Saturday, April 29, 2017

INFERNO (DAN SOAL KEPADATAN PENDUDUK)

resensi novel dan brown inferno

Terakhir kali saya baca novelnya Dan Brown, sudah berjuta-juta tahun yang lalu. Well, rasanya begitu. Saya bukan penggemar fanatik Dan Brown, saya hanya suka membaca novelnya. Suka baca, tapi nggak suka beli. Inferno ini novel Dan Brown pertama saya, btw.


Saya ingat pertama kali membaca Dan Brown waktu SMA, baca Digital Fortress pinjam di perpustakaan sekolah. Lalu saya suka. Berikutnya saya membaca The Da Vinci Code, Angels & Demons, dan Deception Point, entah pinjam dari mana saja. Hahaha ... Waktu itu saya masih sekolah, dan novel Dan Brown rasanya mahal sekali jadi sayang kalau beli.

Hingga beberapa waktu lalu saya beli Inferno di GrobMart, cuma seratus ribu soalnya diskon. And ... Dan Brown tidak pernah membuat saya kecewa.

PS : Ada spoiler.

novel thriller intelektual

Inferno masih memakai Robert Langdon sebagai karakter utama, sama seperti The Da Vinci Code, Angels & Demos, dan The Lost Symbol. Ceritanya juga masih seputar menyelamatkan dunia dengan cara memecahkan teka-teki sarat simbol dan sejarah seni, dengan plot super cepat. Super cepat karena peristiwa yang ditulis dalam satu novel tebal itu hanya terjadi pada satu hari yang sama, atau satu malam.

Kesamaan lain, Robert Langdon selalu ditemani rekan wanita luar biasa : Vittoria Vetra di Angels & Demons, Sophie Neveu di The Da Vinci Code, Katherine Solomon di The Lost Symbol. Mereka semua berpisah pada akhir cerita dan tidak pernah lagi diungkit-ungkit kabarnya. Saya jadi berpikir, sepertinya lucu kalau dibuat adegan Robert Langdon ketemu Vittoria Vetra yang ternyata berteman dengan Sophie Neveu. Mungkin di novel berikutnya ketika Langdon sedang memecahkan teka-teki simbol tersembunyi di relief Candi Borobudur.
Baca : 5 Novel Lama yang Membuat Saya Ingin Travelling
Satu lagi kesamaan yang saya temukan pada cerita-cerita Robert Langdon, yaitu ia selalu dikejar-kejar oleh agen pemerintah. Kedengarannya membosankan karena alurnya berulang, tapi sungguh saya belum bosan.

infero dan brown

Inferno mengambil setting Florence, Venesia, dan Istanbul. Itu Profesor Langdon sepertinya kenal semua orang penting ya, selalu bisa mendapatkan akses pesawat pribadi, tur privat di museum, atau sebangsanya. Dan ya, karena karakter utamanya adalah profesor seni dan simbologi, tentu saja sepanjang cerita banyak penjelasan sejarah mengenai berbagai artefak-artefak kunci. Sesungguhnya, saya agak overwhelmed dengan penjelasan-penjelasan tersebut. Dante Alghieri, The Divine Comedy, patung kuda yang dicuri berkali-kali di masa silam, doge Italia, begitu khatam membaca novel hingga akhir cerita, saya sudah lupa apa yang diceritakan Profesor Langdon.

dante alghieri the divine comedy inferno

Tapi itu bukan masalah. Saya tetap bisa mengikuti adegan pelarian Profesor Langson bersama Sienna Brooks. Ah ya, mengenai Sienna Brooks, karakter perempuan di Inferno ini sangat menarik. Seseorang yang terkucil karena cerdas, kehilangan arah, tidak punya tujuan, namun cemerlang luar biasa, ternyata memiliki masa lalu yang tidak tertebak.
Karakter Sienna menjadi protagonis, lalu diantagoniskan, lalu berakhir kembali menjadi protagonis. Yang lebih mengejutkan, Sienna ternyata orang terdekat si musuh utama.

Yang lebih mengejutkan lagi, ternyata si musuh utama bukan orang jahat. Serius. Ada alasan yang sangat logis kenapa Zobrist (si musuh utama) melakukan hal yang menjadi inti cerita. Bahkan Robert Langdon dan Elizabeth Sinskey pun pada akhirnya memahami jalan pikiran Zobrist. Yang saya heran, ngapain Zobrist memberi clue untuk pemilihan lokasi tindakannya ? Mau main teka-teki atau apa ?

inferno karya dan brown

Ngomong-ngomong, ada satu permasalahan nyata di Inferno yang benar-benar terjadi di dunia nyata. Soal kecepatan pertumbuhan penduduk dunia yang memusingkan. Zobrist mengeksekusi ide gilanya karena ini. Gagasan soal transhumanis, kepadatan populasi dunia, dan manusia-manusia yang terus beranak.

Kenapa sih orang-orang ngotot banget harus punya keturunan. Sehebat apa sih orang-orang sehingga merasa gen-nya perlu diwariskan. Punya anak itu ribet, tanggung jawab dunia akhirat. Belum lagi masalah lingkungan yang diakibatkan. Begini ya, satu bayi itu membutuhkan rata-rata tiga diaper sehari. Kalau sebulan berarti 90 diaper. Kalau setahun ? Dua tahun ? Itu diaper-diaper habis pakai dibuang kemana ? Kalau ditimbang berapa kilo coba limbah diaper itu ? Baru dua tahun hidup saja bayi sudah menyumbang sampah segitu banyak.

Belum lagi kebutuhan air. Bayi perlu air untuk cebok, untuk minum, untuk mandi. Saya malas gugling berapa liter kebutuhan air bersih seorang bayi baru lahir. Pokoknya banyak. dan persediaan air bersih semakin berkurang.

Cukup sampai di situ ? Tidak. Kelak si bayi akan menjadi dewasa, ia akan berkeluarga sehingga membutuhkan ruang untuk membangun rumah. Padahal lahan sudah hampir habis tak tersisa. Kemudian si bayi yang berkeluarga pun punya bayi. Siklus berulang.
Somehow saya setuju dengan menyeterilkan sepertiga penduduk dunia supaya bumi selamat lebih lama. Jika bayi-bayi baru tidak terus menerus bermunculan, mungkin bumi tidak akan sesesak ini. Meskipun artinya itu semakin dekat dengan kiamat sesungguhnya.
Baca : The Day After Tomorrow
Sebelum saya semakin melantur ... Well, ada yang suka baca novel-novel Dan Brown juga ? Share dong opininya !

Kiss kiss.

dan brown inferno

Judul : Inferno
Penulis : Dan Brown
Penerbit : Bentang, Yogyakarta
Tahun terbit : Cetakan XII, 2015

Halaman : 644 hlm ; 23,5 cm

5 comments

  1. Lagi berusaha suka sama Dan Brown nih mak hehe.

    www.extraodiary.com

    ReplyDelete
  2. makasih reviewnya aku malah belum ernah sekalipun baca

    ReplyDelete
  3. Dulu aku sempat suka baca novel-novelnya Dan Brown. Tapi karena ceritanya plotnya begitu terus akhirnya nggak terlalu minat lagi. Inferno ini aku nonton versi filmnya aja

    ReplyDelete
  4. Jarang baca Dan Brown, lebih banyak nonton filmnya..seru juga ya iniiii..

    ReplyDelete
  5. Dan Brown emang bagus bagus tulisannya kak, aku juga suka baca karyanya :D

    Cindy,
    apriljournals.blogspot.co.id

    ReplyDelete

Halo, terimakasih sudah mampir di JurnalSaya. Satu komentar Anda sangat berarti bagi saya.
Semua komentar dimoderasi ya. Komentar yang berisi pesan pribadi akan saya anggap spam.
Oiya, tolong jangan tinggalkan link hidup di badan komentar. Kisskiss

© JurnalSaya
Maira Gall