Friday, May 19, 2017

BEHIND THOSE SLEEPLESS NIGHTS

freelance

Saya nggak ingat kapan terakhir kali saya tidur 8 jam semalam. Tiga tahun lalu ? Lima tahun lalu ? Sepuluh tahun lalu ? Entah. This adulthood ya ... Nggak kok, saya nggak mau komplain kalau life is tough meskipun itu benar. Dan adulthood juga nggak seberat “itu”. Setiap tahap usia punya tantangannya sendiri. Being teenager juga bukannya tanpa masalah. Hanya saja masalahnya beda. Level dramanya juga beda.

Baca : Saya Pengen Jadi Vampir Saja
Adulthood means paying bills, building houses. Itu sih menurut saya yang paling membedakan fase usia dewasa dengan fase sebelumnya. Waktu masih SMA nggak mungkin saya kepikiran sama bayar listrik dan harga susu. Sekarang saya ikutan hemat listrik karena ya ampunn ... listrik sekarang mahal. Waktu SMP dicuekin temen sekelas aja langsung berasa kiamat. Kalau sekarang bodo amat lah, bukan mereka yang bayarin lipstik saya.

Itulah sebabnya orang dewasa butuh pekerjaan dan penghasilan. Benar sekali, penghasilan saja nggak cukup. Uang memang penting untuk bayar segala macem, tapi status bekerja juga nggak kalah penting. Karena punya uang tapi nggak punya pekerjaan juga nggak asik, dan lama-lama bikin bego.

Pekerjaan impian saya ? Menjadi relawan yang keliling dari satu pulau antah berantah ke pulau antah berantah lain demi mewujudkan dunia yang lebih baik. Seperti Daniel di Descendants of The Sun. Hidup idealis karena warisannya nggak akan habis sebelas turunan. Nah saya ? Well, impian saya sih menjadi fashion designer. Itu plan A yang sudah gagal dari kapan tahun. Plan B saya : full time writer kayak JK Rowling atau Stephenie Meyer atau Ika Natassa. Sudah terwujud sih, walau nggak full time banget.

buku motivasi

Salah satu pekerjaan saya sekarang jadi freelancer. Menetukan jam kerja sendiri dan bebas mau kerja dari mana saja. Ekspektasi saya sih kerjanya mojok di cafe yang cozy sambil bawa-bawa macbook, terus karena tiap hari ke kafe yang sama, si pemilik kafe sampe apal. Pemilik kafenya masih muda ganteng kayak Lee Min Ho, terus kita kenalan trus we live happily ever after. Hahahaha ... Silahkan siram saya pake air kembang.

No, realitanya nggak begitu. Saya nulis di kamar, nyuri-nyuri waktu pas Uprin lagi nggak rusuh. Kadang subuh-subuh lalu selesai pas Uprin bangun. Kadang Uprin ngajak berantem seharian hingga tengah malam saya nggak bisa nulis satu kata pun. Jadi begadang sudah menjadi kebiasaan buat saya. Memang nggak baik efeknya untuk kesehatan. Dan nambah-nambahin budget skin care juga karena undereye saya jadi makin jelek.
Baca : Blogger’s Life : Begadang and That’s Okay
Do I work too hard ? Nggak juga. Saya cinta menulis jadi freelance writting juga sekaligus menyalurkan hobi. Dan biar otak saya nggak nganggur terus jadi bego. Dan demi eksistensi juga.

Tapi freelancer juga mengalami hal-hal yang sama seperti pegawai kantoran. Jenuh, lelah, salah ngerjain, revisi, direngekin anak, semuanya. Dan secinta-cintanya saya sama menulis, ada masa di mana saya jenuh setengah mati sampai ke ubun-ubun, ada juga periode ketika saya nggak excited bekerja, hanya nulis seperti robot atau bahkan nggak bisa nulis sama sekali. Sedih ya, saya memang bukan seseorang yang born to write. Saya berusaha untuk bisa nulis.
Baca : Blogger’s Life : Yang Dialami Beauty-Mom Blogger
escape universe adalah

Jadi saya butuh yang namanya escape universe, kalau meminjam istilahnya Keara. Sesuatu yang bisa mengalihkan otak saya sebentar lalu mengembalikannya dalam keadaan refreshed. Seperti tombol F5. Keara perlu seseorang seperti Panji sebagai escape universe-nya, perlu bergelas-gelas martini, hingga nonton John Mayer di Manila.
Baca : Antologi Rasa
Saya enggak. Tombol F5 saya receh. Sereceh nonton DOTS berulang kali, membaca metropop kesukaan saya lagi dan lagi, scrolling akun gosip di Instagram, ngrumpi sampai subuh via whatsapp, balas-balasan emot dengan teman lama, ngobrol ngalor ngidul tanpa tujuan dengan teman yang lain. Simpel. But they keep me sane.

Kemudian ada yang nyinyirin, karena saya punya Uprin harusnya saya nggak perlu escape universe lain. Uprin saja harusnya cukup menjadi motivasi saya bekerja. Oke, mungkin kedengaran jahat tapi memangnya saya nggak boleh bosen gitu ditempelin Uprin 25 jam sehari ?

Saya jadi melantur.

Pokoknya intinya saya bersyukur menjadi freelancer dan saya masih waras.
Siapa yang freelancer juga di sini ? Share dong tipsnya gimana bisa survive !
Baca juga punya mak Witri : Freelance

Kiss kiss.

6 comments

  1. Kurang lebih impian kita mirip ahaha. Bukan sok sokan mau mirip-miripin loh. Aku juga punya cita-cita jadi relawan, trus sama juga aku juga ada minat di fashion dan sedang berjuang coba belajar dari nol. Dan aku juga sama-sama jadi freelancer. Kalo ditanya gimana tips biar survive...aku pun masih berusaha nyari titik yang bisa aku pegangin biar bisa tetep survive. Jadi ya..belum ada tips ahaha

    Sejauh ini sih aku masukin sugesti positif sih ke pikiran aku. Nyari vitamin2 yang sekiranya logika dan hati aku bisa nerima. Milih lingkungan positive yang bisa kasih suport vitamin ini juga penting sih kalo menurut aku.


    Ahahhaa. Maafkan komen aku yang kosong ini

    www.rahmabrilianita.com

    ReplyDelete
  2. Yah itulah kadang seorang ibu juga butuh motivasi yg lain. Bukan brrti anak ga bisa, tp kita butuh sesuatu yg beda ya :)

    ReplyDelete
  3. tips survive menjadi freelancer: liburan. that's it hahaha. 7 taun jadi freelancer, pokoknya minimal 3 bulan sekali harus ada break seminggu. bodo amat dibilangnya jalan-jalan mulu, kesehatan jiwa diatas kesehatan dompet!!!

    ReplyDelete
  4. Angan-angan nulis bawa macbook di cafe kecil itu sama banget Kak Vir! Bener ya segala sesuatu yang terlalu "rutin" emang ngejenuhin even itu passion atau bukan. Semangat kak virrr~

    www.khhrnisa.com

    ReplyDelete
  5. I feel you. Saya pun kerja online sebagai freelancer juga to escape my reality yg sekarang jadi full time mom, setelah hampir 20 tahun berkarir di kantor. My work keep me sane dan tidak merasa kehilangan jati diri sebagai pribadi, masih bisa kreatif dan eksis walaupun terbalut daster, rambut diuntel dan muka polos tanpa make up. The old me is still exist through my work and creativity.

    ReplyDelete
  6. Pecinta Ika Natassa mba? Wah, aku juga nih. Nggak pecinta-pecinta banget sih karena baru baca TAoL sama CE (and I way prefer TAoL). By the way, aku juga freelance writer nih. Tapi di-hire sama perusahaan. Aku masih mencari escape universe yg tepat. Aku kira nonton serial TV favorit bakal menyelesaikan masalah. Eh, ternyata bosen nonton :)) Jadi, aku harus ngapain?? :")))

    ReplyDelete

Halo, terimakasih sudah mampir di JurnalSaya. Satu komentar Anda sangat berarti bagi saya.
Semua komentar dimoderasi ya. Komentar yang berisi pesan pribadi akan saya anggap spam.
Oiya, tolong jangan tinggalkan link hidup di badan komentar. Kisskiss

© JurnalSaya
Maira Gall