Kamis, 22 Juni 2017

MOMMALIFE : MOM-WAR ? NO, THANKS

teh hijau cap kepala djenggot

Ada perang yang sama buruk dampaknya dengan world war dan cold war. Please welcome, the famous mom-war ! Efeknya sama-sama merusak. Yang lebih berbahaya, kamu nggak perlu senjata canggih macam rudal atau laser untuk ikutan mom-war. Kamu cuma perlu ujung jempol untuk ngetik via smartphone, atau ujung lidah untuk mencibir di tempat umum.


Mom-war itu mudah. Ada ibu-ibu resign dari kantor demi anak, kamu cibir karena kamu ibu yang sedang mengejar karir. Ada stay at home mom menitipkan anaknya di daycare, kamu cibir karena kamu mompreneur tapi sanggup mengasuh anak sendiri bahkan tanpa bantuan nanny. Ada stay at home mom yang anaknya mengalami speech delay, kamu cibir karena kamu ibu bekerja dan anakmu baik-baik saja. Ada ibu bekerja yang durasi screen time balitanya panjang, kamu cibir karena kamu stay at home mom dan anakmu nggak pernah menyentuh gadget. Ada work at home mom yang nggak ASI eksklusif, kamu cibir karena kamu sibuk di kantor tapi ASI eksklusif tetap terlaksana.
Baca : I Love My Daughter, But Not That Much
Gimana nggak sama dekonstruktifnya dengan world war coba, menjadi ibu saja udah riweh karena banyak peraturan nggak tertulisnya. Menjadi ibu udah cukup sulit karena challenging, banyak hal nggak terduga, dan nggak ada sekolahnya. Menjadi ibu nggak bisa pakai ilmu eksakta, melainkan studi kasus. Nggak bisa selalu satu tambah satu sama dengan dua, jawabannya berbeda antara ibu satu dengan ibu lainnya. Pengalaman morning sickness, melahirkan, cara mendidik anak, hingga kondisi masing-masing ibu itu berbeda. 

Harusnya sesama ibu saling mendukung, bukan mencibir. Saling mencibir hanya akan membuat para ibu merasa nggak sempurna, terbebani, hingga kemungkinan terburuknya bikin depresi. Akibatnya kalau para ibu depresi ? Google aja ya !

Dari pada bikin mom-war, mending cari teman sesama ibu yang sehati. Maksudnya bukan yang konsep parentingnya sama persis plek ketiplek, tapi yang saling mendukung dan nggak suka nyinyir meski punya konsep parenting berbeda. Saya punya teman semacam itu. Meet my sister by blood, also by heart.

teman sehatea

Saya dan saudari saya beda usia setahun, jadi ya memang dekat dari zaman masih gadis. Bahkan sekolah kami barengan terus dari SD sampai kuliah. Di SMA kami kos bareng, tiap Sabtu mudik bareng dan Senin paginya telat bareng ke sekolah. Sampai sekarang kami punya balita bareng. Hahaha ... Tapi karakter kami aslinya beda banget. Saudari saya cancer, keibuan dan tipikal family woman. Sementara saya sagitarian yang mudah bosan dan cinta kebebasan. Dia tadinya bankir dan kemudian resign secara sukarela menjelang melahirkan, sementara saya nggak akan mau mengorbankan karir demi keluarga. Saudari saya enjoy menjalanai peran sebagai ibu rumah tangga merangkap mompreneur, sementara saya work-at-home mom yang nggak betah di rumah.

Dalam mengasuh anak, saya dan saudari saya berbeda konsep juga. Saya cenderung cuek, yang penting anak senang saya senang, mau berangkat sekolah atau nggak terserah anak saya. Sedangkan saudari saya telaten banget, anaknya disiplin jam tidur dan sekolahnya. Anak saya ASI eksklusif 2 tahun dan masih ASI sampai sekarang. Saudari saya ASI eksklusif 6 bulan saja. Tapi kami nggak pernah saling kritik, sama sekali.

teh hijau untuk detoks

Meski prinsip hidup dan konsep parenting kami berbeda, saya dan saudari saya klop banget kalau sudah ngomongin baju, gosip, dan selfie.  LOL. Iya dong, kami sama-sama suka online shopping dan ngikutin gosip artis. Selfie juga. Pas nggak puasa, kami suka ngobrolin gosip sambil ngeteh bareng. Meskipun gosip itu nggak sehat, pilihan gaya hidup kami sehat. Pilihan sehatea kami biasanya Teh Hijau Kepala Djenggot. Lucunya, kami udah lama suka teh hijau ini tapi baru ngeh kalau yang kami suka itu Teh Hijau Kepala Djenggot. Selain sehat, teh hijau juga kaya antioksidan yang bagus untuk tubuh. Secara obrolan kami toksin semua, setidaknya kami detoks tubuh pakai teh hijau. Hahaha ...

teh hijau bagus untuk kesehatan

Kamu punya cerita relationship yang berbeda namun #sehatea juga ? Share dong cerita kamu di kolom komentar ! Atau boleh juga kamu ceritakan di blog pribadi kamu supaya makin banyak orang yang terinspirasi.

Kiss kiss.


(ADV)

Tidak ada komentar

Posting Komentar

Halo, terimakasih sudah mampir di JurnalSaya. Satu komentar Anda sangat berarti bagi saya.
Semua komentar dimoderasi ya. Komentar yang berisi pesan pribadi akan saya anggap spam.
Oiya, tolong jangan tinggalkan link hidup di badan komentar. Kisskiss

© JurnalSaya
Maira Gall