Tuesday, June 26, 2018

LIFE AS DIVORCEE #8 : JENIS-JENIS SUAMI YANG MENDING DICERAI AJA



Jadi, saya habis DM-DM-an sama Nahla Halo Terong (gila ya, saya tuh ngefans banget sama blogger multitalent yang namanya Nahla itu dari pertama kali baca blognya! Dan sekarang bisa DM-DM-an personal hahaha starstruk banget nggak si). Dari DM-DM itu saya ngide nulis ini. Intinya sih ini semacam kumpulan lampu merah dan kuning yang harus diwaspadai dalam pernikahan.


Disclaimer deh, ini bukannya saya ngusulin kalian untuk bilang cerai seketika kalau ternyata suami kalian terdiagnosis salah satu kategori di artikel ini ya. Saya bilang tadi, ini lampu merah dan kuning, bukan lampu merah mutlak. Saya nulis ini berdasarkan pengalaman pribadi dan perenungan light to medium (yaa semacam coverage foundation gitu). Well, ati-ati aja pokoknya.

Dan inilah jenis-jenis suami yang (menurut saya) mending dicerai aja.

PS : saya pernah nulis artikel sejenis ini untuk kalian-kalian yang belum menikah.
Baca : Don’t Tie The Knot With These Guys
Suami Pelit

Sederhana dan pelit dan enggak mampu itu beda ya. Pelit ini berarti si suami punya uang tapi enggan mencukupi kebutuhan materi keluarga. Skenarionya mungkin si suami memberi uang belanja dalam jumlah minimal tapi meminta pelayanan maksimal. Mungkin ogah bayar jasa ART tapi menuntut rumah bersih rapi 24 jam.

Mungkin malah menggantungkan operasional rumah tangga sepenuhnya pada gaji kalian para istri sedangkan gajinya untuk kesenangan sendiri. Sekalinya memberi nafkah langsung diungkit-ungkit hingga satu dekade ke depan.

Atau si suami sanggup dan rela beli rokok berbungkus-bungkus tiap hari tapi kalian enggak diberi jatah beli lipstik. Atau si suami engga pernah berinisiatif ngajak kalian liburan, atau menolak setiap proposal liburan yang kalian ajukan. Atau si suami melarang kalian beli skincare atau beli buku yang kalian suka atau selalu protes keberatan tiap kali kalian berbelanja dengan uang kalian sendiri (si suami maunnya uang kalian itu untuk keluarga).

Suami jenis ini jelas bukan orang yang tahu diri. Tipikal orang yang ngelunjak kalau dibaikin. Berharap dia berubah? Sepertinya akan susah. Pikir lagi deh, yakin kalian akan sanggup bertahan bangun tidur setiap pagi di sebelah manusia pelit macam ini selama paling tidak lima puluh tahun ke depan? Firasat saya sih hidup kalian akan lebih lega dan sejahtera tanpa mereka.

Tapi bedakan dengan suami yang memang mampunya “segitu” ya. Kalian udah nonton drama Go Back Couple? Di situ Ma Jin Joo sering banget bilang suaminya pelit. Padahal ya memang si suami mampunya segitu. Nah, kalau suami kalian jenis yang pas-pasan, ya tergantung kalian mau ikut berjuang atau mending kembali pada keluarga kalian yang mapan.

Suami Genit

Enggak perlu dijelaskan lah ya genit itu gimana. Mata jelalatan, penis diumbar, mulut manis untuk perempuan lain tapi sepet untuk istri sendiri. Bukan seperti pangeran Charles pada Camilla selama pernikahannya dengan Diana loh ya. Genit maksudnya bukan sekedar selingkuh dengan perempuan lain atau punya love of his life yang bukan kalian.

Menjadi istri dari suami genit, ruginya banyak. Satu, kehadiran kalian terabaikan. Dua, waktu kalian tergadaikan. Tiga, kesehatan kalian terancam. Iyalah, kalau suami kalian gemar bobo di luar, siapa yang bisa jamin kalau kalian bersih dari penyakit menular seksual atau HIV? Serius, ceraiin aja suami model begini.

Suami Narsistik

Menurut KBBI, narsistik artinya kepedulian yang berlebihan pada diri sendiri yang ditandai dengan sikap arogan, percaya diri, dan egois. Saya ceritain dikit ya. Ini bukan ghibah loh. Anggap aja fiksi, oke? Tbh, saya pernah hidup bersama laki-laki narsis yang mengira dunia ini berputar mengelilingi dia.

Apa-apa harus selalu tentang dia. Ketika dia sakit, seisi rumah harus berempati, melayani, dan menuruti apa maunya (padahal sakitnya hanya demam biasa, bukan kena virus ebola atau ataksia). Ketika dia suntuk, semua orang di sekitarnya akan terdampak. Entah kena omel atau kena ghibah atau kena lempar apa pun yang bisa dilempar.

Ketika ada rencana yang enggak berjalan sesuai kehendaknya, langsung merasa seisi dunia sedang berkonspirasi melawan dia seorang. Berasa dia lead role di film-film mafia ya?
Kalau saya bilang lagi enggak fit, dianya langsung ngeluh sakit ini lah itu lah. Pokoknya enggak ada yang lebih sakit dari pada dia. Kalau saya bilang lagi sibuk atau banyak kerjaan, dianya langsung akting jadi manusia yang sibuknya ngalahin Jokowi. Sungguh bukan partner yang membantu.

Oiya, suami narsis biasanya enggak cuma bersikap narsistik di rumah, tapi di tengah masyarakat juga. Misalnya di forum rapat RT, mereka akan menuntut opininya disetujui dan komplainnya ditindaklanjuti. Namun terhadap opini atau komplain orang lain, mereka akan memandang sebelah mata. Misalnya lagi saat acara keluarga, suami narsistik akan menimpali hampir semua cerita kerabat dengan versi yang mereka-sentris. Kalau kalian lihat ada anak kecil yang mau menang sendiri, ya begitu. Ngeselin pokoknya.

Kalian yakin akan sanggup menghadapi si suami narsistik ini sampai maut memisahkan? Belum terlambat kok untuk minta cerai. Nanti di alasan bercerai tulis aja : sudah tidak memiliki kecocokan.

Suami Yang Keluarganya Sangat Patriarki

Ya kalau kalian penganut paham patriarki ya udah. Tapi saya yakin pembaca Jurnal Saya adalah perempuan-perempuan yang enggak mau pasrah begitu saja pada sistem patriarki.

Gini loh, menjadi menantu perempuan di keluarga yang sangat patriarki itu artinya kalian harus siap menjadi manusia kelas dua. Mau setinggi apa pun jabatan kalian di kantor, kalian tetaplah perempuan yang kodratnya adalah konco wingking. Bahkan mungkin kalian enggak akan sempat meraih posisi gemilang di bidang karier karena keburu dipaksa resign demi menjadi istri yang baik dan benar.

Idealnya sih kalian sudah tahu kalau keluarga suami itu patriarki banget atau enggak sebelum menikah ya. Kan harusnya udah diomongin dari sebelum memutuskan menikah. Tapi kali aja kalian kaya saya yang menikahnya enggak pakai pre-marriage talk terus jebule keluarga suami sangat patriarki.
Baca : Pre Marriage Talks

Lalu kalian dituntut punya anak laki-laki, lebih bagus lagi kalau anak pertama karena cucu laki-laki adalah harkat dan martabat keluarga. Lalu kalian akan dicerca kalau ketahuan mertua enggak meladeni suami menurut SOP mereka. Dicerca doang masih mending, nanti diomong-omongin sama keluarga besar dan handai taulan juga.

Well, menurut saya sih keluarga suami yang menganut paham patriarki itu menyimpan masalah laten. Ya gimana ya, mertua penganut patriarki pasti menganggap anak laki-laki mereka raja sedangkan mereka ibu suri yang berhak mengatur rumah tangga anaknya. Gini deh, ada enggak yang suaminya berasal dari keluarga patriarki banget tapi ibu mertua sangat toleran, cuek, dan enggak berat sebelah?

Suami Bossy

Laki-laki bossy biasanya terbentuk dari keluarga yang sangat patriarki dikombinasikan dengan pribadi yang narsistik. Perfect combo kan? Punya suami bossy itu melelahkan. Kalian dianggap pembantu merangkap nanny merangkap koki merangkap pelacur. Udah gitu seringnya suami bossy juga semena-mena.

Lampu merah banget sih kalau ini. Inget ya, kalian itu istri, bukan babu. Jangan mau disuruh-suruh! Kalian dinikahi bukan untuk nyuciin baju, beresin rumah, apalagi nyiapin makan suami. Suami kalian toh masih punya tangan dan kaki lengkap. Ajakin bagi tugas, atau bayar mbak. Bilang sama suami : relasi suami-istri itu partner, bukan majikan-budak. Kalau si suami bossy ngamuk dibilangin gitu, yuk ke PA aja.

Well, beda cerita kalau kalian sendiri yang mau meladeni sementara suami enggak nyuruh.

Suami Yang Enggak Bisa Move On

Baik itu enggak bisa move on dari mantan pacarnya di SMA atau move on dari masa kejayaannya di usia muda. Apa bagusnya bertahan dengan manusia yang terjebak di masa lalu ya kan?

Suami Yang Enggak Mau Foreplay

Sesekali quickie seru sih, apalagi di lift atau dapur sambil goreng telur (enggak usah dibayangin gimana caranya). Tapi kalau tiap hari langsung intercourse tanpa foreplay kan enggak seru lagi. Ngebosenin, sakit pula.

Jangan anggap bahasan ini tabu, oke? Realistis aja. Sesi make love itu salah satu hal yang memberi andil dalam keharmonisan rumah tangga kan? Di sesi make love itu juga kalian bisa mengukur kadar sayangnya suami. Seberapa penting kebutuhan kalian di mata mereka, seberapa banyak mereka memahami bahasa tubuh kalian, seberapa egois mereka mengutamakan kepuasan diri sendiri.

Gini deh. Buat laki-laki, intercourse itu inti dari kegiatan seksual (boys, kalau kalimat ini salah tolong dikoreksi ya). Sementara bagi perempuan, foreplay kadang lebih penting. Iya kan? Kalian butuh suasana dan perasaan tertentu kan untuk bisa menikmati kegiatan seksual bersama suami? Enggak bisa langsung penetrasi langsung klimaks kelar.

Nah, bayangkan kalian bersama suami yang enggak pernah mau foreplay dulu. Tahan sampai kapan?

Anyway, tipe suami yang menempatkan kepuasan sendiri di atas kebutuhan istrinya itu salah satu tanda suami egois loh.

Suami Inferior

Terakhir tapi annoying banget sehingga masuk dalam kategori suami yang mending diceraiin aja adalah tipe suami inferior. Mereka-mereka ini adalah para suami berhati kerdil yang minder pada achievement istri.

Sialnya, sebagian laki-laki justru bersikap posesif untuk mengompensasi rasa rendah dirinya. Udah minder, enggak punya prestasi membanggakan, posesif pula. Enggak ada gunanya suami begini dipertahankan.
Baca : Jika Ia Abusif
Jadi gimana? Ada tambahan kategori suami macam apa lagi yang mending dicerai aja?

2 comments

  1. Huwaow bahasan yang cukup mengerikan ��. Memang susah banget dapat suami yang ga kaya gini. Tapi memang ada benernya some poin untuk merubah laki itu sulit. Kadang kitanya juga harus punya strategi kaya CIA mo ngeruntuhin presiden sebuah negara. Haha lebay yak. Oya, 1 lagi, suami yg hobi kdrt juga ga boleh dipiara

    ReplyDelete

Halo, terimakasih sudah mampir di JurnalSaya. Satu komentar Anda sangat berarti bagi saya.
Semua komentar dimoderasi ya. Komentar yang berisi pesan pribadi akan saya anggap spam.
Oiya, tolong jangan tinggalkan link hidup di badan komentar. Kisskiss

© JurnalSaya
Maira Gall