Thursday, February 27, 2020

MINIMALIST BEAUTY, APA ITU?



Mulai menjadi aliran mainstream, minimalist beauty semakin populer belakangan. Makin banyak pengikutnya. Termasuk saya. Dari yang tadinya menyukai layering skincare, hingga sekarang stick to basic. Dari yang tadinya senang punya banyak banget varian makeup, hingga sekarang hanya membeli dan menyimpan yang dibutuhkan.


Gaya hidup minimalist beauty banyak versi definisinya. Ada yang mengartikan quality over quantity. Means menggunakan lebih sedikit produk tapi dengan kualitas yang lebih baik. Ada yang mengartikan menganut minimalist beauty sama dengan berhemat. Ada pula yang memilih minimalist beauty secara visual, a.k.a menyimpan produk-produk kecantikan dengan packaging minimalis. Ya terserah aja sih. Mana aja boleh.

Saya sendiri mendefiniaikan minimalist beauty sebagai: hanya memakai produk yang dibutuhkan kulit. Well, ini saya ngomongin minimalist beauty in term of produk perawatan kulit ya.
Baca: Basic Skincare Guide Menuju Minimalist Beauty
Awal tertarik pada minimalist beauty sejak beberapa tahun lalu, tapi baru benar-benar mengamalkannya setahun silam. Titik baliknya karena saya mendalami marketing sebagai bagian dari pekerjaan. Dari situ saya kerap menyusun konsep untuk digital campaign dalam rangka mempromosikan produk maupun jasa. Skeptis lah kemudian, brand-brand beauty ini kan pasti marketingnya canggih. Setiap produk dipromosikan seakan kita butuh semuanya. Produk-produk didiversifikasikan sedemikian rupa sehingga nampak berbeda satu sama lain meskipun isinya serupa. Brand-brand berlomba memberi added value supaya produknya pantas dihargai mahal. Dan seterusnya.

Saya nggak ingin jadi salah satu konsumen yang menelan iklan mentah-mentah. Jadilah saya dengan minimalist beauty yang kini menjadi komoditi.

Perlukah saya bahas soal kalimat terakhir barusan? Lain kali saja lah ya.

Kalau kamu ingin mengubah haluan ke madzhab minimalist beauty, atau simply jenuh dengan skincare routine yang panjangnya melebihi kenangan masa lalu, ini tips dari saya:

  • 1.      Pakai produk berdasarkan fungsi dan ingredients, bukan nama.

Sekarang kan banyak banget tuh, brand ngasih nama macem-macem untuk produknya. Yang cair-cair dinamain toner, first essence, booster, lotion, mist. Coba cek lagi, dalamnya apa. Apakah cukup actives untuk disebut essence? Belum lagi kerancuan istilah essence, serum, oil serum, pressed serum, liquid moisturizer, dan lain-lainnya. Sleeping mask atau night cream? Eye cream atau eye serum?

Bikin bingung kan? Udah lah, stick to basic aja. Toh kamu cuma butuh hydrator dan moisturizer yang berisi humektan dan emollient. Bentuk dan namanya boleh apa saja.

  • 2.      Terapkan basic skincare routine.

Inti dari seluruh rangkaian panjang skincare routine adalah cleansing-toning-treatment-moisturizing-protecting. Jadi produk yang kamu butuhkan sebetulnya hanya makeup remover, face wash, hydrating toner, moisturizer, sunscreen, dan produk treatment khusus (serum, obat jerawat, acid) bila perlu. Tinggal di-break down mana yang kamu perlu. Yang nggak perlu, skip aja. Selain menghemat waktu, menghemat uang juga. Kecuali kamu memang se-passionate itu pada proses skincare routine.

  • 3.      Alih fungsikan produk yang nggak cocok.

“Aku cocok-cocok aja pakai produk apapun” adalah second biggest lie di dunia skincare. Nomor satunya: istilah skincare natural. Tapi saya nggak akan ngobrolin itu sekarang.
Gini, kalau ada yang bilang cocok pada semua produk skincare, kemungkinannya ada 2: petualangan skincare-nya belum banyak atau dianya nggak ngerti kalau nggak cocok. Wqwq gitu deh. Intinya, selalu ada probabilitas produk nggak cocok.

Mengatasi masalah ini, kamu bisa preloved produkmu. Kalau susah nemu pembeli dan nggak suka jualan, alih fungsikan saja. Misalnya face wash yang terlalu drying jadi sabun mandi, moisturizer buat muka breakout jadi buat badan, lip scrub yang terlalu kasar buat scrubbing siku.

  • 4.      Buka 1 maskara tiap periode.

Udah paham kan, PAO maskara itu 3-6 bulan saja? Percayalah, maskaramu nggak akan habis dalam satu bulan. Jadi daripada mubadzir buang-buang maskara dengan pakai beberapa maskara dalam satu waktu, bukankah lebih bijak kalau membuka 1 maskara saja dan memakainya sampai PAO habis?

  • 5.      Hindari nyetok produk hanya karena sale.

Kecuali sale-nya worth it dan produknya jenis yang sudah pasti kamu repurchase. Misalnya item holy grail atau produk yang cepat habis. Saya kok berasumsi sekarang ini lebih banyak orang yang suka nyoba-nyoba produk dibanding yang setia pada satu jenis produk hingga selamanya.

  • 6.      Sering-sering decluttering.

Either dijual as preloved atau dihibahin ke kerabat dekat dan nggak dekat-dekat amat. Saya tahu semua orang berbeda, tapi bagi saya, meringkas barang kepunyaan itu sama melegakannya seperti mengosongkan ruang di otak.

Ada yang mau nambahin? Komentar tentang minimalist beauty menurut pendapatmu? Silakan loh.

No comments

Post a Comment

Halo, terimakasih sudah mampir di JurnalSaya. Satu komentar Anda sangat berarti bagi saya.
Semua komentar dimoderasi ya. Komentar yang berisi pesan pribadi akan saya anggap spam.
Oiya, tolong jangan tinggalkan link hidup di badan komentar. Kisskiss

© Jurnal Saya
Maira Gall