Selasa, 28 Februari 2017

TEENLIT DAN LIFE LESSON

novel teenlit

Benar kan, kalau minat seseorang selalu berubah-ubah selama hidupnya ? Makanya saya suka heran kalau ada orang yang bisa memiliki satu kesukaan and stick with it for the rest of their life.

Empat tahun belakangan saya suka baca metropop. Sembilan belas tahun lalu bacaan saya cerita bergambar macam Kucing Bersepatu Boot atau seri Winnie The Pooh. Enam belas tahun lalu saya menjadi penggemar komik Doraemon dan cerita rakyat. Sebelas tahun lalu bacaan saya teenlit, sampai saya kenal Dan Brown dan kemudian metropop. Ah, saya juga penggemar seri Harry Potter dan Twilight.
Baca : Tentang Ika Natassa
Bacaan saya nggak keren, ya ? Padahal dulu saya anak Bahasa. Tapi jujur saja saya tidak pernah enjoy membaca sastra klasik macam Wuthering Heights, Pride And Prejudice, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk, atau novel filosofis seperti Dunia Sophie-nya Jostein Gaardner. Dulu saya suka bawa-bawa novel klasik begitu supaya kelihatan keren. LOL.
Silahkan judge selera bacaan saya. Dibilang nggak mutu, sudah biasa. Dibilang nggak punya selera tinggi, boleh. Dibilang nggak ada faedahnya, sudah kebal. Hahaha ...

Eh tunggu. Siapa bilang buku-buku remeh ringan (PS : setiap buku lahir dari perjuangan penulisnya, ada keringat, air mata, dan darah bercucuran di tiap halamannya. Ada bongkahan mimpi di tiap diksinya. Tidak ada buku yang remeh.) tidak ada manfaatnya ? Bahkan di antara cerita-cerita picisan di teenlit ada pelajaran yang bisa dipetik. Ada moral value. Ada life lesson.

Beberapa hari ini saya membaca teenlit lagi. Yes, 26 and still reading teenlit. Setelah saya pikir-pikir dan saya ingat-ingat, saya merangkum sejumlah pelajaran berharga yang saya pelajari dari teenlit. Oh iya, judul-judul teenlit yang saya sebut di sini bukan terbitan baru ya, hanya yang saya ingat sudah pernah baca.

Siapapun Bisa Asal Berusaha

Baca judul : Victory (Luna Torashyngu), Beauty And The Best (Luna Torashyngu)

Karakter Oty (di Victory) dan si cantik (di Beauty and The Best) mengajarkan pada saya bahwa tidak ada yang tidak bisa dipelajari di dunia ini. Bakat bukan jaminan, apalagi passion. Keberhasilan itu tergantung kerja keras.

Oty itu perempuan tomboi, nggak bisa dandan, nggak ngerti cara pakai high heels. Tapi dia harus memenangkan kontes kecantikan bertajuk Putri SMA. Rival utamanya adalah teman satu sekolahnya yang langganan juara kontes kecantikan. Tapi Oty berusaha keras dan menampilkan sisi terbaiknya. Dan dia menang.

Si cantik yang saya lupa namanya (di Beauty and The Best) ini murid idola di sekolah, karena cantik luar biasa. Nah, dia ditantang oleh murid paling pintar (which is perempuan juga, yang menganggap perempuan cantik itu bodoh) untuk bersaing di ujian masuk universitas. Si cantik ini belajar mati-matian dong. Memang sih, akhirnya dia nggak bisa menandingi si pintar. Tapi mereka berdua sebenarnya mengalahkan diri mereka sendiri. Saya paling suka setting museum geologinya, btw.

Pelajarannya adalah : apapun passion kamu sekarang, pelajari juga hal lain. Sekarang kamu bisa sangat mencintai dunia fashion atau jurnalistik, misalnya. Tapi kelak tidak ada yang tahu. Jadi tetap terbuka untuk berkembang, mempelajari hal-hal lain yang mungkin tidak kamu suka. Because nothing is permanent.

Tentang Persahabatan

Baca judul : Lovasket (Luna Torashyngu), Outrageous (Moemoe Rizal), A Bookaholic Club (Poppy D Chusfani)

Persahabatan itu isu paling krusial selama high school life. Lebih penting daripada nilai bagus. Sebagus apapun sekolahmu kalau nggak punya sahabat, your high school life is gonna like a hell.

Di tiga judul teenlit yang saya sebutkan itu, masing-masing karakternya punya masalah berbeda. Vira (di Lovasket) ditinggalkan sahabatnya karena keluarganya bangkrut. Mindy (di Outrageous) kerap merasa tidak jadi diri sendiri ketika bersama teman-teman barunya. Karakter-karakter di A Bookaholic Club saling berlawanan tapi bisa menjadi sahabat dan saling membantu saat menyelesaikan masalah.

Pelajarannya adalah : well, masih punya sahabat setelah sekarang dewasa ?

Tentang Self Esteem

Baca judul : Princess In Me (Donna Rosamayna)

Ngomong-ngomong soal self esteem, saya sering berpikir I’m not pretty enough to pose, atau I can’t write well enough to blog. Tapi kata orang selalu ada langit di atas langit yang lain, berarti selalu ada bumi di bawah bumi yang lain (eh!). Jadi saya mengabaikan fakta bahwa saya tidak cantik dan tulisan saya tidak bagus (tapi ada yang dimuat di Mommiesdaily, btw). Dan saya masih nulis karena saya suka. Dan saya masih posting FOTD karena sayang dong masak sudah pakai make up nggak didokumentasikan.
Baca : Tahun Baru dan Semua Angka Itu
The Princess In Me ini teenlit yang paling saya suka hingga sekarang (padahal dulu baca teenlit ini cuma sekali karena pinjam). Karakter Pri diceritakan sebagai perempuan yang tidak menarik secara fisik karena ukurannya XXL. Dia merasa hidupnya tidak bahagia, lantas dia diet ketat dan olah raga. Singkat cerita, dia berhasil menjadi kurus tapi malah jatuh sakit. Akhirnya dia sadar kalau inner beauty lebih berharga. Tapi dia sadar setelah dia kurus sih.

Pelajarannya adalah : kalau kamu merasa rendah diri karena tidak cantik ya cari cara supaya kelihatan cantik. Kalau ada perempuan cantik memberi nasehat bahwa inner beauty adalah yang paling penting, jangan percaya.

Alam Bukan untuk Ditantang

Baca judul : Cewek!!! (Esti Kinasih), dan Still (sekuelnya)

Dua teenlit ini ceritanya soal naik gunung. Bukan naik gunung yang keren semacam 5cm ya, karakter-karakter di teenlit ini naik gunung karena alasan yang picisan banget. Pokoknya si karakter perempuan (yang saya lupa namanya) naik gunung karena nggak mau kalah sama si karakter laki-laki. Sayangnya nggak ada drama heboh seperti misalnya hipotermia atau kehilangan jejak.

Saya lupa plot ceritanya, pokoknya pelajarannya adalah : kalau mau naik gunung jangan abaikan persiapan. Naik gunung itu bukan buat gaya-gayaan.


Ada yang masih suka baca teenlit di sini ? Cerita dong, judul apa yang paling berkesan buat kamu, ada pelajaran hidup apa saja ?

4 komentar

  1. Ih, kebalik! Justru aku lebih suka baca 'old book'! Anna Karenina sama Wuthering Heights malah buku favorit aku ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜. Kalo teenlit aku sukanya Ken Terate, coba baca deh kak ^_^


    heartofbluebells.blogspot.com

    BalasHapus
  2. Waktu remaja saya sukanya Fairies dan Dealova, hmmm masa-masa paling indah.

    Teenlit memang tidak bisa diremehkan pula walaupun sekarang saya jarang menyentuhnya, karena teenlitlah teman remaja yang menemaninya termasuk menjadi rule model atau pertimbangan dalam pergaulan.

    Thanks for sharing

    BalasHapus
  3. ini bacaan khas cewek remaja. beda kalao aku ga suka.

    saya sampe sekarang baca buku teenlit islami pinjaman adik saya. karena adikku suka pinjam buku ke perpustakaan sekllah..

    isinya kadang menarik. kalo ga menarik ga lanjutlah

    BalasHapus
  4. Sampai sekarang masih suka Meg Cabot. Wkwkwk. Lengkap mah koleksinya :D

    www.vinasaysbeauty.com

    BalasHapus

Halo, terimakasih sudah mampir di JurnalSaya. Satu komentar Anda sangat berarti bagi saya.
Semua komentar dimoderasi ya. Komentar yang berisi pesan pribadi akan saya anggap spam.
Oiya, tolong jangan tinggalkan link hidup di badan komentar. Kisskiss

© JurnalSaya
Maira Gall