Saturday, March 23, 2019

LESSON I LEARNED #5: DARI PERJALANAN 2.264 KM



Saya pernah baca sebuah artikel di Mojok tentang sebuah perjalanan panjang Madura-Lampung via Banda Aceh. Konon katanya perjalanannya memakan waktu 202 jam, melalui jalan darat sepanjang 3.800 km. Diceritakan bagaimana ajaibnya lintasan di sana. Ajaib keindahannya di sekitaran danau Toba. Ajaib pula kelokan-kelokan di sepanjang perjalanannya.


Sebagai seseorang yang punya mantan suami orang Batak, tentu saya pernah bertandang ke pulau seberang. Namun saya memilih jalur udara yang aman. Selain karena saat itu beli tiket bus ALS enggak semudah sekarang, saya juga pemabuk (mabuk perjalanan maksudnya, bukan mabuk khamr).

Perjalanan pertama (sekaligus terakhir, tentu saja) saya ke kota kecil di antah berantah Sumatera Utara waktu itu dimulai dari Semarang. Tiga jam perjalanan udara di atas kertas, karena praktiknya nunggu di bandara transit seharian. Kemudian dilanjutkan perjalanan darat sepanjang lebih dari 360 km selama semalam suntuk dimulai dari kota Medan yang malam hari pun masih sepanas Semarang melalui danau Toba, Parapat, hingga Tarutung yang dinginnya sebelas-dua belas dengan Dieng. Melewati Pematang  Siantar yang saya kira adalah kota asalnya Anastasia Siantar, enggak lupa melewati seribu satu kelokan yang beneran bikin mabuk.

Sepanjang perjalanan, viewnya sungguh gelap. Ya karena saya jalannya tengah malam. Saya rekomendasikan kalian yang mau ke sana pagi aja, biar lihat sekeren apa danau Toba.
Sampai di kota tujuan, well, pantai-pantai cantik bertebaran di pinggir jalan. Saya enggak akan menyangkal, sejujurnya kota kecil di antah berantah Sumatera Utara yang lokasinya terletak di sepanjang garis pantai ini punya potensi wisata bahari yang bagus. Kota-kota sekitarnya juga. Sekitar 2 jam perjalanan naik sepeda motor dari sana ke arah provinsi NAD ada pantai terpencil yang cantik banget. Ada semacam tanjung yang mengarah ke tengah laut yang saat air laut pasang akan terlihat seperti pulau sendiri. agak mirip seperti di kepulauan Morotai. Kalau bukan karena itu kampung halaman mantan suami, mungkin saya ingin liburan ke sana.

Tapi saya sama sekali enggak menyesal pernah melakukan perjalanan lebih dari dua ribu kilometer itu. Banyak sekali hal yang saya pelajari. Meski tentu saja enggak mudah. Seperti dipaksa magang sehabis menerima mata kuliah Antropologi Budaya padahal sebelumnya diberitahu bahwa mata kuliah tersebut cuma teori.

1. Tentang Kearifan Lokal

Setiap daerah punya kearifan lokal masing-masing. Nilai yang terkandung sudah pasti bagus. Meski kadang antara satu daerah dengan daerah lain sangat bertolak belakang. Saya notice ada satu hal soal sopan  santun yang bertentangan antara kearifan lokal Jawa dan Batak.

Common sense Batak mengatakan kalau orang yang banyak omong adalah orang yang pandai basanak (artinya ramah, pintar mengobrol). Sementara di Jawa, banyak omong adalah indikasi dari sifat sombong atau pamer.

Lantas apakah kearifan lokal salah satu suku ini salah? Enggak juga. Cuma beda. Tugas kalian para manusia untuk beradaptasi dengan adat setempat.

2. Semua Suku itu Chauvinis

Semacam unpopular opinion, tapi memang kok. Contoh nih ya. Mamak-mamak Jawa bilang: “jangan sama orang Batak, kasar!” Sementara inang-inang Batak bilang: “orang Jawa itu omongannya halus, tapi hatinya busuk.” Dan ada ama-ama Cina bilang: “jangan sama huana!”

Saya yakin masih banyak contoh lain.

Wajar kok. Semuanya saling merasa sukunya yang terbaik, karena kurang mengenal suku lain sampai ke dalam-dalamnya. Enggak salah juga.

3. Bukan Orang Mana, Tapi Orang Seperti Apa

Enggak adil nge-judge seseorang berdasarkan tempat asalnya. Setiap orang adalah kombinasi dari latar belakang sosial, budaya, ekonomi, serta paparan selama hidup. Kalau ada orang Batak yang kasar, itu memang karakternya yang kasar. Bukan karena sukunya. Kalau ada orang Jawa yang munafik, itu emang dasar orangnya. Jangan salahkan suku Jawanya.

Toh pada akhirnya kita semua bangsa Indonesia. Daripada mengagung-agungkan suku sendiri, mending cerita tentang keindahan kampung halaman kan? Mendukung hashtag explore Indonesia. Kalau explore pakai pesawat terasa kemahalan, beralih pakai bus. Sungguh, setiap tikungan di pelosok Indonesia itu cantik. Tapi kalau kalian pemabuk seperti saya, plis, jangan pernah lupa minum obat anti mabuk perjalanan.

(ADV)

No comments

Post a Comment

Halo, terimakasih sudah mampir di JurnalSaya. Satu komentar Anda sangat berarti bagi saya.
Semua komentar dimoderasi ya. Komentar yang berisi pesan pribadi akan saya anggap spam.
Oiya, tolong jangan tinggalkan link hidup di badan komentar. Kisskiss

© Jurnal Saya
Maira Gall