Friday, May 1, 2020

VIRLY’S CHOICE: 5 BENDA WAJIB UNTUK JAGA KESEHATAN MENTAL SELAMA PANDEMI


Pulang kantor masih sore langsung ke kos, diam-diam aja sampai besok pagi ke kantor lagi, lalu pulang langsung kos dan nggak ke mana-mana lagi sudah jadi aktivitas normal 2 bulan terakhir. Pandemi Covid-19 ini memang something. Bikin capek otak sampai ngaruh ke fisik. Saking overthinking beberapa waktu lalu saya sampai burn out dan maag kambuh.


Saya ingat betul waktu awal-awal Covid-19 masuk Indonesia, akhir Februari ke awal Maret. Saya masih parno-parnonya. Beberapa kali sehari saya browsing soal virus corona. Saya bacain juga cerita orang-orang yang terinfeksi. Kok gejalanya beda-beda banget. Saking seringnya baca ciri-ciri virus corona, saya jadi ikutan batuk-batuk dan meriang. Makin parno, saya konsultasi lewat berbagai aplikasi kesehatan. Salah satunya Halodoc.

Menurut saya, UX Halodoc ini paling nyaman dibanding beberapa aplikasi serupa yang pernah saya coba. Belum pernah nge-lag pula! Bahkan sekarang udah ada tab ‘Tes COVID-19’. Pas nyoba 2 bulan lalu, saya pilih sesi ‘Periksa COVID-19’. Di situ ada pertanyaan-pertanyaan semacam screening mandiri. Lalu saya diinfo termasuk kategori resiko tinggi. Mungkin karena saat itu saya sedang mengalami batuk sesekali dan bekerja di retail (batuk ini di kemudian hari saya ketahui cuma efek psikosomatis).


Dari situ saya chat dengan dokter. Pilih yang gratis sih. Sayangnya ada beberapa catatan yang saya buat selama konsultasi di Halodoc. Pertama, mereka nulis dr. pakai huruf ‘D’ kapital. Kedua, antrean chat dokternya lama. Ketiga, dokter yang chat saya manggil ‘pak’, mungkin saking sibuknya ya. Hasil konsultasinya standar aja sih. Direkomendasikan untuk minum multivitamin, istirahat cukup, dan isolasi mandiri.

Tapi itu preferensi pribadi. Teman-teman saya banyak yang pakai Halodoc juga dan merasa terbantu sekali terutama untuk konsultasi kesehatan yang ringan-ringan. Nanti saya coba lagi konsultasi dengan dokter lain yang berbayar.

Kembali ke persoalan stres akibat pandemi. Sekarang saya sudah lebih santai. Sejak angka positif Covid-19 di Indonesia menyentuh 500-an, saya nggak lagi update berita tiap hari. Baik berita kasus positif maupun imbas-imbas ekonominya.

Selain mengurangi baca berita buruk, saya punya 5 benda yang saya andalkan sebagai distraksi untuk menjaga kesehatan mental selama pandemi. Kan bukan hanya kesehatan fisik yang harus dijaga.
  • Lipstik

Well, ini terkesan ngawur. Sekarang saya pakai masker tiap keluar rumah. Pakai lipstik pun nggak akan kelihatan. Saya memang nggak pakai lipstik kalau pakai masker. Nyucinya susah kalau nempel. Itu satu hal sepele tapi menyebalkan dari memakai masker.
Tapi lipstik adalah mood booster buat saya jauh sebelum musim corona. Jadi saya mengalihkan pemakaian lipstik di kos. Pakai makeup full sampai lipstik hanya untuk foto-foto tanpa konsep itu liberating sekali. Makes me stay sane, tho.
Baca: Makeup Collaboration bareng Beautiesquad
  • Hand Sanitizer

Saya selalu sedia hand sanitizer di pouch dan di meja kantor. Meskipun sebenarnya jarang digunakan karena saya lebih suka cuci tangan di bawah air mengalir dengan sabun. Tapi penting aja buat saya tetap bawa. Sedia payung sebelum hujan lah ya. Minimal bikin nggak panik saat nggak sengaja bersentuhan dengan orang lain. Atau buat bersihin gadget yang habis dipinjam.
  • Black Cloth Mask

Ini agak halu, tapi biarin lah ya. Pakai masker hitam polos bikin saya membayangkan rasanya jadi idol/aktris Korsel wqwq. Anggap saja sebagai cara saya mengompensasi absennya lipstik di MOTD sehari-hari.
  • Buku

Who doesn’t love books? Membaca buku, entah fiksi atau non fiksi bisa memperbaiki mood. Dan tentu saja mendistraksi pikiran supaya nggak mikir yang macem-macem. Sekarang saya sedang paralel baca Everybody Lies-nya Seth Stephens-Davidowitz dan Marketing 4.0-nya Philip Kotler. Dua-duanya buku non fiksi. Bacanya harus sambil coret-coret. Cocok lah untuk menyibukkan otak. Tapi kalau otakmu sedang terlampau sibuk karena stres, saya rekomen baca novel ringan saja.
Baca: Cerita tentang Antologi Rasa
  • Ponsel

Sudah jelas. Lagipula siapa yang bisa jauh-jauh dari ponsel ya kan? Untuk menjaga kewarasan, saya membatasi browsing soal Covid-19 lewat ponsel. Sebisa mungkin jangan deh. Nanti parno lagi. Saya lebih sering pakai ponsel untuk online shopping (berasa dapat hadiah pas terima paket), scroll Twitter tanpa tujuan, atau baca buku digital. Oh, well, balesin chat di grup kerjaan juga sih. Much better than pusing mikirin corona.

Kamu gimana selama musim corona? Cerita dong jurus-jurusnya supaya tetap waras di tenagh-tengah situasi nggak jelas kayak sekarang!

1 comment

  1. Iya bener banget awal-awal covid masuk aku up to date banget. tapi sekarang aku nggak soalnya biar sehat.

    ReplyDelete

Halo, terimakasih sudah mampir di JurnalSaya. Satu komentar Anda sangat berarti bagi saya.
Semua komentar dimoderasi ya. Komentar yang berisi pesan pribadi akan saya anggap spam.
Oiya, tolong jangan tinggalkan link hidup di badan komentar. Kisskiss

© Jurnal Saya
Maira Gall