Monday, August 10, 2020

LIFE AS DIVORCEE #11: JAWABAN UNTUK PERTANYAAN “KAPAN NIKAH LAGI?”

 

Pernah dengar ada yang bilang commitment is scary for fire sign, kan? Sebagai seorang sagittarian, well, kinda true. Menikah itu seperti ambil KPR. Kamu butuh menabung untuk ngumpulin DP, lalu berhemat lagi untuk bayar cicilannya setiap bulan selama setidaknya 10 tahun ke depan.

Baca: Tentang Nikah Muda

Menikah Sama Seperti Ambil KPR

Bayar cicilan saja lalu selesai? Tentu nggak dong. Setelah kamu menempati rumahnya, kamu perlu meluangkan energi dan uang lagi untuk maintenance rumahmu agar nyaman dihuni. Renovasi sana-sini juga. Re-décor tiap beberapa tahun karena tren dekorasi rumah akan selalu berubah, dan rumah harus selalu insta-ready jika sewaktu-waktu ada tamu yang ngajakin house-tour dan dijadikan konten Instastory.

Nyapu-ngepel seluruh permukaan rumah tiap hari. Ngelap-ngelapin kaca biar nggak buluk. Bersihin kamar mandi seminggu sekali biar nggak mirip lokasi syuting film horor. Ganti-ganti bohlam lampu tiap ada yang mati. Pasang tandon air supaya persediaan air bersih aman. Bayar listrik karena apa yang bisa kamu lakukan tanpa listrik?

Baca: Don’t Tie The Knot with These Guys

Me-maintain pernikahan membutuhkan energi yang nggak sedikit. Kamu dan pasangan harus sevisi sejak awal. Perbedaan memang menjadi warna dan membuat kalian saling melengkapi, kalau bukan di hal-hal yang sifatnya prinsipil.

Kompromi dan toleransi menjadi makanan sehari-hari kalau ingin pernikahan berlangsung harmonis. Kamu ingin ini, pasanganmu ingin itu, maka kalian harus bertemu di tengah-tengah. Nggak bisa salah satu kemauannya harus selalu dituruti dan yang satu selalu mengalah.

Well, mungkin bisa, tapi akan tahan sampai kapan? Beneran yang hobi ngalah itu memang ikhlas atau memendam perasaan saja? And deep down, are you really enjoy the marriage? Karena kalau nggak bikin nyaman, apa esensinya pernikahan?

Baca: Pre-Marriage Talks

It takes two to tango. Mewujudkan pernikahan yang sehat dibutuhkan usaha dari dua orang. Kamu dan pasangan perlu saling respek dan mengasihi. Kuncinya di kata ‘saling’. Nggak bisa hanya satu arah.

Itu sebabnya mindset menggantungkan kebahagiaan (dan kehidupan sejahtera) pada pasangan nggak bisa saya terima. Nggak masuk di akal saya. Plis lah, kamu tuh siapa sampai merasa kehadiranmu yang pasif saja sudah cukup buat pasanganmu hingga menuntut mereka menuruti semua maumu?

Menyukai Rumah Harus Termasuk Lingkungan dan Tetangga

Selain saling nurturing pasangan, kamu juga perlu saling bersikap baik pada keluarga pasangan. Kan kalau di Indonesia menikahi seseorang berarti menerima seluruh keluarga besarnya juga. Puyeng nggak tuh? Keluarga besar sendiri yang jelas-jelas ada hubungan darah aja ribet, ini ketambahan keluarga besar pasangan yang baru kamu kenal setelah dewasa. Makin banyak hati yang harus dijaga. Makin banyak keponakan yang harus dibagi angpao saat hari raya.

Begitupun saat mulai menempati rumah hasil KPR, kamu harus rukun dengan tetangga sekitar. Harus mau bersosialisasi dengan warga lingkungan. Harus bisa me-manage senyum dan bersikap ramah by default. Oke lah, part ini mudah dilakukan. Sebagai orang dewasa, tentu bersikap ramah by default sudah dilaksanakan setiap hari.

Kalaupun ada tetangga yang hobi ghibah ya dicuekin aja ya, kan udah khatam baca The Subtle Art of Not Giving a Fuck. Kalau ada grup WhatsApp komplek ya ikut aja, bahasannya nggak sefrekuensi tinggal mute. Yang penting selalu jaga senyum kalau ketemu walaupun hati mangkel. Itu kan konsekuensi ambil KPR di lingkungan tersebut.

Resiko di Tengah Jalan

Namun masih ada resiko lain. Gimana kalau ternyata rumahmu itu dulunya bekas pemakaman? Atau ternyata berhantu? Atau seabad yang lalu menjadi lokasi penyiksaan rakyat oleh penjajah? Atau itu tanah sengketa? Atau malah developer-nya menjadikan rumahmu sebagai media pencucian uang? Atau skenario-skenario lain. Terdengar lebay, tapi bukan nggak mungkin terjadi beneran IRL lho.

Ingin secepatnya pindah rumah, tapi sudah terlanjur sign KPR yang cicilannya masih 20 tahun lagi. Mau beli rumah lagi, nggak ada uangnya. Mau kembali ke rumah mertua, terlalu banyak konflik. Mau jual rumah dulu, kok lakunya nggak secepat jual emas. Ya ditahan-tahanin aja solusinya.

Sama dengan menikah. Siapa yang menjamin kalau pasangan nggak berubah di tengah jalan? Atau justru kamu yang berubah? Gimana kalau kalian seiring waktu jadi nggak sefrekuensi dan semakin lama gap-nya makin lebar? Nggak sedikit lho, pasangan yang awalnya sevisi lalu di tengah perjalanan salah satunya hijrah dan jadi beda arah. Atau yang satu senantiasa growing sementara pasangannya diam di tempat.

Oke lah let alone itu masalah growing dan hijrah. Paling klasik aja deh, apakah ada jaminan setelah dua, lima, atau sepuluh tahun nanti salah satu dari kalian nggak bosan? Apakah ada jaminan cinta kalian masih ada? Ada jaminan kalian tetap berusaha saling mengasihi satu sama lain? Ada jaminan salah satu dari kalian nggak menyukai orang lain?

Ada Pilihan Ngekos atau Ngontrak Rumah

Saat ini, jelas sekali saya lebih suka ngekos. Saya mendapat kenyamanan sebuah tempat tinggal tanpa perlu memikirkan kerepotannya. Tanpa komitmen. Minim konsekuensi. Bayar bulanan, kalau masih betah bayar lagi, ingin pindah mudah saja. Toh hidup saya belum settle. Nggak ada yang tahu tahun depan saya ngapain dan ada di mana.

Saya nggak direpotkan soal urusan kebersihan dan maintenance seluruh rumah. Ada ibu kos. Yang perlu saya kerjakan hanya menjaga kebersihan kamar yang saya tempati. Kamar mandi kotor? Tanggung jawab ibu kos. Pompa air mati? Bilang ibu kos. Lampu kamar anak kos lain masih nyala sampai siang? Bukan urusan saya. Akur dengan tetangga? Oh, selama saya senyum dan sopan saat berpapasan di jalan, nggak akan ada masalah.

Tentu itu berlaku pada kehidupan romantic relationship juga. I do enjoy punya partner date. Saya suka mendapat afeksi yang sederhana dari orang lain (memangnya siapa yang nggak?) namun enggan komitmennya. Nggak perlu ada grand gestures atau melibatkan perasaan terdalam karena saya pun enggan.

Tentu saya menikmati aktivitas makan bersama, atau bepergian bersama, atau bertukar kabar selayaknya sekali waktu. Namun menghabiskan waktu 24/7 sampai setidaknya 30 atau 40 tahun ke depan dengan orang yang sama? Belum tentu saya menikmatinya.

Jadi jawabannya: kapan-kapan.

No comments

Post a Comment

Halo, terimakasih sudah mampir di JurnalSaya. Satu komentar Anda sangat berarti bagi saya.
Semua komentar dimoderasi ya. Komentar yang berisi pesan pribadi akan saya anggap spam.
Oiya, tolong jangan tinggalkan link hidup di badan komentar. Kisskiss

© Jurnal Saya
Maira Gall