Kamis, 27 Oktober 2016

MASIH ADA AIR DI SINI

lomba blog laneige refillme

“Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan  dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat” (Pasal 33 Ayat 3 UUD 1945)

Akses Air Bersih di Indonesia

Jika mengacu pada bunyi undang-undang di atas, tentu tidak ada rakyat yang tidak makmur, ‘kan ? Tidak ada rakyat yang tidak memiliki akses pada air, kan ? Namun, saya membaca di banyak sumber, masih banyak daerah di Indonesia yang miskin air bersih.
Prihatin sekali mengetahui ada anak-anak yang terjangkit penyakit kulit lantaran pakaian mereka dicuci dengan air sungai yang tercemar sementara kami di sini mencuci baju dengan air bersih yang terus mengalir. Miris mengetahui ibu-ibu harus mengais air bersih melampaui jarak puluhan kilometer sementara kami tinggal memutar keran. Ironis sekali mengetahui para perempuan hanya bisa mandi ala kadarnya sementara air bersih melimpah di bak mandi saya.

Dari data LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia), hanya 29% populasi di Indonesia yang memiliki akses air bersih di kediaman masing-masing. Sementara itu, lebih dari 50% masyarakat Indonesia hidup dengan kualitas air yang terkontaminasi. Sedangkan sisanya belum memperoleh akses air bersih secara layak. (sumber femina.com)

akses air bersih di sumba
Mobil Tangki Air Warga Sumba / Sumber Gambar : instagram @waterhouse_project

Bagi yang belum tahu, warga di Sumba Timur harus berjalan lebih dari 4 km dengan medan yang berat untuk mendapatkan 1 liter air. Bahkan, tidak sedikit anak-anak di sana putus sekolah karena mencari air. Di desa Wunga, Sumba Timur, masyarakat harus membeli air bersih seharga Rp. 250.000,- per tangki. Sementara penghasilan rata-rata mereka hanya Rp. 500.000,- per tahun. (sumber : instagram @waterhouse_project)

Bukankah hidup dengan kondisi seperti itu sangat menyedihkan ? Padahal wilayah Sumba Timur diapit Selat Sumba, Laut Sabu, serta Samudera Hindia, namun masyarakatnya keurangan air. Padahal terdapat 88 sungai dan mata air yang tidak pernah kering di kabupaten Sumba Timur, mengapa banyak warganya tidak juga memiliki akses langsung terhadap air bersih ? (sumber : laman wikipedia)

laneige refillme 2016 campaign
Topografi Sumba Timur / Sumber Gambar : instagram @laneigeid

Bukan hanya di Sumba Timur, akses terbatas pada air bersih pun dialami oleh sebagian warga Semarang. Iya, ibukota provinsi Jawa Tengah yang kerap terendam banjir rob bahkan di musim kemarau. Di kawasan dekat kampus saya dulu, air bersih melimpah merupakan barang mewah. Memang tidak langka, namun akses terhadap air bersih sangat terbatas hingga nyaris tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan harian. Setiap rumah berlangganan air bersih pada perusahaan pemasok air. Air bersih pun dialirkan ke tangki-tangki penyimpanan di rumah-rumah melalui pipa pada jam-jam tertentu, sekali setiap hari. Ada juga rumah yang mendapat pasokan air bersih dua kali sehari, karena berlangganan di dua perusahaan pemasok air yang berbeda. Namun, kadang aliran air akan macet ketika listrik mati dan pernah juga macet ketika libur hari besar.

Akses air bersih yang terbatas juga dirasakan oleh sebagian penduduk di suatu wilayah di Sumatera Utara. Mereka menggunakan sumur tadah hujan di masing-masing rumah. Kedalaman sumur hanya sekitar 2 meter dari permukaan tanah, tentu tidak mencapai air tanah. Karena sifatnya sumur tadah hujan, maka ketika musim kemarau akan kekeringan. Bukannya perusahaan pemasok air belum sampai ke sana, namun sebagian besar warga hidup hanya mengandalkan hasil penjualan kelapa sawit dan buah pinang yang tidak seberapa. Oleh karena itu jarang ada warga yang mau berlangganan air pada perusahaan pemasok air. Mereka memilih mengambil air di sungai secara manual menggunaka ember-ember. Untuk mengurangi beban mengangkat air, seringkali warga mencuci baju serta mandi di sungai.

Memang tidak semenyedihkan kondisi di Sumba Timur. Tapi tetap saja, akses air bersih yang serba dibatasi bukanlah pilihan pertama kebanyakan orang.

Akses Air Bersih di Daerah Kami

Desa tempat tinggal kami, saya dan tetangga, thank’s God, adalah lokasi tempat tinggal yang ideal (saya mengesampingkan minus jauh dari toko buku, mall dan bioskop). Seumur-umur saya hidup di sini (when is, sejak lahir) tidak pernah sekalipun saya punya ingatan tentang bencana alam (semoga tidak akan pernah, amin). Baik itu banjir, longsor, gempa bumi, kekeringan, atau paceklik. Meskipun hujan lebat berhari-hari tanpa henti, desa saya tidak terisolasi. Meskipun kemarau berkepanjangan, sumur-sumur tidak ikut kemarau.

Kami, saya dan tetangga, memiliki akses penuh terhadap sumber air di rumah masing-masing. Air bersih adalah barang gratis di sini (well, kecuali listrik untuk menyalakan mesin pompa air), dan kami sangat bersyukur untuk itu.

Kami, saya dan tetangga, sangat bersyukur tidak perlu berlangganan air bersih dari perusahaan pemasok air. Pun tidak perlu membeli air bersih pada pedagang air keliling. Tidak perlu juga menunggu uluran tangan dari pihak lain untuk sekedar mencuci tangan.

Kebutuhan Air

Desa kami relatif kecil bila dibandingkan desa-desa sekitar. Hanya 226.485 m2 luasnya, itupun lebih dari setengahnya merupakan area persawahan serta tambak ikan hingga ke pinggir laut Jawa. Ada sungai kering berkelok di antara pemukiman, namun tetap berfungsi menampung air yang berlebih saat musim hujan. Ada dua sumber mata air di desa kami, mata air yang airnya terus memancar dari dalam bumi. Ada sungai dengan air yang terus mengalir di area persawahan, namun sejumlah sawah memiliki sumber air di petaknya sendiri.

Dengan topografi demikian, konsumsi air bersih di desa kami sangat besar. Setiap hari, rumah-rumah membutuhkan air untuk kebutuhan domestik ; minum, memasak, mandi, mencuci, dan sebagainya. Makin banyak anggota keluarga, makin tinggi konsumsi air bersihnya. Setiap musim tanam padi, sawah-sawah memerlukan air dalam jumlah besar. Makin luas petak sawahnya, makin banyak air yang dibutuhkan. Area tambak ikan juga membutuhkan air bersih. Ikan-ikan akan mati jika air di tambak terlalu asin. 

Pernah Kekeringan

Saya sudah bilang ‘kan kalau supply air di desa kami selama ini berasal dari sumur warga, mata air bersama, serta sungai di persawahan ? Selama ini, itu semua lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan air seisi desa.

Orang bijak mengatakan : kemakmuran yang tidak dijaga akan habis pada tenggat waktunya. Begitu juga desa kami. Air bersih yang melimpah ruah akan habis jika tidak dijaga dengan baik. Kami, saya dan tetangga terbiasa menggunakan air sesuka kami. Tanpa berpikir, kami menyiram tanaman di halaman rumah masing-masing secara berlebihan. Tidak jarang juga kami menyiram jalan beraspal di depan rumah kami. Sudah kebiasaan, supaya tidak berdebu, alasan kami. Bukan hanya sekali dua kali kami menghidupkan mesin pompa air lama-lama hingga tangki penampung air di rumah kami penuh, namun kami lupa mematikan mesinnya. Air pun berhamburan kemana-mana seperti hujan. Kami tidak menghitung entah berapa ribu kubik air bersih yang kami buang percuma. Hanya karena kami berpikir, air bersih itu gratis. Hingga akhirnya pada musim kemarau tahun lalu, sempat terjadi kekeringan di desa kami. Seumur-umur, baru sekali itu terjadi.

Sumur-sumur warga kehabisan air, bukan hanya satu dua, namun sebagian besar. Bahkan ada sumur seorang tetangga yang kering sama sekali hingga tidak dapat dipompa. Padahal tetangga itu adalah nenek-nenek yang sudah sepuh. Untuk keperluan memasak, nenek itu harus meminta air bersih dari sumur tetangga yang sama-sama mulai kering. Untuk membersihkan badan, nenek itu harus menumpang di kamar mandi tetangga. Sedangkan untuk minum, nenek itu memilih membeli air mineral saja. Di rumah tetangga yang lain, mesin pompa air hanya bisa memompa air pada tengah malam. Praktis, kehidupan tetangga itu sebagai ibu sekaligus tulang punggung keluarga semakin berat dengan terbatasnya akses terhadap air bersih. Ibu yang merangkap tulang punggung keluarga itu harus bangun pada pukul dua dini hari untuk menyalakan mesin pompa air, mengisi bak-bak mandi, mengisi penuh semua ember yang bisa ditemukan di rumahnya, mencuci baju seluruh anggota keluarga, mencuci piring, sekaligus memasak, merebus air minum, dan mandi.

Di rumah saya juga sama, salah satu sumur bor tidak mengeluarkan air sama sekali. Untungnya masih ada sumur bor cadangan sehingga saya tidak harus mengalami “ngangsu ning omahe tonggo” (mengambil air di rumah tetangga-Jawa). Selain itu, banyak sekali warga yang mengeluh mesin pompa air mereka rusak akibat bekerja terlalu keras tanpa mengeluarkan air setetes pun. Itu terjadi juga pada satu-satunya Sekolah Dasar di desa kami.

Volume air di sumber mata air bersama di desa kami pun surut, banyak sekali selisihnya dibanding pada kemarau tahun sebelumnya. Sudah surut, ada pula warga yang curang meletakkan mesin pompa air di sumber mata air bersama untuk dialirkan ke rumahnya. Tentu saja tindakan tersebut mendapat pertentangan dari warga yang lain. Agak terlalu memprihatinkan, bukan ? Demi air bersih ada yang rela berselisih dengan tetangga.

Sementara di area persawahan, sungai-sungai yang tidak pernah kering itu mulai kering juga. Para petani bersamaan memompa air dari sungai untuk mengairi sawah masing-masing. Tidak cukup hanya sungai, banyak petani yang akhirnya membuat sumur bor dadakan demi tersedianya air. Setiap hari menggunakan mesin pompa air berbahan bakar solar. Dari data yang saya dapat, setidaknya setiap petani harus mengeluarkan Rp. 70.000,- untuk 10 liter solar per hari selama satu bulan penuh, atau lebih. Itu yang punya mesin pompa air sendiri, ada juga yang masih menyewa. Padahal hasil yang diterima petani tersebut saat panen hanya berkisar antara Rp. 7.000.000,-. Itu jika sawah milik sendiri, jika menggarap lahan orang, buruh tani hanya menerima setengahnya. Berat memang, namun pilihannya hanya itu atau gagal panen karena kekeringan.

Menghitung Kebutuhan Air Bersih

Kelak, daerah lain pun akan mengalami hal serupa. Semakin hari jumlah penduduk semakin bertambah, demikian pula dengan kebutuhan air bersih. Standar kelayakan minimal air bersih yang dibutuhkan setiap orang menurut UNESCO adalah 49,5 liter per hari. Jadi idealnya volume air bersih meningkat berbanding lurus dengan pertambahan jumlah penduduk.

Mari kita hitung kebutuhan air bersih bagi bayi.
Kebutuhan
Frekuensi
Volume Air
Jumlah
Mandi
2 x
8 liter
16 liter
Cebok setelah pipis
8 – 10 x
0,5 liter
4 liter
Cebok setelah pup
3 - 5 x
1 liter
3 liter
Mencuci perlengkapan
1 x
25 liter
25 liter
Total
48 liter

Lalu, mari kita hitung kebutuhan air bersih bagi dewasa.
Kebutuhan
Frekuensi
Volume Air
Jumlah
Mandi
2 x
15 liter
30 liter
Cebok setelah pipis
3-5 x
2 liter
6 liter
Cebok setelah pup
1-2 x
8 liter
8 liter
Mencuci pakaian
1 x
25 liter
25 liter
Mencuci piring
1 x
10 liter
10 liter
Mencuci aplikator make up
1 x
3,5 liter
3,5 liter
Minum
8-10 x
0,2 liter
1,6 liter
Memasak
1-3 x
2 liter
2 liter
Total
86,1 liter

Lihat ‘kan, kebutuhan air bersih orang dewasa per hari lebih dari standar kelayakan minimal yang ditetapkan UNESCO. Padahal penghitungan yang saya lakukan di atas adalah penghitungan kebutuhan minimal. Lalu, mari kita simulasikan dalam satu rumah terdapat 4 anggota keluarga yang terdiri dari tiga orang dewasa dan satu bayi. Maka 86,1 liter kali tiga tambah 48 liter, hasilnya 306,3. Setidaknya 306,3 liter air bersih dibutuhkan setiap harinya untuk sebuah rumah tangga beranggota empat orang. Jika anggota keluarga bertambah menjadi lima, enam, lalu berapa yang dibutuhkan untuk satu desa ? Satu kecamatan ? Satu kabupaten ? Satu provinsi ? Satu negeri ? Silakan hitung sendiri.

Kemudian pertanyaannya adalah, dari mana suplai airnya ? Jika air tanah, akan bertahan sampai kapan ? Air memang sumber daya yang dapat diperbarui. Namun jika tidak dijaga, lambat laun akan habis juga karena demand yang terus meningkat.

Menjaga Sumber Daya Air

Jadi, sebelum generasi berikutnya mengalami kekurangan air akibat kelalaian kita, alangkah lebih baik jika kita melakukan tindakan pencegahan. Menjaga ketersediaan air dapat dilakukan oleh siapa saja. Satu tindakan sederhana dari kita dapat membuat hari esok lebih baik.

Berikut hal-hal kecil yang dapat kita lakukan untuk turut serta menjaga sumber daya air. Yang benar-benar kecil dan sederhana saja. Jika mau menanam mangrove atau menjadi polisi lingkungan hidup lebih bagus lagi. Namun bila belum sanggup, setidaknya lakukan saja yang bisa dilakukan sekarang.
·           Mematikan keran begitu keluar dari kamar mandi. Entah itu kamar mandi umum di pom bensin, di masjid, atau di rumah sendiri. Sering ‘kan, kita menemukan kamar mandi umum yang kerannya dibiarkan terus menyala sepanjang hari ? Bayangkan berapa liter air yang terbuang percuma.
·           Mandi menggunakan shower. Dibandingkan menggunakan bak mandi konvensional atau bath up, penggunaan shower jauh lebih efisien. Namun tentu saja, jangan membiarkan shower tetap menyala selama mandi. Nyalakan shower secukupnya ketika waktunya membilas.
·           Menggunakan selang berpenutup untuk menyiram tanaman. Dengan kepala selang yang bisa dibuka-tutup, akan meminimalisir air tercecer. Lebih baik lagi jika menyiram tanaman menggunakan air bekas cucian sayur/buah.
·           Hindari menyiram jalan beraspal. Selain membuang-buang air dan merusak aspal, hal itu sungguh tidak perlu. Ketika baru disiram memang tidak berdebu, namun sesaat kemudian air siraman akan menguap dan debu akan datang lagi.
·           Menggunakan mesin pompa air otomatis. Manusia memang tempatnya lupa, namun jika keseringan lupa mematikan mesin pompa air sehingga air meluap-luap dari tempat penampungan, itu namanya boros. Mencegah pemborosan yang berlebih, gunakan saja mesin yang otomatis mati ketika tempat penampungan air sudah penuh.
·           Membawa air minum sendiri dalam wadah yang dapat digunakan berulang. Atau botol yang bagus. Hindari minum dari air mineral dalam kemasan gelas. Karena saya yakin sekali, tidak semua orang berusaha menghabiskan air mineral dalam cup, terutama ketika bertamu atau pada suatu acara. Sebagian besar orang akan meminum sedikit lalu meninggalkan sisanya di tempat. Itu juga pemborosan namanya. Hindari membuang-buang air seperti ini dengan membawa air minum sendiri dalam botol cantik yang sayang jika tertinggal.

·           Kumpulkan air mineral sisa orang, lalu gunakan untuk menyiram tanaman. Menurut pengalaman saya selama lebaran dari tahun ke tahun, orang-orang yang bertamu hanya meminum air mineral yang disajikan dalam jumlah sedikit. Mereka seringkali meminum hanya untuk formalitas, untuk sekedar menghargai pemilik rumah. Kemudian mereka meninggalkan sisa minum mereka begitu saja. Mereka mungkin belum tahu itu namanya pemborosan. Mungkin juga mereka belum memiliki kepedulian terhadap pasokan air yang kian menipis. Jadi, sebagai pemilik rumah, saya berinisiatif mengumpulkan bekas minum para tamu lalu saya pakai untuk menyiram tanaman. Lagipula, itu air mineral beli, loh !

1 komentar

  1. Sedih ya, ternyata masih banyak daerah di Indonesia yg penduduknya belum bisa menikmati air bersih seperti yg kita nikmati di perkotaan...

    BalasHapus

Halo, terimakasih sudah mampir di JurnalSaya. Satu komentar Anda sangat berarti bagi saya.
Semua komentar dimoderasi ya. Komentar yang berisi pesan pribadi akan saya anggap spam.
Oiya, tolong jangan tinggalkan link hidup di badan komentar. Kisskiss

© JurnalSaya
Maira Gall