca punya mbak Diah : Anak Di Bawah Umur Mengendarai Motor Sendiri dan Penyuluhan Berkala

12 komentar

  1. Selalu ada alasan di balik kejadian ya mbak. barangkali ada baiknya kita menahan diri untuk ga melancarkan tuduhan dulu sebelum tahu alasannya. tapi ya memang yang kita lihatlah yang bisa kita ketahui, soal hati, nah baru itu wilayah yang ga boleh kita nilai. iya...menilainya pakai apa coba hehe...

    btw, bannernya baru ya. lebih fresh!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, dalamnya hati siapa tahu ya mbak?
      Makasih 😊

      Hapus
  2. Inget dulu waktu SMA temen2 heboh pada bawa mobil & pake motor, aku mah boro2 karena ngga boleh belajar nyetir sama nyokap. Diajarin nyetir setelah lulus kuliah & baru nyetir setelah kerja... Tapi aku belajar dari situ, bahwa nyokap emang pengen aku bertanggung jawab nyetir dengan umur yang sesuai. Jadi bisa mengajarkan hal tersebut sama anak aku sekarang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya malah belom bisa nyetir udah segede gini πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„

      Hapus
  3. Setuju sama paragra terakhir, keinginan untuk diakui itu bisa jadi motivasi anak nekat bawa motor meski belum waktunya (salah satunya). Antara amaze bercampur ngeri kalau lihat anak smp mengemudi motor. Udah gitu pake cabe-cabean lagi alias boncengan bertiga. -_-

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, kadang naik motor serampangan lagi!
      Untung nggak pake tomat2an sama terasi2an yaa,, ntar dibikin sambel πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†

      Hapus
  4. Aku pernah lihat di tv mbak, berita anak sd yang naik motor trus jatuh ke paret..duuuh ngerinya...Kata orang tua mereka, mereka terpaksa memfasilitasi motor buat anak2 karena tidak ada angkot..Seram saya melihatnya mbak-

    Btw..salam kenal ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waaaaa ada mbak dewi greenland πŸ˜ƒπŸ˜ƒπŸ˜ƒ
      Kadang itu juga mbak, transportasi umum belum memadai jadinya motor alternatif utama.

      Hapus
  5. Menurutku orangtua yang harus punya andil besar untuk melarang anak menggunakan motor saat belum cukup umur mba

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau bukan orang tua, siapa lagi ya mbak?

      Hapus
  6. Saya termasuk orang yg tidak setuju anak kecil naik motor sendirian. Yah mau apapun alasannya nanti juga bakal fatal akibatnya. Sedih aja lihat banyak korban yg notabene masih anak2

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sedih emang, lihat anak2 yang jadi korban. Ya campur kesel juga sih kadang

      Hapus

Halo, terimakasih sudah mampir di JurnalSaya. Satu komentar Anda sangat berarti bagi saya.
Semua komentar dimoderasi ya. Komentar yang berisi pesan pribadi akan saya anggap spam.
Oiya, tolong jangan tinggalkan link hidup di badan komentar. Kisskiss

© JurnalSaya
Maira Gall