Tuesday, September 19, 2017

LIFE AS DIVORCEE #3 : PRE-MARRIAGE TALKS I DIDN’T DO

lawang sewu semarang

Nggak jadi nulis soal a broken home becomes another broken family. Nanti aja deh kapan-kapan. Saya lagi kepikiran soal ini : pre-marriage talks. Dulu sebelum memutuskan menikah saya nggak tahu omongan semacam ini penting. I was young, so naive, and kinda hopeless romantic. Saya kira love can solve every problems. Like, everything. Padahal saya nggak secinta itu juga sih. Hahaha ...

Baca : Life As Divorcee #2
Jadi, pre-marriage talks itu apa ? Bukan soal konsep resepsi pakai adat apa, di gedung mana, pakai baju rancangan siapa, MUA-nya siapa loh ya. Pre-marriage talks itu deep conversation antara kamu dan partner, tentang banyak hal : prinsip, impian, pandangan soal hidup, visi, dan sebangsanya. Harusnya buat saya nggak masalah. Saya selalu suka deep conversation. Well, tergantung yang diajak ngomong juga.

Nah, itu loh. Seseorang yang kamu nikahi harusnya seseorang yang dengan dia kamu nyaman ngomongin apapun. Kamu kan nggak berencana nikah cuma untuk setahun dua tahun. Bayangin deh, seumur hidup bareng seseorang yang mau ngomong aja kamu mesti mikir sejuta kali. Nyaman nggak ? Kalau kata anak Beautiesquad kemarin, yang penting nyaman dulu, kalau udah nyaman biasanya langgeng.
Baca : Jika Dia Abusif
Mari kita breakdown apa-apa aja yang perlu didiskusikan pada pre-marriage talks.

PS : I wish I read this before I said yes years ago. Really.

Soal Hidup dan Prinsip

Ini paling penting. Orang bilang perbedaan akan bikin kalian saling melengkapi. Hahaha (ini saya ketawa sinis). Oh iya bener saling melengkapi kalau perbedaannya bukan di hal-hal prinsipil. Beda makanan favorit, beda selera genre film, beda buku bacaan, beda cara menghabiskan me-time, beda pilihan karir. Selama saling menghargai pilihan masing-masing nggak akan ada masalah. Selama memandang hidup dengan cara yang sama dan punya prinsip senada akan baik-baik saja.

Yang jadi problem, kalau kamu dan your SO berbeda di hal-hal prinsipil. Contoh kasus :
  • Kalian sama-sama muslim, tapi kamu moderat masih pakai celana panjang suka pakai make up suka travelling solo. Sedangkan your SO lebih saklek, menganggap perempuan nggak pantes pakai celana, haram pakai make up, dan travelling sendirian itu big no. Yakin deh, kalau nggak punya stok ngalah ekstra pasti banyak berantemnya.
  • Kamu suka kebebasan, tapi partner kamu posesif. Buat kamu privacy tetap penting, sedangkan menurut dia privacy berarti ada yang ditutup-tutupi. Kalau ini sih berarti ada yang salah dengan partner kamu.
  • Kamu feminis, menurut kamu perempuan dan laki-laki itu setara termasuk dalam hubungan pernikahan. Jadi kamu ingin tetap punya karir, punya kebebasan berpendapat, dan ikut andil dalam membuat keputusan. Sayangnya partner kamu (dan biasanya keluarga besarnya juga) tipikal orang kuno yang patriarki banget, menganggap perempuan adalah makhluk kelas dua yang harus taat tanpa syarat pada suami. Serius deh, kalau gini kasusnya mending kalian nggak usah nikah.
  • Dan lain-lain.

Visi dan Impian

Masih nyambung sama soal hidup dan lain lain. Selalu ingat ini : you deserve partner yang bisa mengimbangi kamu. Coba tanya SO kamu, apa rencananya lima tahun ke depan. Analisis jawabannya, sesuai nggak dengan harapan kamu. Bagus kalau jawabannya kedengaran yakin dan realistis. Kalau kebalikannya ? Kalau malah dia nggak punya jawaban apa-apa gimana ?
Baca : Dear High Quality Single Ladies
Kamu yang punya ambisi, cita-cita, impian tralala, hidup serba cepat, apa mau settle down pada orang yang bahkan nggak punya visi, yang moto hidupnya “jalani saja ikutin takdir”?

Oh, mungkin kamu akan berpikir kalau dia yang nggak punya visi itu akan membuat kamu lebih kalem. Nggak masalah your SO nggak mengimbangi kamu yang penting selalu support. Ehm, gimana ya bilangnya ? Kalau cuma nggak punya ambisi besar sih nggak apa-apa, tapi kalau nggak punya visi atau rencana sama sekali ? Yakin nih, nanti kamu nggak akan merasa jengkel hidup sama orang yang santai sementara kamu sibuk mengejar apapun yang sedang kamu kejar ?

Soal Anak

Ini penting banget juga ya ampun. Dan saya dengan begonya nggak pernah ngomongin apapun soal ini. Saya nggak suka anak-anak dari dulu, dan nggak pernah bisa bayangin suatu hari akan dipanggil mama oleh seorang balita yang hobi nomer satunya ngerusuh. Tapi saya punya anak juga suatu hari lalu, yang mau nggak mau harus saya suka.
Baca : I Love My Daughter, But Not That Much
Beneran deh, masalah anak ini bisa rumit banget. Misalnya, kamu nggak pengen punya anak tapi keluarga dia mewajibkan menantu harus bisa menghasilkan minimal 3 penerus nama keluarga. Atau, kamunya mau punya anak sedangkan dia ogah. Atau, kalian selow punya anak berbagai gender dan sayangnya para kakek dan nenek ingin cucu gender tertentu.

Masih soal anak juga, kamu dan partner perlu banget diskusi soal hal yang kelihatan sepele tapi penting : siapa yang nanti mengasuh si anak. Jangan bilang “ya kedua orang tuanya”. Teorinya gitu, tapi pada praktiknya nanti ... Bayangin deh, kamu kerja, dia kerja, kamu butuh me-time, dia juga butuh me-time, kalian berdua butuh us-time. Terus si anak gimana ? Mau pakai nanny atau masukin daycare, kalau nanny perlu disupervisi nggak ? Siapa yang mengawasi ? Mama kamu atau mama dia atau siapa ? Kalau kamu harus resign demi ngurus anak gimana, rela atau nggak ? Atau dia aja yang resign ?

Kemudian, gimana nanti pola asuhnya ? Disiplin parah atau demokratis atau liberal aja sekalian. Mau billingual atau trilingual atau bahasa isyarat. Nanti sekolah mau dimasukin pesantren atau sekolah Internasional atau homeschooling atau sekolah negeri. Nanti udah gede gimana kalian mau mendukung passionnya, gimana kalau malah nggak punya passion. Etc etc.

Money Talks

Isi diskusinya : gaji per bulan, penghasilan tahunan, jumlah cicilan, punya tanggungan atau nggak, punya investasi apa aja, lebih suka travelling atau nabung, lebih suka makan enak atau sering beli sepatu, dan sebangsanya. Oh iya, termasuk merencanakan biaya pernikahan dan kemungkinan membuat perjanjian pisah harta.

Sex Stuffs

Well, topik ini rasanya agak tabu bagi sebagian besar pasangan Indonesia. Apalagi kalau kamu dan partner sama-sama orang yang besar di lingkungan religius. Agak aneh memang kalau kamu yang berjilbab dan partner kamu yang pakai baju koko ngomongin soal ini. Ya jangan ngomongin yang terlalu detail juga.

Intinya cuma supaya ngerti preferensi masing-masing. Apa kamu dan partner tipe konservatif atau adventurous, aktif atau pasif, dominan atau submisif. Bukan apa-apa, kalau kalian berdua sama-sama pasif dan lebih suka jadi submisif kan nggak kompatibel.

PS lagi : saya nggak bilang kalau pre-marriage talks menjamin pernikahan kalian akan langgeng. Tapi setidaknya, kalian akan lebih ngerti satu sama lain. Kamu dan partner kan hidup di dunia nyata, bukan seperti Sigi dan Timur yang saling mengerti walaupun nggak bilang apa-apa. Jadi, komunikasi itu penting.
Baca : Sophismata
Oh iya, satu lagi. Perhatikan juga gimana partner kamu selama berdiskusi. You’ll see if he’s the right one or not.

Jadi, ada yang berencana menikah sebentar lagi ?


Kiss kiss

14 comments

  1. Setuju banget kalau semua topik di atas perlu dibicarakan sebelum menikah. Soal detil pertanyaan mungkin tiap pasangan beda2 ya karena kondisinya kan bisa beda2.
    Oya ada 1 lagi topik yg jg aku sempatin bahas dulu sblm menikah, yaitu ttg perceraian.
    Bukan utk merencanakan perceraian ya. Tp justru utk ngecek apakah sdh sama2 tau apa aja yg bisa bikin bercerai. Trus diliat dr kondisi awal kita yg mau menikah, kira2 titik mana aja yg bisa bikin bercerai. Trus apa solusi utk menghindarinya. Bahkan jika akhirnya kita sampai pd persimpangan pilihan mau cerai atau lanjut, apa yg akan kita lakukan. Bgmn kita akan memperlakukan mantan kita. Alhamdulillah, dg antisipasi di awal, walau sdh bbrp di titik kritis akhirnya kami masih survive sampai sekarang

    ReplyDelete
  2. kak virly aku padamu, ini bener-bener buka wawasan aku sih dan bikin yakin "nikah muda itu bukan segalanya" #BrbNgedraft

    www.khhrnisa.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Suka gemes liat cewek cewek yang kebelet nikah. Duh yaa belum ngrasain, nikah kan pintu gerbang ke 1001 masalah lol tapi jangan takut nikah juga sih hehe

      Salam kenal

      Delete
  3. Walaupun masih jauhhhhhhhhhh banget buat aku, aku ttp baca ini. Suka ama topik life gini XD.

    Pemikiran kakak bener2 pemikiran cewe modern independen! Bukan tipe cewe ababil yang gak berpikiran panjang. Tipe cewe kuat independen ginilah yang akan dikatai "sok", "sok jual mahal", you named it. Padahal we deserve a high quality men that capable for us




    www.maryangline.com

    ReplyDelete
  4. Bahagia menemukan tulisan ini karena insya allah tahun depan mau merit dan bodohnya belakangan ini hanya membicarakan soal nanti wedding day mau gimana endebre - endebre. Terima kasih kak! Ku senang banget dapet insight baru dan sepertinya langsung mau ajak calon suami duduk berdua untuk ngomongin ini semua. Penting!

    ReplyDelete
  5. Aku dulu bikin tulisan mbak tentang semua itu lalu visiku gmn, mimpiku apa, anakku nantinya gmn dll begitu jg suamiku aku suruh bikin dan sampai skrg kalo ada apa2 aku suka liat apa yg kami tuliskan itu... Cukup membantu mengingat mimpi2 yg sebelum nikah mau dicapai jg setelah nikah.

    ReplyDelete
  6. Sayang aku bacanya abis nikah lol.. Hahaha iya penting banget ngomongin hal itu sebelum nikah. Akhir akhir ini banyak 'pertanyaan' tapi baik buruknya keadaan memang tergantung gimana cara pandang kita juga 😊

    ReplyDelete
  7. Hai mbak Virly. Setuju banget sama bahasannya. And yes i did it sebelum nikah sama suamik.
    Bahas tar tinggal sama mertua apa beli rumah sendiri, bahas karir, bahas pengaturan gaji, bahas punya anak berapa siapa yang ngasuh, bahas frekuensi sex, bahas fisik setelah melahirkan, bahas poligami, bahkan bahas "seandainya aku ga bisa punya anak apa yang kita lakukan"

    Aaak gitu aja masih sering ribut koq, ya namanya 2 kepala pasti ga selalu sejalan.

    Salam kenal ��

    ReplyDelete
  8. Nah! Aku lebih suka ngobrolin pre-marriage dengan bahasan kayak gini daripada nulis caption foto di instagram siap dihalalin dan sebangsanya. Aduh curhat.

    ReplyDelete
  9. wah, dapet ide dari mana nih mak Vir? Topik yang jarang ditulis, tapi penting. Jadi inget, aku dulu ngobrolnya by phone tiap malem, secara ketemuan sebelum akad, cuma dua kali.

    But, Islam is the best dengan mambuat aturan pacaran setelah nikah, semuanya surprise, tapi jadikan hal prinsipil td sbg landasan. Nice sharing :)

    ReplyDelete
  10. selalu! bahasa-nya asyik mak! bahasan-nya juga kece.

    penting banget itu mak. jadi sebetulnya penataran di KUA tuh ada benarnya juga. walau pertanyaannya kadang bikin gemes karena klise tapi ada juga yg bikin diskusi berlanjut di dua calon manten.

    ReplyDelete
  11. Kenapa gak dishare dr 2tahun yg lalu sih kak. 😣 Kerasanya sekarang nikah diburu-buru tanpa memikirkan matang-matang segalanya jadi baru kerasanya sekarang :/

    ReplyDelete
  12. Topik ini penting banget mba Vir... kami melalukan pre talk ini.
    Menyatukan misi dan visi.
    Menimbang2 kecocokan tujuan.
    Meski kami berbeda nyaris di segala hal... namun untuk hal yg prinsipil kami sama.

    Berantem?
    Ya tetep adalaaaah...
    So far lebih dari 20 th kami masih bersama

    ReplyDelete
  13. aku pernah ngomongin pre marriage talks dulu, cuman yaa enggak lengkap banget.. cuma sebatas impian-impian yang makin ke sini kok... ah ya gitu dech :)

    ReplyDelete

Halo, terimakasih sudah mampir di JurnalSaya. Satu komentar Anda sangat berarti bagi saya.
Semua komentar dimoderasi ya. Komentar yang berisi pesan pribadi akan saya anggap spam.
Oiya, tolong jangan tinggalkan link hidup di badan komentar. Kisskiss

© JurnalSaya
Maira Gall