Wednesday, September 26, 2018

MOMMALIFE : TELLING NO



Punya anak itu kontrak seumur hidup. Sekali jalan enggak ada jalur kembali. Bukan sekedar memberi makan dan membelikan mainan. Ada kewajiban membentuk karakter, mengarahkan bakat, merangkai pola pikir, menempa semangat juang. Dan hal-hal abstrak macam itu lebih sulit daripada membelikan mainan.


Makanya saya selalu bilang having baby itu bentuk dari komitmen. Mulai dari rutin mengonsumsi asam folat sejak hamil. FYI, asam folat adalah nama lain dari vitamin B9 yang berfungsi membentuk DNA dan sel darah merah. Jika kekurangan bisa beresiko bayi lahir cacat. Sekrusial itu fungsinya.

Setelah lahir, kalian perlu mengajarinya berbicara, berjalan, berlari, berguling, melompat, bernyanyi, makan, minum, makan-minum sendiri, lalu mengajarkan pula bagaimana caranya berhenti. Di kemudian hari, kalian harus menjawab banyak pertanyaan serta menanggapi beragam tuntutan.

Besar sedikit lagi, saatnya mengajar cara bertarung, dalam arti konotasi tentu saja. Anak kalian perlu tahu kapan harus bertahan dan kapan harus menyerang. Mengajari cara menjadi pemenang dan bagaimana supaya menjadi pemenang sedikit lebih lama lagi.

Tapi yang terpenting, kalian harus mengajarinya merasa kecewa. Bahwa seringkali, dunia berjalan seperti sedang bercanda.

Show Them This World Is A Huge Shit

Ini salah satu prinsip parenting yang saya pegang selama ini. Memang enggak populer. Sebanyak yang saya baca, artikel dan buku-buku parenting yang berseliweran selalu menganjurkan untuk memberikan doktrin positif pada anak. Salah satunya dengan cara mengubah kalimat negatif menjadi kalimat positif. Misalnya, “jangan lari” diganti “jalannya pelan-pelan aja” and stuffs.

Golongan ibu-ibu idealis akan mengikuti aturan ini. Ibu-ibu realis akan berusaha begitu tapi kalau terlanjur bilang enggak ya udah enggak apa-apa. Saya sendiri enggak akan repot-repot menghindari kalimat negatif dan mencari padanan artinya dalam bentuk positif. Saya jenis ibu yang gemar mengatakan tidak.

Uprin tanya gambarnya bagus atau enggak, saya bilang enggak karena begitulah faktanya. Uprin tanya apakah dia cantik setelah mandi, saya bilang enggak karena enggak ada bedanya sebelum dan sesudah mandi. Uprin selesai menghabiskan makan siang lalu memamerkan piringnya dan bilang dia pintar karena makanannya enggak tersisa. Saya merespon dengan kata “enggak”, karena menghabiskan makanan bukan salah satu indikator kepandaian seseorang.

Dan masih banyak lagi saat-saat di mana saya menjawab “enggak”.

Make Them Learn What Disappointment Is

Memangnya Uprin enggak sedih atau kecewa dengan jawaban saya? Oh, jelas. Dan itu poinnya.

Begini, saya kenal seseorang yang enggak bisa mengelola rasa kecewa. Tiap kali kecewa, dilampiaskan dengan marah, membanting benda-benda enggak penting, atau menyalahkan pihak lain. Berdasarkan pengamatan saya terhadap bagaimana latar belakang keluarganya, sikap orang-orang di rumahnya, pola relasi antar keluarga inti, saya menyimpulkan nihilnya kemampuan mengelola rasa kecewa pada orang ini disebabkan karena yang bersangkutan hampir enggak pernah dikecewakan semasa kecil.

Saya enggak mau Uprin tumbuh besar seperti itu. Dia harus tahu bagaimana rasa kecewa itu dan bagaimana mengatasinya. Atau enggak perlu diatasi. Dibiarkan saja karena kecewa itu hanya sementara. Terdistraksi oleh hal lain saja bisa lupa.

Saya ingin Uprin mengerti  bahwa kekecewaan itu salah satu perasaan yang paling jamak di dunia ini. Kecewa saat film yang ditonton enggak sesuai ekspektasi. Kecewa saat rencana terpaksa dibatalkan. Kecewa saat menerima penolakan. Kecewa saat menelan kekalahan. Kecewa saat jalan macet. Kecewa saat taksi yang ditumpangi bau asap rokok. Kecewa saat seorang teman mendapatkan dengan mudah apa yang kita perjuangkan.

Terjadi setiap saat. Pada setiap orang.

(ADV)

1 comment

  1. Telling no is one way of show them the truth. Daripada mengiyakan tapi palsu. Apa itu sebabnya skrg jadi banyak manusia2 palsu. Lol jk
    I love this post btw, real and honest.

    ReplyDelete

Halo, terimakasih sudah mampir di JurnalSaya. Satu komentar Anda sangat berarti bagi saya.
Semua komentar dimoderasi ya. Komentar yang berisi pesan pribadi akan saya anggap spam.
Oiya, tolong jangan tinggalkan link hidup di badan komentar. Kisskiss

© JurnalSaya
Maira Gall