Sunday, January 14, 2018

MOMMALIFE : 4 PELAJARAN MOTHER-DAUGHTER RELATIONSHIT DARI SUSAH SINYAL

susah sinyal

Enggak typo kok itu. Saya emang sengaja nulis shit.


Di menit-menit pertama Susah Sinyal, saya disuguhi drama hubungan Ellen-Kiara yang shit banget. Ellen yang tipikal workaholic-alpha-female dan Kiara yang dekat dengan omanya. Meskipun nggak disebut di awal film kalau mereka berdua adalah ibu dan anak, tapi kelihatan banget kok. Tersirat dengan jelas.

Ada adegan Kiara yang jutekin Ellen, dan kelihatan banget itu Kiara nggak suka sama mamanya. Ada juga adegan Ellen nggak suka hobi Kiara main Youtube. Ada lagi adegan keduanya saling marah sambil nangis. Beneran shit banget kan ?

Lalu mereka liburan ke Lombok. Ada konflik lagi di sana-sini, lalu happy ending hubungan mereka membaik. Alurnya sederhana, to the point, dan nggak banyak ornamen. Ah, well, ada sih hiasan komedi garing di sana-sini meski enggak sampai mengganggu.

Ah, ini loh yang saya sebel kalau nonton film pas PMS. Saya jadi less critical. Semua adegan jadi relatable. Ya begini waktu saya nonton Susah Sinyal kemarin. Bodo amat sama plot atau akting pemainnya. Si Adinia Wirasti cantik dan main bagus. Itu aja yang saya tangkap. Selebihnya, saya menangkap beberapa poin soal mother-daughter relationship.

Pilih Satu : Uang atau Waktu

Yup. Apa sih problem utama mother-daughter relationship kalau bukan soal waktu yang kurang ? Terutama yang single mother ya ini. Kayak Ellen. Dan, ehm, kayak saya. Si anak merasa ibunya lebih sayang pekerjaan dari pada dirinya. Si ibu merasa bekerja keras demi anak lantas ingin si anak maklum kalau jarang punya waktu luang. Toh semua kebutuhan si anak dipenuhi.
Baca : Before You Decide To Divorce
Waktu Kiara protes pada Ellen, bilang selama ini enggak diperhatikan, bla bla bla, yang ada di otak saya : “shit, mungkin banget nanti Uprin dan saya begitu juga”. Tapi Kiara kebangetan, anyway. Judes sama mamanya sampai segitunya.

FYI, bukan sekali dua kali Uprin merajuk ketika saya sedang bekerja. Seperti pagi tadi. Saya stand by di depan laptop, dengan telinga disumpel earphone. Damai sesaat sampai Uprin datang dan minta main bareng saya. Katanya : “mama jangan kerja, mama main bareng Uprin”. Dan saya jawab dengan : “kalau mama enggak kerja, Uprin enggak bisa jajan es krim, enggak bisa punya baju baru”. Yang direspon Uprin dengan nangis.

Enak banget ya, jadi anak kecil taunya nangis doang.

Dan akhirnya saya ikutin dia main. The worst part is : saya selalu merasa waktu nemenin anak main itu terbuang percuma. I mean, dalam 2 jam nemenin Uprin main itu seharusnya bisa saya manfaatkan untuk nulis artikel, coret-coret jurnal, baca, riset, atau apapun.
Baca : I Love My Daughter, But Not That Much
Hell, kan ?

Idealnya sih saya harus bisa membagi waktu antara pekerjaan dan ngurus anak. Harusnya saya kerja pas Uprin tidur atau main sendiri. Apalagi jam kerja saya fleksibel alias semau saya.

TAPI KAN REALITANYA ENGGAK BEGITU !

Eh, caps lock jebol.
Baca : 10 Hal Yang Dialami Beauty-Mom Blogger
Kalau saya anak konglomerat sih bisa kali ya, punya banyak waktu sama anak dan uang tetap mengalir deras. Sayangnya saya orang biasa. Jadi ya tetep harus milih antara : rajin kerja dan punya uang tapi waktu kurang ; atau waktu banyak tapi uang dikit karena kerjanya dikit. Ini seharusnya anak juga ngerti. Tapi masih anak-anak kasian kalau disuruh ngertiin orang dewasa.

Dilema.

Bukan Kebersamaan, Tapi Pengertian

Well, poin kedua ini saya dapat dari scene Susah Sinyal waktu di Sumba. Ellen dan rombongan dijadwalkan tour pada suatu pagi sampai sore, sementara Kiara males ikut tour dan justru pengen pergi bareng Abe (saya belum bilang, ya, kalau Kiara ini anak remaja ?). Abe is karyawan hotel tempat Kiara dan Ellen menginap. Karyawan yang ganteng dan baik hati, tepatnya. Gantengnya kayak apa ? Kayak Refal Hady.

Nah, Ellen dan Kiara kan ceritanya ke Sumba mau quality time. Harusnya mereka liburan bareng dong. Tapi enggak selalu begitu. Bukan kebersamaan yang penting, tapi pengertian.
Di Susah Sinyal, Ellen mengizinkan Kiara pergi bareng Abe meskipun agak keberatan karena Ellen mau bersikap pengertian. Saya belum tentu bisa bersikap pengertian begitu nanti kalau Uprin remaja. PR banget sih ini nantinya.

Happy Mom = Happy Kid

Ini guru BP-nya Kiara yang bilang. Guru BP-nya perhatian banget deh, paham kalau ada murid yang bikin masalah biasanya berasal dari keluarga yang enggak kondusif.

Dan mau enggak mau saya perlu bilang kalau ini benar. Kunci dari rumah yang kondusif adalah ibu yang bahagia. Contoh konkret nih ya, kalau suasana hati saya lagi enggak enak, bukan cuma Uprin yang jadi sasaran. Tapi juga kalian follower Instagram saya jadi korban karena saya nyampah di Insta Story.

Tapi saya enggak suka Susah Sinyal memberikan solusi bahagianya Ellen berupa kehadiran Aji. Padahal kan di awal Ellen bilang enggak butuh laki-laki untuk bikin dia hepi.
Baca : Dear High Quality Single Ladies
Gini ya, kebahagiaan kan harusnya datang dari diri sendiri, dari apa-apa yang sudah dipunya. Apalagi ini Ellen kan perempuan dewasa, punya karier bagus, pintar. Siapa Aji gitu dateng-dateng menawarkan happiness. Enggak asik ih.

First Thing’s First, Sinyal

Hahaha. Ini enggak sarkas kok. Lewat film ini saya menangkap : apa sih yang lebih penting dari sinyal di zaman sekarang ? Lihat deh, Kiara yang tadinya ngamuk-ngamuk di Sumba langsung ceria begitu dapat sinyal internet. Ellen yang tadinya suntuk karena inget kerjaan jadi kelihatan lega setelah ketemu sinyal. Sinyal bikin pasangan ibu-anak ini akur.

It means, masing-masing ibu-anak ini punya kehidupan sendiri. Itu bagus untuk kesehatan mental mereka. Meskipun ibu-anak ini sedang liburan bareng, mereka tetap mau keep in touch dengan kehidupan masing-masing. For the sake of work-life balance. Kuncinya komunikasi. Dan komunikasi yang lancar hanya bisa didapat kalau enggak susah sinyal.

Uprin dan saya gini juga loh. Uprin butuh sinyal untuk nonton Youtube (not good, I know). Saya butuh sinyal untuk .... apa saja. Dan ketika semua berjalan lancar, kami baik-baik saja.

Get it ?

Ada yang mau nambahin cerita atau apapun soal mother-daughter relationship ? Kolom komen terbuka.


Kiss kiss

2 comments

  1. Aku belum nonton, sepertinya bagus yakk.. Aku dan bocil juga butuh sinyal.

    Lia.

    ReplyDelete
  2. Aku suka banget sama film susah sinyal ini :)

    ReplyDelete

Halo, terimakasih sudah mampir di JurnalSaya. Satu komentar Anda sangat berarti bagi saya.
Semua komentar dimoderasi ya. Komentar yang berisi pesan pribadi akan saya anggap spam.
Oiya, tolong jangan tinggalkan link hidup di badan komentar. Kisskiss

© JurnalSaya
Maira Gall