Wednesday, August 2, 2017

SOPHISMATA : PASSION IS BULLSHIT (?)

review buku sophismata karangan alanda kariza

Saya lupa pernah dengar di mana : entah dengar dari mulut orang lain atau dengar dari suara kepala sendiri. Buku yang bagus adalah yang meninggalkan pertanyaan setelah selesai membacanya. Sophismata membuat saya mempertanyakan banyak hal tentang hidup, passion, impian, cita-cita, dan bagaimana menjadi dewasa yang semestinya. Oh, well, kepala saya memang selalu dipenuhi pertanyaan.


Saya setuju banget dengan pendapat Sigi, bahwa apapun yang namanya pekerjaan, sesuka apapun, se-passionate apapun kita pada pekerjaan itu, akan ketemu titik jenuhnya juga. Tapi selama ini saya percaya kalau pekerjaan terbaik adalah yang sesuai dengan passion kita, yang membuat kita bekerja dengan hati, bukan cuma pengisi waktu antara hari Minggu hingga Sabtu.
Baca : Behind Those SleeplessNight
Menurut Sigi nggak begitu. Passion nggak seharusnya dijadikan pekerjaan karena nanti justru akan mengurangi nilai fun dari passion itu. Ya bener juga sih. Di titik inilah kemudian saya bertanya-tanya.

passion dalam pekerjaan

Orang-orang menggembar-gemborkan soal passion segala macam, bahwa passion harus dikejar sampai mati, bahwa hidup tanpa passion itu sama saja nggak hidup. Passion membuat kita bersemangat bla bla bla. Seakan-akan nggak punya passion dalam hidup itu dosa. Seakan-akan mereka yang bekerja tanpa passion itu perlu dikasihani (bekerja tanpa passion = kerja pakai seragam di kantor yang membosankan, IMHO ya). Padahal kan siapa tahu kalau mereka memang nggak butuh teori soal passion, atau nggak peduli, atau memang passion mereka kerja kantoran memakai seragam membosankan. Toh, siapa bilang yang namanya passion harus selalu berkenaan dengan hal-hal yang sifatnya kreatif dengan nafas kebebasan ?

Cukup soal passion.
Baca : Passion Saja TidakCukup (Warning : link yang ini nggak usah diklik, nggak baca-able banget artikelnya)
Saya agak bingung mengomentari Sophismata, anyway.

PS : Saya nggak berniat spoiler, sungguh. Tapi ya gimana akhirnya ada spoil-spoil juga.

sophismata alanda kariza

Awalnya, saya agak nganu karena novel ini nggak sesuai ekspektasi saya. Entah ekspektasi yang bagaimana. Tapi, membaca tagline di bawah judulnya, serta desain covernya, saya menyangka kisah Sigi akan jauh lebih rumit. Malah tadinya saya kira something happens antara Sigi dan Pak Johar. Ternyata cerita Sigi cukup simpel dan menarik.

Latar belakang politik nggak sekental yang saya harapkan. I mean, seandainya setting politik diganti dengan setting pekerjaan media bisa juga. Pak Johar adalah editor in chief sebuah media berita yang selama ini dikira berintegritas dan jujur segala macam, ternyata sifatnya oportunis. Kemudian Sigi adalah asisten pribadinya, yang ingin naik pangkat menjadi jurnalis. Sementara Timur sedang membangun medianya sendiri. Nggak akan mengubah cerita, ‘kan ?

Saya tadinya membayangkan novel karya Alanda Kariza ini akan menjadi semacam thriller psikologis yang membuat pembacanya bingung, berpikir keras, kemudian berakhir dengan bersikap skeptis terhadap hitam putihnya hidup. Seperti efek yang saya dapatkan setelah membaca Hujan, Labirin Malam, Jangan Main-Main Dengan Kelaminmu, atau setelah saya menonton Black Swan atau Country Strong.

Bukan saya bilang Sophismata nggak bagus loh ya. Saya suka Sophismata justru karena novel ini sangat logis. Salah satu novel paling logis yang pernah saya baca. Nggak ada karakter antagonis yang jahatnya lebay. Pun protagonisnya bukan perempuan berkarakter tanpa dosa.

Sisi dramanya nggak cheesy. Padahal nih ya, the hero and the heroine di sini adalah high school crush. That typical long term crush, yang meskipun dasawarsa berlalu tapi masih menimbulkan efek butterfly in stomach kapanpun berinteraksi. Tapi sama sekali nggak ada sweet scene menye-menye di sini. Not even di first meet mereka. Nggak ada tuh acara awkward atau speechless tralala. Nggak ada fancy dinner. Apalagi adegan tabarakan kebetulan atau kepleset terus ditangkap. Mereka bersikap layaknya orang dewasa. Hati-hati, terbuka, dan logis. They know each other bahkan tanpa bilang apa-apa. Ralat : mereka saling memahami meski nggak tahu apa-apa tentang satu sama lain.

Sigi itu tipe perempuan sederhana, kalem tapi tegas. Bukan tipikal alpha femiale yang menonjol macam Anya (di Critical Eleven) atau perempuan millenial yang meledak-ledak yang jago flirting macam Keara (di Antologi Rasa). Sigi lebih patuh, lebih membumi. Bukan orang kaya raya, dan bukan juga orang susah. Sementara Timur, nggak ada yang spesial kalau saya bilang. Hanya baik, dan mungkin ganteng. Tipe-tipe yang kalau di teenlit pasti jabatannya ketua OSIS. Eh, Timur juga ceritanya mantan ketua OSIS ding. Nggak ada anak CEO perusahaan multinasional atau sebangsanya.
Baca : Akhirnya Saya BacaAntologi Rasa (Lagi)
Karakter utama di sini adalah dua millenial biasa yang bekerja setiap hari, yang punya mimpi dan berusaha mengejarnya. Impian mereka nggak sederhana, tapi cara mereka meraihnya sama seperti kita : bekerja keras. Nggak perlu menghalalkan segala cara demi passion, nggak perlu bertengkar dengan orang tua karena cita-cita. Dan ya, bekerja tanpa passion itu nggak apa-apa.

Konfliknya mengalir sederhana, nggak ada klimaks jungkir balik, nggak ada akhir bahagia selamanya.

resensi novel sophismata

Satu lagi, ada satu kalimat Sigi yang menempel di kepala saya : “I don’t know. You tell me. Are you worthy ?”

Menurut saya sih worthy. Eh !

Ada yang sudah baca Sophismata-nya Alanda Kariza juga ? Share dong opini kamu !

Kiss kiss

Judul : Sophismata
Penulis : Alanda Kariza
Penerbit : Gramedia
Tahun Terbit : 2017

Jumlah Halaman : 272 hlm ; 20 cm

4 comments

  1. Viiir.. aku salut banget ih kamu suka baca novel . Novel satu-satu nya yang aku khatam baca nya cuma harry potter..

    *Anaknya males baca buku tuebel😂

    ReplyDelete
  2. Bagi saya novel logis itu menarik, nggak menye-menye cerita yang baik-baik, atau terlalu ekspos tokoh jahat yang penuh intrik. Btw, nice review Mbak, kalau ketemu bukunya pengen baca juga :)

    ReplyDelete
  3. Hmmm saya kirain tadinya agak mirip sinetron dunia tanpa koma yg mana sigi mirip dg raya, pak johar mirip ama bossnya raya yg jg redsktur di media ybs
    Klo novel jujur saya masi menggemari karya2 ayu utami yg byk menimbulkan tanya misal saman dan larung, djenar maesa ayu, dn tentu aja dee untuk pnulis lokal

    Klo passion dijadiin pekerjaan semua lantas nanti hobi akan diidentikan dg sesuatu yg harus dikerjain seserius matapencaharian, hihi...bener juga sih, ga selamanya kerja bukan sesuae passion itu dosa

    ReplyDelete
  4. Passion itu bukan berarti stuck di itu - itu saja, justru harus berkembang. Aku memang suka sama pemikiran Sigi yang ini dan menyambungkan antara filosofis hidupnya dengan kue - kue yang dibuatnya. Tak lupa juga Timur yang objektif dan pemahaman politiknya yang levelnya dewa tanpa terkesan menggurui Sigi hehe.

    Pokoknya novel ini bikin aku jatuh cinta sama karakter utama karena biasanya kalau baca novel aku lebih suka secondary karakter daripada karakter utamanya hehe.

    www.extraodiary.com

    ReplyDelete

Halo, terimakasih sudah mampir di JurnalSaya. Satu komentar Anda sangat berarti bagi saya.
Semua komentar dimoderasi ya. Komentar yang berisi pesan pribadi akan saya anggap spam.
Oiya, tolong jangan tinggalkan link hidup di badan komentar. Kisskiss

© JurnalSaya
Maira Gall