Minggu, 12 Maret 2017

MOMMALIFE : I LOVE MY DAUGHTER, BUT NOT THAT MUCH


Baca judulnya jadi inget dulu pas awal-awal Jurnal Saya bernama Mommalife, tagline-nya Spread The Love pula. (Sok) positif banget isinya. Memang waktu itu saya obsesi banget pengen jadi kayak mbak Andra Alodita, jadi saya buat lah blog yang isinya positif semua. Tapi kok ya pencitraan gagal. Saya nggak bakat jadi agen penyebar kebaikan. Mari tertawakan saja saya yang dulu.


Sekarang Mommalife saya jadikan rubrik saja. Seperti Virly’s Choice, Blogger’s Life, dan seri Lesson I Learned. Sebagai reminder kalau saya sudah emak-emak.
Baca : Uprin Loves Zoo
To be honest, anak-anak bagi saya adalah makhluk berisik yang hanya bisa mengganggu. Saya tidak pernah suka anak-anak terutama balita, dari dulu. Saya tidak pernah sabar menghadapi balita. Kalaupun saya lihat balita yang pipinya tembem lalu saya bilang “lucunya...”, itu hanya demi kesopanan. Karena saya kenal orang tuanya, atau karena orang tuanya ada di depan saya.

Well, kalau ada yang iseng kepoin Jurnal Saya awal-awal, mungkin ngeh kalau saya pernah nulis dengan gaya I-love-my-daughter-to-the-moon-and-back. The truth is, itu pencitraan. Seperti yang saya bilang tadi, supaya kesannya positif. Tapi jadinya nggak menarik.

Di cerita-cerita fiksi, perempuan yang tidak suka anak-anak pasti antagonis. Mereka pura-pura suka anak-anak karena ada maunya. Skenarionya begini : kalau si anak masih bayi, dia akan menangis ketika digendong si antagonis tadi lalu diam seketika saat perempuan baik berhati lembut mengambil alih. Atau begini : kalau si anak sudah SD, dia akan ngambek tiap kali diajak jalan-jalan oleh si antagonis. Pokoknya, anak kecil tahu mana yang tulus mana yang modus. Hahaha ... Ya sudahlah, saya jadi antagonis saja.

Terus, kalau anak sendiri juga nggak suka ? Ya beda lah, lha wong anak sendiri ! Saya sayang kok sama anak saya, tapi nggak sesayang “itu”.

Lantas, kalau disuruh memilih quality time bareng anak atau me time, pilih mana ? Ehm, boleh nggak kalau saya milih quality time bareng anaknya gini : Uprin gambar sendiri di sebelah saya tapi jangan rusuh, terus saya marathon baca Twilight sampai Breaking Dawn ?
Baca : Quality Time Tanpa Gadget
Abaikan ! Saya punya cerita yang lebih cerita-able.

Konon katanya, seorang ibu harus mencintai anaknya tanpa batas. Harus rela melakukan apapun karena anaknya. Yang kebahagiaannya terletak pada kebahagiaan anaknya. Seperti Bella Swan yang nyaris mati demi Renesmee, seperti Anya yang hampir berpisah dengan Ale karena Aidan.
Baca : Critical Eleven dan Alpha Female
Ini kenapa contohnya fiksi semua ?

Ada ibu menyusui yang rela nggak makan pedas karena katanya si bayi bisa sakit perut. Ada ibu yang patuh ketika dilarang minum es karena mitos zaman dulu berkata si bayi bisa pilek. Ada ibu yang sukarela resign dari pekerjaan impiannya supaya bisa bersama sang anak 24 jam non stop, karena kata tetangga zaman sekarang nggak ada babysitter yang bisa dipercaya.
Baca punya mak Liza : Fakta Tentang Anak-Anak
Susah memang jadi ibu. Banyak peraturan tidak tertulisnya. Entah siapa yang menciptakan peraturannya. Kalau ada ibu yang tidak sesuai pakem dihujat, yang nggak mau nurut dibilang nggak sayang anak.

Padahal, kadar sayang setiap orang kan berbeda. Seorang dauntless kan nggak bisa punya rasa peduli yang sama dengan seorang abnegation. Seorang introvert kan tidak bisa diharapkan akan koar-koar betapa sayangnya dia pada anaknya di hadapan segerombolan ibu-ibu yang sedang ngerumpi.

Jadi intinya, saya sayang anak sendiri atau enggak ?

Well, tergantung indikator sayang yang dimaksud bagaimana sih. Kalau sayang berarti harus rela menghadang peluru demi menyelamatkan nyawa anak atau rela nggak makan sambel supaya anak nggak mencret, saya sih no. Kalau dipikir-pikir lagi, di mana bagusnya sih rela mati demi seseorang ? Kalau saya menghadang peluru terus mati sih sayanya enak, habis urusan di dunia. Terus anak saya yang ngurus siapa, yang bayarin sekolahnya nanti siapa ?

That’s all. Saya kehabisan kata-kata.
I love my daughter, but not that much. And that’s okay.
Bagus nggak quote-nya ? Bilang bagus dong ah !

Kiss kiss.

4 komentar

  1. Wow wow wow, aku terkesima mak sama ceritamu. Tapi jujur yg kayak begini layak dapet bintang!

    BalasHapus
  2. Lol banget baca ini.
    Sebetulnyaaaa..... aku pun! Jiahaha... kita punya kadar cinta ---yang hanya diri kita dan Tuhan yang tahu.
    It's okey kok.
    Hihihi.... *masih terkikik geli

    BalasHapus
  3. Mantaplah ibu satu ini. Aku juga gamau percaya mitos sih *eh :v

    BalasHapus
  4. aih mbak, anak-anakku cowok juga seringnya ga ngasih me time ke simbok mereka.

    tapi kl ingat-ingat hari tua jadi sayang kok. hehe.. pamrih itu mah.

    BalasHapus

Halo, terimakasih sudah mampir di JurnalSaya. Satu komentar Anda sangat berarti bagi saya.
Semua komentar dimoderasi ya. Komentar yang berisi pesan pribadi akan saya anggap spam.
Oiya, tolong jangan tinggalkan link hidup di badan komentar. Kisskiss

© JurnalSaya
Maira Gall