Rabu, 12 Juli 2017

LIFE AS DIVORCEE #1

being young divorcee

Akhirnya saya jadi bikin series ini. Kemaren kapan saya sempet share di instastories (follow @phirlyv yaaa), soal status divorcee yang masih dianggap sebagai aib oleh sebagian orang. Nggak usah jauh-jauh, beberapa orang di sekitar saya yang memang close minded masih beranggapan begitu. Me be lyke : ini udah 2017, apa sih yang salah dengan status divorcee ?

Baca : Being Young and Beautifull Divorcee
Kayaknya memang ada yang salah sih. Hahaha ... Status young divorcee itu konotasinya negatif banget. Saya sendiri bahkan nggak tega menulisnya dalam istilah bahasa Indonesia, apalagi bahasa Jawa. Sumpah nggak enak banget di kuping. Kesannya apa banget. Saya yakin bukan cuma saya yang merasa begitu.

Iya sih, perceraian itu sesuatu yang meskipun boleh tapi dibenci oleh Tuhan. Iya juga, kalau bercerai sama dengan menyerah karena nggak mau menyelesaikan masalah. Iya juga, kalau perempuan meminta cerai berarti dia egois karena memikirkan kebahagiannya sendiri. Iya juga, kalau bercerai di usia muda disebabkan oleh pernikahan di usia muda, yang berarti the marriage itself awalnya memang bukan hasil pemikiran matang orang dewasa. Dan masih banyak iya-iya yang lainnya.
Baca : I Love My Daughter, But Not That Much
Nggak salah kalau bagi sebagian orang status divorcee itu sama dengan aib. Apalagi buat perempuan. Kalau di drama-drama, perempuan yang berstatus divorcee pasti karakternya antagonis (eh, di drama Wonderfull Mama karakter Oh Da Jung protagonis ding). Makanya banyak perempuan yang bertahan dalam pernikahan meskipun nggak bahagia. Entah alasannya demi anak, demi nama baik keluarga, demi masa depan yang terjamin, dan demi-demi yang lain. Nggak apa-apa juga, I’m not in their shoes jadi saya nggak tau bagaimana pertimbangan mereka.

Sama seperti menikah atau menjadi single selamanya, bercerai atau bertahan juga pilihan.

Tapi begini. Kalau status kamu divorcee, pasti kamu ngerti banget the wholepeople stare people judge”. Kalau kamu orang yang dekat dengan si divorcee, pasti kamu pernah merasa kasihan kepadanya. Kalau kamu orang yang kenal si divorcee sebatas nama dan muka, pasti kamu pernah  mencibir setidaknya sekali waktu saat kamu melihatnya. Bener nggak ? Apa saya yang sok tau ?

Jadi ya, saya pengen nulis soal ini. Saya pengen banget divorcees di luar sana, dan perempuan-perempuan lain membuka mata : being divorcee nggak seburuk itu kok. Malahan banyak baiknya. Serius deh.

Saya pengen share, tapi saya nggak tau mau mulai dari mana. Bantuin saya ya ? Kasih ide saya nulis soal apa di Life As Divorcee #2 nanti. Kita share sama-sama karena women empower one another kan ya ?


Kiss kiss.

6 komentar

  1. Setuju vir, kadang bercerai lebih baik daripada memaksakan untuk tetap bersama tapi udah ga sejalan.

    Lia,
    www.liamelqha.com

    BalasHapus
  2. Semangat mbak, memang boleh tp dibenci. Tapi daripada sama2 makan ati baikan pisah kan yaa #sotoyyy.

    Pengen nyumbang ide mbak, gimana caranya bisa struggle sama omongan orang trus pembuktian diri kalau baik2 aja gimana. Hihihi.

    Salam kenal ya mbak.

    Novi,
    Emansisapi.wordpress.com

    BalasHapus
  3. Let's empower each other! Aku pun paham banget kalau perceraian ngga hanya krn egois semata

    BalasHapus
  4. u must be a strong woman :)

    BalasHapus
  5. Menjadi divorcee itu sangat ga mudah apalagi di iklim indonesia yg begini ini. Nungguin kelanjutan kisahnya, kalau boleh usul, gimana kalo di tambah kisah ttg hari2 awal melewati status baru hingga akhirnya menganggap "ya sudahlah"

    BalasHapus
  6. Hidup itu pilihan ya. Mau keliatan senang tapi makan hati, atau mau senang sesuai kata hati tapi banyak yang mencibir. Tenang, selama kita bertanggung jawab pada pilihan sendiri dan tidak mengganggu hidup orng, yang mencibir juga akan diam sendiri karena sebenarnya yang kebanyakan mencibir justru karena dirinya kurang puas dan gak merasa yakin pada pilihan hidupnya sendiri. Semangat mba. Keep setrong kata orang sana.

    BalasHapus

Halo, terimakasih sudah mampir di JurnalSaya. Satu komentar Anda sangat berarti bagi saya.
Semua komentar dimoderasi ya. Komentar yang berisi pesan pribadi akan saya anggap spam.
Oiya, tolong jangan tinggalkan link hidup di badan komentar. Kisskiss

© JurnalSaya
Maira Gall