Monday, May 6, 2019

EAT & STAY: BELAJAR MULTIKULTUR DI RESORT SEMARANG


 

Ada yang berencana mau liburan di Semarang dan sekitarnya dalam waktu dekat? Atau yang stay di sini, lagi nyari rekomendasi hotel di Semarang buat staycation? Berarti kalian sedang menemukan blog yang tepat. Hahaha. Baca sampai selesai karena saya mau nyeritain pengalaman keliling hotel resort sambil belajar toleransi.

Baca: Pelajaran dari Perjalanan 2.264 KM
Joglo Outside, Fusion Inside

Saya udah lama dengar soal hotel & resort ini, tapi baru punya kesempatan berkunjung bulan Maret kemarin. Begitu belokin mobil, langsung disambut lobi utama berbentuk pendopo joglo. Jawa banget. Tepat di depan pilar pendopo, ada sepasang patung singa yang mirip dengan patung singa di Sam Poo Kong (klenteng populer di Semarang). Chinese banget. Kemudian di sebelah patung singa yang di timur, terdapat bus surat tua dari Belanda.

Masuk ke bangunan utama lobi, saya disambut oleh mbak dan mas resepsionis yang ramah banget. Suasana lobinya seperti rumah nenek. Ada bale-bale berukir, ada satu set kursi kayu bergaya vintage (nenek saya juga punya kursi yang mirip banget), ada chandelier kuno, dilengkapi pula dengan jendela-jendela kayu yang dibiarkan terbuka. Persis rumah-rumah joglo generasi veteran.

Dari lobi, terdapat 2 pintu penghubung di sayap timur dan barat. Pintu di sayap timur mengarah ke restoran, sedangkan pintu di sayap barat menuju joglo-joglo kamar inap.
Ngomong-ngomong, saya belum mention ya, nama resort yang dari tadi saya ceritain? Namanya Melva Balemong, dulu terkenal dengan nama Balemong Resort. Ya enggak dulu-dulu banget sih. Dibuka jadi public place baru sebelas tahunan kok.

Melanjutkan berkeliling resort, alunan gamelan langsung terdengar begitu saya masuk ke restonya. Serem? Enggak kok, lagunya bukan Lingsir Wengi. Saya kasih tau rahasia deh, kalian bisa request playlist kalau memang enggak nyaman dengerin gamelan saat makan.

Soal makanan, resto Kembul Bujana-nya Melva Balemong punya menu fusion juga. Ada western food dan masakan lokal tradisional. Rekomendasi saya? Cobain Steamboat dan Rawon Kendhilnya.
Baca: Makan dan Nongkrong di Verve Bistro
Pindah ke sayap barat, mari menjelajah joglo-joglo dan menemukan hidden gems yang menyimpan cerita.

Tepat setelah pintu di sayap barat, saya lihat ada sepeda tua berukuran raksasa. Sepeda tersebut konon berasal dari Belanda namun belum nemu nasab pastinya. Dari situ, saya lihat joglo-joglo di kanan-kiri. Setiap joglo itu kalau bukan meeting room, ya kamar inap.


Untuk kamar inapnya, sesuai standar hotel pada umumnya. Tetap kelihatan clean dan modern meskipun bangunannya joglo. Ditambah jendela-jendela yang diberi kaca patri ala Belanda. Dan kamar mandinya cakep banget, didominasi bebatuan jadi serasa mandi di tengah alam.

Yang menarik, saya nemu tulisan-tulisan china yang diukir di beberapa joglo. Saya yakin kalau mau menjelajah lebih dalam akan nemu hal-hal yang lebih menarik lagi.

Selagi bermalam di Melva Balemong, sempatkan deh ikut hotel tour. Bilang aja sama mbak-mbak resepsionis pengen keliling resor. Nanti dengerin cerita perihal asal mula joglo yang usianya hampir seabad, perihal lukisan wanita tionghoa berkebaya, perihal topeng dari Wonosobo, perihal rumah lumbung, dan lain sebagainya.

Resort ini lokasinya sekitar 45 menit dari pusat kota Semarang. Enggak jauh banget tapi justru strategis karena akses ke Magelang, Solo, Jogja cukup dekat. Di tengah-tengah gitu lokasinya. Perfect buat sweet escape biar enggak jenuh pada suasana kota. Sekalian nyicipin hidup ala bangsawan jawa yang tinggal di joglo-joglo macam istana.


Oh, selama di Melva Balemong, kalian juga harus keliling ke tempat wisata sekitarnya. Ada Candi Gedhong Songo, ada Vihara Buddhagaya. Kalau mau ke downtown, mampir sekalian ke klenteng Sam Poo Kong dan Masjid Agung Jawa Tengah. Kalau mau keliling, sekalian ke Lawang Sewu dan Gereja Blenduk. Biar lengkap wisata budaya di Semarang.

Multikultur = Toleransi


Sama seperti toko buku, resort Melva Balemong ini merupakan bukti bahwa keberagaman dapat berdiri berdampingan. Budaya Jawa berupa joglo berpadu dengan aksen-aksen Chinese dan Belanda yang bertaburan di sekelilingnya. Bisa saling melengkapi loh.

Enggak perlu berlomba-lomba menonjolkan diri. Semua unsur ada dengan masing-masing porsi.

Manusia kan harusnya gini ya. Hidup berdampingan aja tanpa perlu menyudutkan kelompok lain yang berbeda. Toh perbedaan itu yang bikin peradaban manusia makin kaya.

Worth Every Penny


Melva Balemong ini bukan jenis hotel murah di Semarang. Harga per malamnya mulai dari 800 ribuan, tapi bisa dapet 300 ribuan di pegipegi.com (lebih murah karena ada promo). Kalau mau booking gampang. Kalian ketik aja “Balemong” di kolom search hotel, tentuin tanggal nginepnya, lalu klik “cari”. Pilih tipe kamar yang kalian mau, lalu klik “pesan sekarang”. Ikuti petunjuknya, kemudian isi form yang diminta.

Langkah selanjutnya ke pembayaran. Ini yang saya suka di pegipegi.com, bayarnya bisa transfer, enggak harus pakai credit card. Saya pasti pilihnya yang Virtual Account BCA. Sebelum bayar, lihat lagi detail pemesanannya.

Oh iya, ada satu hal yang menarik yang saya cuma nemu di pegipegi.com. Di situ ada yang namanya “Best Price Guarantee”. Kalau ada tanda ini, dan kalian nemu harga hotel lebih rendah di web lain, nanti kalian dapet voucher. Tentu ada T&C-nya. Tapi emang saya sering banget kok nemuin harga hotel di Pegipegi lebih murah dari tempat lain.


Ada yang pernah pesen hotel via Pegipegi di Semarang? Share dong cerita kamu!

(ADV)

3 comments

  1. Wahh baguss banget kk ih rumah inep nya clasik2 gtuh tuh.. mantappp

    ReplyDelete
  2. Enak banget yah adem lihatnya juga rumah klasik gitu

    ReplyDelete
  3. Pengen coba nginap di sana deh nanti cari diskonan dulu hehe

    ReplyDelete

Halo, terimakasih sudah mampir di JurnalSaya. Satu komentar Anda sangat berarti bagi saya.
Semua komentar dimoderasi ya. Komentar yang berisi pesan pribadi akan saya anggap spam.
Oiya, tolong jangan tinggalkan link hidup di badan komentar. Kisskiss

© Jurnal Saya
Maira Gall