Tuesday, December 6, 2016

PADA SEBUAH GARIS WAKTU YANG MERANGKAK MAJU

resensi buku terbaru

Membaca beberapa chapter awal buku ini, saya merasa seperti... mendapat surat cinta dari pengagum rahasia. Hahahaha... Abaikan kenarsisan saya! Tapi serius, ketika saya membacanya, saya merasa tokoh "kamu" yang dimaksud itu saya. Rasanya seperti paragraf-paragraf berima itu ditulis khusus untuk saya.

Peringatan : ada sedikit unsur baper dalam tulisan ini. Jangan baper!
resensi buku fiersa besari

Mari mundur sejenak.

Awalnya, saya mengira Fiersa Besari itu nama perempuan. Agak-agak mengingatkan saya pada nama Fira Basuki sebenarnya. Dan itulah alasan pertama saya memcomot Garis Waktu ini dari rak Gramedia. Alasan keduanya, tentu saja karena desain sampulnya yang clean, kekinian, dan romantis. Sagitarian is an extraordinary romantic person, right?

But then, saya salah sangka karena Fiersa Besari ternyata laki-laki. FYI, saya baru membaca biografinya setelah membaca tiga atau empat bab. Lalu saya mengulang lagi membaca dari bab pertama. Dengan kacamata orang pertama laki-laki. Namun tidak bisa. Kemudian ya.... saya menikmati peran sebagai tokoh "kamu" yang dipuja dan dicinta.

love quote, girls quote

It feels like "aku" mencintai saya tanpa syarat (baca tulisan saya tentang cinta tanpa syarat). Tentu saja saya suka. Siapa yang tidak meleleh dipuja sedemikian rupa, dituliskan kalimat-kalimat berirama, serta disebut dalam setiap doa? Meskipun, ya... jujur saja tidak masuk di akal saya. Siapa yang mau menjadi tempat sampah; tujuan pertama untuk berkeluh kesah? Siapa yang sudi menjadi cadangan; baru dipertimbangkan setelah pemain utama meninggalkan arena? Siapa yang rela menjahit luka yang timbul bukan karena dirinya? Sebegitu tidak egoisnya kah "aku" sehingga ia mampu menjadi tempat sampah, pemain cadangan, sekaligus doktet penjahit luka?

Tidak juga. Saya menemukan sifat asli "aku" pada bab-bab tengah hingga akhir. Ia egois. Ia ingin memiliki. Ia ingin dimengerti. Ia sama saja seperti yang lain. Benar kan, tidak ada orang yang mencintai orang lain tanpa syarat.

Bukankah di awal cerita "aku" menyatakan bersedia menjadi rumah dan siap memberikan sayap supaya saya bisa terbang? Yang penting saya bahagia kan? "aku" bilang ia tanpa pamrih kan? Lalu kenapa "aku" dengan egoisnya mengejar mimpinya sendiri lantas menyalahkan saya atas resikonya?

resensi buku fiersa besari garis waktu

Oke, saya mulai tidak nyaman mengasosiasikan "kamu" sebagai saya. Jadi, saya sebut "kamu" saja ya?

Bagaimanapun juga, di buku ini karakter utamanya "aku". Tentu saja segalanya "aku"-sentris. Karakter "kamu" berperan sebagai oposisi di sini. Jika pada akhirnya "aku" yang selalu benar, siapa yang bisa protes?

book review garis waktu

Buku ini, buku ini. Dari tadi saya menyebutnya buku ini. Sebenarnya buku ini buku apa? Dibilang novel, jelas tidak. Dibilang antologi puisi, tidak juga. Dibilang non fiksi, apalagi. Saya kira ini bentuk prosa liris, benar? Ada cerita, ada narasi, ada penokohan, berisi ungkapan perasaan, diksi menyerupai syair, ada rima, tidak ada dialog. Seingat saya ciri-ciri prosa liris.

Bentuk prosa liris sendiri bukan sesuatu yang baru. Sudah ada sejak sebelum saya lahir. Sudah ada juga di buku pelajaran bahasa Indoneaia sejak SD, SMP, hingga SMA. Tapi saya baru ngeh pada bentuk prosa macam ini ketika SMA. Simply karena saya masuk jurusan bahasa, ada mata pelajaran sastra indonesi, dan mempelajari macam macam prosa. Waktu itu saya buta sekali soal prosa liris karena tidak menemukan contohnya. Oh, ada contohnya, sastra klasik angkatan tua yang jujur saja, membosankan.

fiersa besari garis waktu prosa liris

Bagi sebagian orang, membaca prosa liris seperti ini akan membosankan. Bagi sebagian yang lain, mungkin menikmati karena mewakili perasaan sendiri. Kalau saya,, well... Saya membacanya karena penasaran. Sudah saya bilang kan, saya suka bab-bab awalnya namun semakin ke bab akhir saya menjadi bosan.

At least, karena desain covernya sangat ciamik, Garis Waktu bisa menjadi teman perjalanan yang keren. Ketika menunggu pesawat delay, atau di baca di atas kereta. Oh iya, untuk yang gemar memposting quote di social media, hampir seluruh kalimat dalam buku ini quotable. Tinggal culik satu dua yang mewakili isi hati. Tentu bukan itu saja. Saya memperoleh beberapa pelajaran hidup melalui buku ini. Salah satu yang paling berharga adalah : jangan terjebak dalam friendzone, nanti dikirim undangan loh! LOL


Sudah membaca Garis Waktu juga? Left your comment below ya?

resensi buku garis waktu

Judul : Garis Waktu
Penulis : Fiersa Besari
Penerbit : Media Kita, Jakarta
Tahun Terbit : 2016
Halaman : iv+212 halaman ; 13x19 cm

4 comments

  1. Bagus banget bukunya... Reviewnya nuga menarik..foto2 ya juga niat banget yang ditampilin

    Envy bangetiatnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Foto untuk blog memang harus niat dong ๐Ÿ˜Š
      Trims sudah mampir.

      Delete
  2. Belum bacaa nih. Jadi penasaran pengen baca full. Tfs sharingnyaa. Salam kenal yak ๐Ÿ˜๐Ÿ™

    ReplyDelete
  3. Aku kira dari awal kamu ini review novel kak.


    Hihihi jangan terjebak dalam friendzone, nanti dikirim undangan loh... bener juga yak :D

    ReplyDelete

Halo, terimakasih sudah mampir di JurnalSaya. Satu komentar Anda sangat berarti bagi saya.
Semua komentar dimoderasi ya. Komentar yang berisi pesan pribadi akan saya anggap spam.
Oiya, tolong jangan tinggalkan link hidup di badan komentar. Kisskiss

© JurnalSaya
Maira Gall