Wednesday, January 24, 2018

LIFE AS DIVORCEE #6 : DATING ?


PS : Yang standar moralnya level nabi, yang enggak menerima perbedaan pendapat, yang menganggap divorcee sama dengan perempuan murahan, dan yang baperan, plis close tab aja.


Ini saya tiba-tiba ngide nulis soal dating awalnya karena habis nonton Susah Sinyal. Ellen ceritanya divorcee, and she’s dating. Setelah itu saya ngabisin baca Twivortiare dan Twivortiare 2. Alexandra itu juga tadinya divorcee, and yes, she’s dating. Sama ex husband-nya. Hahaha. Ngeselin kan ? Saya mau cerita soal metropop itu tapi kapan-kapan aja deh ya kalau ingat.

Juga ada distraksi lain.
Baca : Mother-DaughterRelationshit Dari Film Susah Sinyal
Di waktu lain, enggak cuma sekali dua kali saya nemu perempuan yang berkomentar miring mengenai divorcee slash single mother. When we started dating, they labeled us as gatel. When we got tamu laki-laki, they labeled us as bitch. When we had conversation with their husband, they called us perusak rumah tangga orang. Wtf, cuma conversation loh. Pokoknya, kapanpun divorcee kelihatan punya relasi dengan lawan jenis, langsung dijudge macem-macem.

Itu saya baru scolling di satu Facebook group ibu-ibu loh. Belum ngitung di forum-forum daring lain. Belum keitung juga yang di dunia nyata.

Saya jadi mikir, is it appropriate to us, the divorcees, untuk dating again ? Jawabannya terbagi dua kubu, tentu saja. Yaaa, mikir sendiri lalu dijawab sendiri.

Kubu pertama, berisi orang-orang konservatif cenderung kuno dan berpemikiran tertutup, menjawab no. Menyandang status divorcee aja udah bikin malu nama keluarga masih mau mikirin dating ? Tobat aja deh, cari suami soleh yang mau menerima apa adanya enggak perlu dating-dating. Big no pokoknya !

Sounds familiar ? Hahaha.

Kubu kedua, berisi orang-orang yang lebih open, rada feminis, dan juga the divorcees theirselves, menjawab yes, it really is fine. FYI, saya sempat bikin survei kecil di forum diskusi SMI (Single Moms Indonesia) soal ini. Hasilnya, 100 % responden menjawab yes, enggak ada salahnya single mother slash divorcee having a date. Eh, malah ada satu yang berpendapat harus loh.

Whatever lah ya. Namanya opini, enggak ada yang salah dan enggak ada yang benar juga.
Tapi satu hal yang saya tahu soal dating as a divorcee : jangan pernah percaya kalau ada yang memberi nasihat follow your heart. Itu nasihat sesat deh, serius. Yang benar, follow your head first.

Plus ada beberapa poin yang perlu digarisbawahi. If you are a divorcee, and about to date.

You Are Divorcee, Tapi Kamu Bukan Karakter Fiksi

Jadi plis, enggak usah diromantisize lah itu hidup. Seperti yang saya bilang tadi, follow your head first. Seseorang seperti River atau Beno atau Aji itu hanya ada di cerita. Happy ending itu hanya berlaku di novel atau film. Eh wait, kamu, well, kita, ehm, saya, kan sudah melewati chapter happy ending waktu gugatan cerai dikabulkan pengadilan.

Who says happy ending harus melibatkan manusia berjenis laki-laki ? *teamfeminis
Lagi pula, hidup itu sudah banyak dramanya tanpa perlu ditambahi drama-drama roman. You, us, perlu bekerja, paying bills, menabung untuk biaya sekolah anak, juga perlu membiayai hobi sendiri demi kesejahteraan jiwa raga.

Jadi ya, hiduplah sewajarnya. Kalau dating, jangan mengharapkan grand gestures from your significant other. Dan tetaplah logis.
Baca : My Thoughts On TheArchitechture Of Love
Your Happines is Your Responsibility

Saya lupa pernah baca di mana, ada ungkapan begini : if you’re not capable of being alone, your relationship is false.

Dibilang relationship palsu karena kamu menjalin hubungan hanya karena enggak ingin sendiri. Hasilnya, kamu ingin relationship itu kamu-sentris. Kamu akan minta selalu jadi yang pertama. Kamu akan menuntut your significant other untuk berotasi mengelilingi kamu.

Gimana kalau itu si significant other juga orang yang sejenis ? Kalian sama-sama orang yang enggak bisa sendiri. Kalian sama-sama menggantungkan kebahagiaan pada pasangan. Enggak akan berhasil.
Baca : Don’t Tie The KnotWith These Guys
Ada yang pernah nonton drama Korea The Package ? Saya suka waktu Yoon So So menolak ajakan San Ma Roo pulang ke Korea setelah dua-duanya saling bilang suka. Tahu enggak alasan Yoon So So apa ? Dia mau memaafkan diri sendiri dulu, berdamai dengan masa lalu, mencari cara untuk bisa bahagia sendiri dulu sebelum menerima siapa pun.

Dia menambahkan kalau kebahagiaan itu tanggung jawab diri sendiri. Enggak bisa dibebankan pada pasangan atau orang lain siapa pun. Kalau pas single enggak bisa bahagia, nanti setelah dating pun enggak akan bahagia. Yang ada malah menuntut partner date untuk menghujani dia dengan perhatian dan macam-macam supaya dia bahagia.

Itu bukan dating namanya, tapi perampokan.

Poin ini sebenarnya bukan hanya berlaku untuk divorcee, tapi untuk semua perempuan.
Baca : Dear High QualitySingle Ladies
You Have Kids

It’s simpler if you don’t. Seperti Alexandra di Divortiare, Raia di TAOL, atau Meghan Markle. You could act like kamu belum pernah menikah karena enggak ada bedanya kan.

Beda kalau you have kids. The kids akan selalu jadi prioritas. Enggak lucu dong kalau suatu hari kamu nelpon partner bilang gini : “Honey, kita nggak jadi kencan ya, anakku rewel nih nggak mau ditinggal”. Silakan tertawa. Saya juga ngakak pas nulis ini.

Ah iya, soal anak ini saya dapat insight dari beberapa single moms di SMI. Sebagian mereka berpendapat kalau enggak melibatkan anak di tahap awal dating. Jangan sampai anak dekat dengan partner date, nanti kalau kalian break up sangat mungkin anak juga ikut kecewa. Kasus lain, nanti anak akan bingung juga kalau kamu sering ganti-ganti partner date.

Ask Again, Do You Really Need Dating ?

Ini yang paling penting. Kamu perlu merumuskan tujuan kamu dating tuh apa. Cuma main-main atau sekedar wasting time karena punya waktu luang ? Cuma sedang butuh distraksi ? To fullfill you when you’re horny ? Atau memang berniat membangun relationship dengan visi tertentu ? Atau cuma penasaran dan pengen ngetes diri sendiri ?

Kalau hanya main-main, pastikan ada rules-nya. Game without rules pasti berakhir nyakitin. Either you will hurt or get hurt. Kalau cuma sedang butuh distraksi, ya jangan keterusan. Yakali ah mau kedistrak tiap hari. Kerjaan tuh kelarin.

Kalau alasan kamu dating itu yang ketiga, well, menurut saya sih enggak worth it ya kecuali dia se-hawt Christian Grey. Jauh lebih praktis beli vibrator aja. Atau cari fuck buddy yang enggak perlu melibatkan perasaan.

Nah, kalau memang kamu dating dengan visi tertentu, sebut saja tujuan kalian pernikahan, jangan turunkan standar. Maksud saya, kalau kamu punya prinsip anti rokok ya jangan end up with smoker. Jangan lupa pre-marriage talks.
Baca : Pre Marriage TalksI Didn’t Do
Pikirkan lagi dia husband-able atau enggak. Cari tahu bagaimana keluarganya. Siapkan hati dan telinga karena saya yakin pasti akan ada slentingan bernada merendahkan dari salah satu anggota keluarganya. Slentingan bernada merendahkan tuh bisa bunyinya : “cantik sih, sayang janda”, atau “kenapa sih enggak nyari yang bukan divorcee ?”dan semacamnya. Cukup bikin gatel kuping ?

Alasan dating terakhir, untuk ngetes diri sendiri, ini kedengeran narsistik tapi siapa tahu ada yang begini kan ? Misalnya, kamu dulu perempuan paling keren di kampus. Everybody adored you. Jadi sekarang setelah kamu jadi ibu tunggal slash divorcee kamu ingin tahu apakah masih punya efek yang sama atau enggak. Boleh aja sih, tapi pastikan kamu siap kalau hasilnya enggak sesuai ekspektasi.

Akhirnya saya jadi mikir sendiri. Sebenarnya esensi dating itu apa sih ? Apa fungsinya punya significant other buat saya ? Untuk partner bercerita apa saja mulai dari small talks hingga deep conversation ? Errr, I prefer do that with besties. Untuk share berbagai rencana dan cita-cita lalu menganalisis bareng ? Saya lebih suka nulis rencana di jurnal lalu menganalisisnya dengan hasil riset internet.

Mungkin, supaya ada shoulder to cry on ? Teori doang sih ini. Bahu enggak bisa disenderin via videocall. Malu juga kali, nangis di depan orang. Ah, mungkin supaya ada telinga yang mendengarkan macam-macam keluh kesah saya di akhir hari ? Hahaha. Kasian amat, itu partner date apa tempat sampah sih.
Baca : Nikah Muda dan CintaTanpa Syarat
Jadi kesimpulan saya apa ?

Well, ya sudahlah, let’s date ! For fun doang.


Kiss kiss 

7 comments

  1. Jebolan ngopi cantik 4 beneran nih :D
    Yang bagian false relationship itu jadi renungan banget buat aku deh jangan-jangan selama ini aku gitu (?)
    Ah, jadi pengen nonton The Package hahahahaa

    ReplyDelete
  2. Aku setuju, kebahagiaan kita ditentukan oleh kita sendiri.
    Jadi suatu saat jgan minta anak bikin cita2 membahagiakan ortu, bahagia itu dtangan sendiri.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bahagia Kita Yg ciptain, persetan yes orang mau Bicara APA yakan ?

      Delete
  3. heheheeh....iyaaaap let's date for fun, meski udah 6 thn divorce sampe skrg aku blom siap buat hubungan serius, jd klo ada yg ngajak serius lgsg minggir2 deh wkwkwk, yg penting mau kmn aja ada yg nemanin..that's enought for me now

    ReplyDelete
  4. False relationshipnya sangat mengena dihati. Dan memang begitu adanya

    ReplyDelete
  5. Kalo kasus mamaku sendiri, beliau emang nge date buat fun doank sih. Toh buat apa kalo dipikir ya. Mama udah mau pensiun, tinggal nikmatin hangatnya hidup sama anak cucu. Kayaknya enggak perlu deh nge date, apalagi nikah lagi. Huhuhu.
    Aku sedih aslinya, tapi ya gimana, mama butuh teman di masa tuanya ini.

    Btw mbak, makasih sudah sharing "Life as Divorcee" nya. Aku jadi enggak egois dalam menyikapi perceraian orang tuaku.

    Kiss kiss.

    ReplyDelete
  6. Your happiness is your reaponsibility. Suka quote ini.
    Aku sudah mendengar banyak hal yang sama dengan tulisan ini dari ibuku sendiri. Aku juga sudah kenyang dari kecil mendengar omongan miring tentang status divorce yang beliau sandang.

    So, i think i feel you, kita yang menentukan bahagia kita bagaimana :)

    ReplyDelete

Halo, terimakasih sudah mampir di JurnalSaya. Satu komentar Anda sangat berarti bagi saya.
Semua komentar dimoderasi ya. Komentar yang berisi pesan pribadi akan saya anggap spam.
Oiya, tolong jangan tinggalkan link hidup di badan komentar. Kisskiss

© JurnalSaya
Maira Gall