Saturday, September 30, 2017

BALI DAN GRANDEUR STUPIDITY

atv outbound
Kalau ini bukan di Bali :)

Beberapa waktu lalu saya sadar kalau Facebook jauh lebih akurat dari pada amygdala. Bagi millenial seperti kita yang tumbuh dewasa di Facebook, segala kenangan, hari-hari penting, hingga berbagai macam emosi yang pernah kita rasakan semuanya tercatat di media sosial satu itu. I mean, ingat nggak, ada hari-hari di mana kita menuliskan apa pun yang lewat di kepala kita menjadi status Facebook ? Well, kita, saya termasuk di dalamnya.


Rasanya aneh saat saya membuka fitur On This Day dan membaca status-status saya zaman dulu kala. Seperti membaca diri saya sendiri versi labil dari kaca mata orang dewasa. Sekaligus merasakan lagi emosi-emosi kala itu.

Wtf, saya pernah sebodoh itu.”
Wth, apa sih yang saya pikirkan waktu itu ?”
Omagah, bisa-bisanya saya ...”

Etc etc. Ngerti kan maksud saya ?

Beberapa waktu lalu, Mark Zuckeberg mengingatkan saya akan Bali. Bukan ingatan yang menyenangkan, you might wonder. Terakhir kali saya ke Bali, enam tahun yang lalu. Waktu itu, Bali adalah saksi dari grandeur stupidity in my life. Jangan nanya stupidnya kayak apa, pokoknya stupid banget.

Waktu itu, jiwa raga saya ada di Bali tapi instead of making beautiful memories, saya malah bikin drama sendiri. Mending kalau drama beneran pakai ilmu sinematografi. Ini drama abal-abal.
Baca : Usia 25
Saya ke Tanah Lot tapi nggak menemukan suasana damai di sana. Saya ke Kuta tapi yang saya lihat hanya kerumunan berlalu-lalang. Saya ke Tanjung Benoa tapi jangankan main water sport, nyentuh air laut aja nggak jadi. Saya ke Dreamland tapi yang ditangkap penglihatan saya hanya gap antara traveller kaya di area resor dan turis budget yang berserakan di tepian pantai. Saya ke GWK tapi saya bahkan nggak lihat ada Garuda disana. Saya nggak melihat Bali sebagaimana seharusnya.

Saya jadi nggak suka Bali. Padahal bukan Bali-nya yang salah. Nggak adil banget saya mengaitkan Bali hanya pada satu orang yang turut andil dalam grandeur stupidity saya sendiri. Saya mau menetralkan Bali.

Replace Old Memories


Pinjam punya Bali Funky

Saya lupa pernah baca di mana, kita bukanlah kita tanpa memori di kepala. Ingatan manis, pahit, asam, apa pun itu dari masa lalu, selamanya akan mengendap di kepala kita, membentuk diri kita yang sekarang. Kita kan nggak bisa memilih ingatan mana yang disimpan dan kenangan mana yang mau dibuang.

Seperti ingatan akan sebuah tempat di mana kita pernah singgah. Sekalipun kita sudah membuang segala artefak mengenai tempat tersebut, ingatan kita nggak bisa berpura-pura lupa kalau kita pernah ke sana. Otak saya nggak bisa pura-pura lupa kalau saya pernah menginjakkan kaki di Bali dengan orang yang menjadi sumber grandeur stupidity saya.

Aduh, saya jadi mellow.

Ah, saya hampir lupa mau bilang. Meski kenangan buruk nggak bisa dibuang, kita bisa kok menggantikannya dengan kenangan manis. Itu yang mau saya lakukan di Bali nanti. Replacing old memories.

Apa Pun Asalkan Mem-Bali


Pinjem punya Bali Funky

Tujuan saya simpel, mereplace kenangan supaya Bali nggak lagi saya identikkan dengan grandeur stupidity. Jadi pada dasarnya saya akan girang ke mana pun itinerary membawa saya selama di Bali.

 Sepedaan di Ubud a la Eat, Pray, Love. Rafting sekalian nyoba nyetir offroad demi adrenalin. Keliling Sukowati lalu nonton tari kecak di Uluwatu lalu sunbathing di private beach-nya Ayana seperti mem-Bali a ala Keara.
Baca : Antologi Rasa
What else ? Nungguin sunset sambil jongkok bego main pasir di pantai mana pun yang ada sunsetnya. Hunting skincare dan aromaterapi khas Bali, berpindah dari store Sensatia Botanicals, lanjut ke Utama Spice, lalu Isha Naturals. Berburu sambel matah dan nasi wardani dan makanan apa pun yang halal untuk stok rubrik #LunchWithVirly.
Itu semua cukup kan untuk menetralkan Bali ? Cukup kan, untuk membuat saya nggak lagi tersenyum pahit saat Mark mengingatkan saya soal Bali ?

PS : This post is my attempts to be chosenas 1 of the 4 winners of Bali Funky Blogger Hunt in collaboration with PungkyPrayitno. (Unfortunately, the competition was canceled)

No comments

Post a Comment

Halo, terimakasih sudah mampir di JurnalSaya. Satu komentar Anda sangat berarti bagi saya.
Semua komentar dimoderasi ya. Komentar yang berisi pesan pribadi akan saya anggap spam.
Oiya, tolong jangan tinggalkan link hidup di badan komentar. Kisskiss

© JurnalSaya
Maira Gall