Selasa, 10 Januari 2017

CRITICAL ELEVEN, ALPHA FEMALE, DAN REZA RAHARDIAN

resensi critical eleven

Saya membaca Critical Eleven lagi semalam. Meskipun sudah membacanya berulang kali, efeknya masih sama. Sedih, gregetan, terharu, tersenyum sendiri, lalu sedih lagi, lalu gregetan lagi. Tapi ada satu hal yang baru saya sadari semalam. Tentang Tanya Baskoro, si karakter utama perempuan.
No need to write down the story, huh ? Saya yakin sudah banyak yang membaca metropop ini, lha wong sudah terbit dari pertengahan tahun 2015 lalu. To refresh your memory, Critical Eleven bercerita tentang rumah tangga Tanya Baskoro dan Aldebaran Risjad. Or best known as Anya-Ale. Masalahnya cuma satu : Anya galau soal pernikahannya dengan Ale. Gara-garanya cuma satu pula : Ale keceplosan bilang “kalau aja dulu kamu nggak sibuk, mungkin Aidan masih ... (hidup)” pada Anya.

Ale & Anya

marriage quote

Jadi, Anya merasa tidak dihargai dengan benar sebagai istri karena Ale bilang begitu. Menurut Anya, Ale menuduhnya membunuh anak mereka. Lantas Anya marah besar, besar sekali. Bentuk kemarahannya pun hanya : berubah dingin sedingin-dinginnya. Lalu kehidupan pernikahan mereka menjadi perang dingin di rumah namun tetap normal di luar.

Sebagian orang akan bertanya-tanya, kenapa Anya bisa semarah itu ? Ale ‘kan sudah minta maaf, toh kalimat itu terlontar juga tidak disengaja. Oke, yang tidak sengaja itu memang unek-unek terpendam yang seringnya justru berisi kejujuran. Memangnya Ale tidak boleh mengeluarkan unek-unek ? Lagipula, Ale ‘kan sudah jelas baiknya, jelas komitmennya, jelas segala kualitas baik segala macam. Ale ganteng, Ale baik, Ale punya karir bagus, Ale dari keluarga terpandang, you name it ! Ale pun tidak pernah melakukan hal-hal yang tidak seharusnya dilakukan suami yang baik. Kenapa Anya masih mempertanyakan omong kosong soal kepercayaan dan kebahagiaan ?

Pertama kali membacanya, saya juga gregetan sendiri pada karakter Anya. Rasanya saya pengen masuk ke dalam cerita, jadi Tara atau siapa saja lalu bilang pada Anya begini : “Nya, Ale tuh kurang apa sih ? Nggak bersyukur banget lo punya Ale. Dia pernah salah tapi udah minta maaf ‘kan ? Apa lagi sih yang lo minta ?” Begitu. Atau saya akan menjadi antagonis yang merebut Ale dari sisi Anya. (( TERTAWA JAHAT )).

Tapi sekarang tidak lagi. Saya mengerti setiap hati memiliki caranya sendiri untuk menyembuhkan luka. Atau sekedar menyamarkan rasa sakit.

Lagipula, tahu apa saya soal tetek bengek kepercayaan ? Tahu apa saya soal tidak percaya pada seseorang yang dicintai ? To be honest, I never knew bagaimana rasanya mencintai seseorang sedalam-dalamnya. Oke, ini melantur.

Alpha Female

Well, Anya itu sosok alpha female. Mandiri, cerdas, logis, punya power, punya segalanya. Benar-benar sosok perempuan yang membuat iri perempuan lain. Cantik tanpa usaha. Karir cemerlang. Punya suami seorang Reza Rahardian Aldebaran Risjad. Punya kendali utuh atas hidupnya sendiri. Sadar dirinya berharga dan berhak menentukan kebahagiaannya. Saya membayangkan feed instagram Anya sangat memanjakan mata dan followernya ratusan ribu padahal akunnya dikunci. Get the point ?

Seseorang seperti Anya memiliki harga diri sangat tinggi sehingga mudah tesinggung ketika harga dirinya terluka. Ia independen sehingga ketika hubungannya dengan Ale merumit, ia senantiasa berdialog intrapersonal “apakah pernikahan ini layak diteruskan, apakah Ale seseorang yang pantas dipertahankan”.

Critical Eleven

resensi buku critical eleven

Sosok perempuan mandiri, cerdas, cantik, punya karir sukses selalu menjadi karakter utama di novel Ika Natassa. Ya namanya juga metropop. Kalau cerita anak SMA nanti jadinya teenlit. LOL. Meski Anya bukan karakter favorit nomor satu saya, saya tetap suka. Tidak perlu saya bilang lagi ‘kan how much I love metropopnya Ika Natassa ?
Sudut pandang orang pertama bergantian, plot maju mundur, selipan setting luar negeri, full of quotable sentences, who doesn’t love ya ‘kan ? Ah, Ika Natassa juga pandai sekali mereka karakter yang utuh. Bukan hanya soal sifat dan gambaran fisik, tapi juga isi kepala dan latar belakangnya. Total sekali.

Contohnya, ketika Anya berniat membuang Ale dari ingatannya. Kalau bukan Anya, siapa lagi orang yang belajar teknik memindah ingatan dari amygdala ke hippocampus ? Kalau bukan Ale yang frustasi, siapa lagi yang akan menghitung berapa jumlah detik yang tersisa lantas membuat deret angka untuk mengironikan rasa kesal bercampur putus asa ?

Unsur Reza Rahardian

Saya excited sekali mendengar Critical Eleven dibuat film. Menebar-nebak siapa yang memerankan Ale dan siapa yang memerankan Anya. Hingga mucullah nama Reza Rahardian beberapa waktu lalu. Ekspektasi saya langsung semakin tinggi. Reza Rahardian sudah menjadi semacam garansi film pasti bagus. Selama ini, memangnya pernah ada film Reza Rahardian yang tidak bagus ? Benar ‘kan ?

Kalau ada satu adegan yang sangat saya nantikan daripada yang lain, itu adalah detik ketika Anya bangun tidur dengan kepala menempel di pundak Ale, di pesawat, kali pertama mereka bertemu. Ah, dan adegan Anya tidur memeluk kaos kaki Aidan di hotel di Singapura. Itu adegan paling menguras air mata.

Akting total para pemain, chemistry menjanjikan, latar memanjakan mata, such a promising movie ‘kan ? Saya tidak sabar menonton filmnya.

Best Quotable Sentences
Bookstores are the least discriminative place in the world”. (hlm. 14)
In life, there are no heroes and villains, only various states of compromise”. (hlm. 113)
In marriage, if we win, we win big. But when we lost, we lost more than everything. We lost ourselves, and there’s nothing sadder than that”. (hlm. 153)

6 komentar

  1. Wahh critical eleven mo dibikin filmnya yaa :).. Bulan lalu saya baru aja baca novel ini..ceritanya emang berhasil bikin baper yahh..dan imajinasi saya ikut bermain membayangkan sosok aldebaran haha. Reza rahadian kyknya bisa mewakili tokoh alde..mdh2n filmnya sesuai ekspetasi ya

    BalasHapus
  2. Meski kadang klo baca novelnya Ika Natassa sering berpikir kok karakternya too good to be true, tapi suka kebawa baper juga sih...nunggu filmnya aja deh, yg critical eleven ini, suka sama akting Reza Rahadian..jadi apaa aja selalu bisa menjiwai

    BalasHapus
  3. Hmmm.. udah beberapa kali liat buku ini, tapi masih galau mau beli apa ngga hahahaha... dan setelah baca ini, semakin galau.. XD binguuung.. takut baper

    BalasHapus
  4. Aku pikir critical eleven itu novel" tentang pesawat. Ternyata bukan hehe. Soon kalau ngabisin beberapa novel, aku bakal beli ini. Makasih lho vir atas ingatan reza rahadiannya LOL

    BalasHapus
  5. Wah rame ya filmnya juga kayanya, jadi pengen nonton 😊

    BalasHapus
  6. Sepertinya aku butuh bgt baca2 novel kek gini.. Semenjak ayah mninggal :') budget buku tdk seperti dulu #eaa


    dhe-ujha.com

    BalasHapus

Halo, terimakasih sudah mampir di JurnalSaya. Satu komentar Anda sangat berarti bagi saya.
Semua komentar dimoderasi ya. Komentar yang berisi pesan pribadi akan saya anggap spam.
Oiya, tolong jangan tinggalkan link hidup di badan komentar. Kisskiss

© JurnalSaya
Maira Gall