Thursday, October 26, 2017

LIFE AS DIVORCEE #4 : BEFORE YOU DECIDE TO DIVORCE


Jadi, kadang-kadang saya suka scrolling grup mother-mother jaman now di Facebook. Plis, jangan close tab dulu ! Di dalam grup itu penghuninya bebas curhat. Jadinya ya semacam tempat sampah sih. Semuanya tumpah di sana. Campur aduk mulai dari berita bahagia, thread iseng nirfaedah, curhatan yang berpotensi menuai derai air mata, hingga cerita sensasional yang minta dicaci banget.


Yang paling banyak tentu saja cerita sedih mengharu biru. Konflik menantu-mertua yang nggak pernah habis, iri-irian sama ipar, suami doyan jajan, suami kurang ajar, gaji suami dikit, macem-macem. Yang ada di otak saya : kasihan. Mereka sampai cerita masalah domestik di grup media sosial, yang mereka nggak kenal orang-orangnya. Pasti mereka have nobody to talk to di dunia nyata.

Tapi bukan itu yang jadi pusat perhatian saya. Melainkan komen-komen di bawahnya. Kalau nggak nyuruh sabar ya nyuruh cerai. Sebenarnya dalam hati saya juga nyuruh cerai aja sih. Cut your losses, kalau nggak nyaman ngapain diterusin. Simpel. Tapi kan nggak bisa begitu juga. Orang punya pertimbangan masing-masing.
Baca : Life As Divorcee #1
Let me tell you this ya. Bercerai itu mudah. At least bagi yang muslim seperti saya. Kalian berantem, suami bilang cerai, ya itu udah cerai. Buka kitab fiqih lagi deh. Administratifnya juga gampang. Waktu itu saya di pengadilan agama sih seharian, tapi sidangnya cuma 5 menit. Literally 5 menit, yang lama ngantrinya. Artinya : pasangan yang cerai banyak banget.
Baca tulisan saya di Mommiesdaily : Being Young and Beautiful Divorcee
Cerainya gampang, sayangnya kehidupan pasca bercerai nggak segampang itu. Well, nggak susah juga sih sebenarnya. Eh, ya tergantung orangnya ding. Untuk perempuan selfish, keras kepala, nggak mau diatur, nggak suka ngalah kayak saya, hidup sendiri itu beyond exciting. Nggak perlu berantem , nggak perlu nurutin kata suami, nggak perlu minta izin kalau mau pergi, banyak lagi. Selama ini saya memang nggak bagus di urusan relationship sih. I wasn’t a good girlfriend, a good wife, atau a good daughter-in-law.

Nevertheless, being divorcee isn’t that easy. Udah saya bilang berkali-kali kan tadi. Banyak banget hal-hal yang berubah. Yang saya tulis di bawah ini nggak mencakup semuanya. Tapi sebelum decide to divorce atau nyaranin orang untuk cerai, plis baca ini dulu sekali.

Divorcee Nggak Sama Dengan Kembali Single

Saya ingat banget pertama kali officially being divorcee, leganya luar biasa. Kayak habis sakit perut berminggu-minggu terus akhirnya pup keluar semua. Hahaha ... Analoginya gini amat ya. Pokoknya lega banget. Di otak saya langsung merencanakan ini itu. Ekspektasi saya, setelah bercerai status saya akan sama seperti sebelum menikah dulu : menjadi anak dari orang tua saya, bebas sebebas-bebasnya karena udah gede dan bukan lagi istri orang, serta bisa melanjutkan impian saya.

Realitanya nggak seenak itu, dear. Saya punya anak, jadi, sayalah yang menjadi orang tua. Dan saya nggak sebebas itu, karena tinggal bareng orang tua. Melanjutkan impian ? Saya bahkan nggak tahu impian saya yang mana yang masih pantas dilanjutkan. I’m grown up now, ada sesuatu yang namanya prioritas. Impian bisa disederhanakan.

Selain itu, status divorcee jelas konotasinya berbeda dengan single sebelum menikah. Saya sudah berulang kali menyinggung soal ini, di blog atau di Instastories atau di Whatsapp stories. Status divorcee selalu diasosiasikan dengan sifat negatif. Ramah dikit sama lawan jenis dibilang bitch, menolak ta’aruf dibilang nggak tau diri, say hi pada teman lama dibilang ada apa-apa, pakai lipstik hitam dibilang cari perhatian (padahal saya cari pembaca, bukan cari perhatian).
Baca : Look What You MadeMe Do !
Dan silakan sebutkan contoh lagi.

Menjadi Divorcee Harus Siap Dengan Tugas Ganda

Buat yang udah punya anak, harus siap jadi ayah dan ibu sekaligus. Peran sebagai ayah bukan hanya soal mencari uang. Harus bisa melindungi, bersikap tegas pada suatu kali lalu berubah konyol kali lain, mengajari bersepeda, mengajari bela diri, mengajari caranya membalas perlakuan orang, mengajari caranya mempertahankan prinsip, banyak.

Sedangkan peran sebagai ibu, tentu soal bersikap lembut tralala, menjadi orang yang pertama dicari anak saat menangis, orang pertama yang dicari saat masuk jam tidur, orang yang bisa dengan bebas dirusuh saat bekerja. Banyak juga.
Baca : 10 Hal Yang DialamiBeauty-Mom Blogger
Saya, untungnya nggak kesulitan sama sekali menjalani peran dobel. Saya bisa menjadi ayah yang tegas saat dibutuhkan lalu sedetik kemudian menjadi ibu yang penuh kasih. Bo’ong ding. Hahaha ...

Bohong banget kalau ada yang bilang menjalani peran dobel itu gampang. Ngapalin skenario saat mendapat peran dobel di teater aja susah. Ini malah nggak ada skenarionya.

Di sekolah ada pertemuan wali murid membahas soal pembaruan gedung sekolah, saya harus datang meski undangannya untuk para ayah. Di hari lain ada pertemuan wali murid membahas soal perkembangan anak, undangannya untuk para ibu, saya harus datang juga.

Detik ini anak nangis minta gendong di pundak, detik berikutnya nangis minta dipeluk karena kejedot. Siang hari menjadi partner main perang-perangan, satu jam kemudian menjadi pembaca cerita pengantar tidur.

Well, intinya nggak gampang.

Menjadi Divorcee Artinya Berani Sendirian

Sendirian dalam hal apa pun : mulai dari yang sifatnya abstrak seperti mengambil keputusan, menyusun rencana, merancang keuangan keluarga, hingga yang sifatnya praktis seperti mengganti lampu, memasang rak, membuang sampah, menggeser posisi lemari, dan sebangsanya. Ah, harus berani juga sendirian di rumah malam-malam pas pemadaman listrik bergilir.

Untuk yang penakut, peragu, atau yang biasa tergantung ya perlu pembiasaan. But hey, kalau sampai memutuskan bercerai kan berarti sudah merasa sendirian sebelumnya.
Baca : Life As Divorcee #2: Decision, Decision
Soal Finansial

Sedikit banyak pasti ada bedanya. Ada yang kondisi finansialnya lebih bagus tapi banyak juga yang merasa seperti bangkrut pasca perceraian. Yang kondisi keuangannya membaik setelah bercerai, pasti dulu nikahnya sama laki-laki brengsek nggak tau diri yang sukanya minta uang istri. Yang merasa miskin setelah bercerai, pasti selama menikah hanya anteng menerima nafkah dari suami. Dan biasanya yang terakhir ini lebih sulit saat memutuskan bercerai.

Sok tau banget saya bilang pasti. Sebagian besar lah ya ?

Soal keuangan ini, harus dipikirkan dulu sebelum bercerai. Bagaimana dengan kebutuhan anak, apakah ditanggung sendiri atau patungan. Apakah nanti ada tunjangan atau nggak. Kalau saran saya sih, mending nggak usah. Menerima uang dari mantan suami itu rasanya seperti hutang budi.

Komunikasi Dengan Ex Husband, Nggak Sesimpel Kedengarannya

Beberapa waktu lalu saya bikin polling di Instastories, perlu nggak keep in contact sama ex husband. 73% menjawab perlu loh. Dan ada yang membalas perlu hanya jika punya anak. Memang ya, dua orang yang punya anak bersama nggak akan pernah bisa jadi orang asing. Masing-masing harus menekan ego demi kebaikan anak. Jangan sampai anak menjadi korban orang tuanya bla bla bla.

Sebenarnya saya nggak masalah sih dengan opini begitu. Apalagi saya juga penganut prinsip semua mantan adalah teman. Yang udah terjadi ya udah lupain aja, maafkan aja. Masalahnya nggak sesimpel itu. Ex husband adalah seseorang yang you were naked in front of him suatu hari lalu dan sekarang dia bukan siapa-siapa kamu. Sungkan, pasti. Kesel, banget. Marah, masih. Udah nggak peduli, jelas. Complicated.

Setiap orang bisa berbeda soal ini. Tapi perlu banget dipikirkan sebelum bercerai. Apakah kalian akan berteman seperti nggak pernah terjadi apa-apa, atau memilih berkomunikasi tanpa tatap muka dan terbatas hanya soal anak, atau menutup semua jalur komunikasi sampai batas waktu yang belum ditentukan. Nggak ada pilihan yang benar atau salah. Semuanya tergantung.

Udah. Ada yang mau nambahin list apa lagi yang perlu dipikirkan sebelum decide to divorce ? Tulis di kolom komen ya !

Kiss kiss


2 comments

  1. hallo mbak virly, thank you for sharing lho.. aku sendiri masih single, tapi aku juga agak miris sama konotasi negatif soal divorcee di kita.

    kebetulan ada beberapa orang di kehidupan aku yang divorcee juga, dan kayanya cerita hidup mereka sedikit banyak mempengaruhi pertimbangan aku soal berkeluarga, walaupun udah disuruh buru-buru karena konon katanya udah 'masa'-nya, rasanya menikah jadi sesuatu yang sangat banyak pertimbangannya buat aku.

    setelah denger cerita soal perceraian, aku malah salut sama orang2 seperti mbak yang berani mengambil tindakan. apalagi dalam hal ini mbak perempuan khan, yang biasanya kalo udah cerai lebih banyak negatifnya dari orang2. semangat terus mbak, hope you have a good life ahead! :)

    ReplyDelete
  2. You got me at
    "pakai lipstik hitam dibilang cari perhatian (padahal saya cari pembaca, bukan cari perhatian)." wkwkkw mom

    Heyyyyyjudeeeee.wordpress.com

    ReplyDelete

Halo, terimakasih sudah mampir di JurnalSaya. Satu komentar Anda sangat berarti bagi saya.
Semua komentar dimoderasi ya. Komentar yang berisi pesan pribadi akan saya anggap spam.
Oiya, tolong jangan tinggalkan link hidup di badan komentar. Kisskiss

© JurnalSaya
Maira Gall