Wednesday, May 10, 2017

AKHIRNYA SAYA BACA ANTOLOGI RASA (LAGI)

metropop antologi rasa

Antologi Rasa adalah satu-satunya judul novel yang saya beli dua kali. Yang pertama dulu ilang, dan saya pengen baca lagi. Iya, segitu sukanya saya sama metropop Ika Natassa yang satu ini. Tetap jadi favorit saya, lebih favorit dari Critical Eleven atau The Architechture of Love.

Baca : The Artchitechture Of Love
PS : Ada spoiler.

Padahal nih ya, nggak ada yang spesial dari cerita Antologi Rasa. Kisah cinta ribet slash friendzone antara Harris-Keara-Ruly-Denise kan sebenarnya bukan hal baru. Harris cinta Keara, si Keara nggak ngerti. Keara cinta Ruly, si Ruly nggak ngeh. Ruly cinta Denise, si Denise nggak tau. Denise cinta suaminya, si suami nggak syukur. Klise banget kan ya ? Tapi tentu saja Ika Natassa mengeksekusinya dengan cara luar biasa. Dan karakter utamanya juga bukan perempuan yang biasa-biasa saja.

keara-antologi-rasa-critical-eleven

Keara, si karakter utama perempuan ini tipikal alpha female, independen, fierce, rada wild dan songong, tapi punya prinsip. Dia sama sekali bukan tipe perempuan rumahan baik-baik tanpa dosa yang rajin bekerja. Dia bekerja supaya bisa shopping-shopping, btw. Millenial banget.

Sedangkan Harris, si karakter utama laki-laki, bisa dibilang adalah Keara versi laki-laki. Dia bad boy, idola para perempuan, tapi jelas punya prinsip. Karena dia lead role. Melalui POV orang pertama bergantian, saya jadi kenal Harris sampai ke ujung otak dan hatinya. Lucu, membaca Harris yang sedang cinta mati pada Keara tapi nggak berani bilang karena all those friendship things. Antara nggak siap ditolak dan nggak mau ruin friendship itself. Lebih lucu lagi karena si Harris mendadak melankolis karena perempuan.

It is familiar, isn’t it ? Dan memang di situlah kekuatan Antologi Rasa. Problem ringan anak-anak muda dikemas dengan cita rasa kaya, cerdas. Agak berbeda dengan cerita kakak Harris yang lebih berat muatannya di Critical Eleven. Sudah tau kan, kalau Harris bersaudara dengan Ale ? Mereka keluarga Risjad.
Baca : Critical Eleven
Serunya lagi, Ika Natassa menulis Antologi Rasa dengan plot maju mundur. Dimulai dari Singapore tripnya Keara dan Harris lalu berakhir di Singapore trip Keara dan Harris tahun berikutnya. Di sela-sela alur maju selama satu tahun, potongan-potongan kenangan masa lalu diceritakan baik dari POV Keara, Harris, atau Ruly.

review buku antologi rasa ika natassa

Di samping itu, Antologi Rasa adalah salah satu metropop yang risetnya paling keren menurut saya. Karakter-karakternya beneran hidup dengan masing-masing isi kepala, latar belakang, kesukaan, hingga jalan pikiran yang utuh. Keara yang segitu passionate-nya sama dunia fotografi. Saya tau nama Anne Leibovitz dari Keara, btw. Harris yang dengan begonya jatuh cinta jungkir balik pada sahabat sendiri. Lalu nggak sengaja berbuat salah hingga mikirin berbagai cara supaya bisa memperbaiki hubungannya dengan Keara. Ruly yang alim tapi canggung. They seem very real, anyway.

Kelihatannya nggak ada cacatnya ya Antologi Rasa ini ? Well, karena saya emang segitu sukanya, saya nggak nemu imperfections sama sekali. Ehm, ada sih. Saya masih belum ngerti kenapa Keara sampe segitu frustasinya waktu tau Ruly kecelakaan dan dirawat oleh Denise di rumah sakit.

cinta tanpa syarat

Buat saya, the best part di Antologi Rasa yang selalu saya ingat adalah ending sederhana tapi logis dengan signature quote Harris : “But for now, this is enough”.

Yeah, this is really enough.

Ada yang sudah baca Antologi Rasa juga ? Share dong opini kamu !

Kiss kiss.

resensi metropop ika natassa antologi rasa
Judul : Antologi Rasa
Penulis : Ika Natassa
Penerbit : Gramedia
Tahun Terbit : 2011

Tebal : 344 halaman, 20 cm

1 comment

  1. Belom mak belommmm. Mau beli tapi wishlist buku ku buanyak iki hahaha

    www.extraodiary.com

    ReplyDelete

Halo, terimakasih sudah mampir di JurnalSaya. Satu komentar Anda sangat berarti bagi saya.
Semua komentar dimoderasi ya. Komentar yang berisi pesan pribadi akan saya anggap spam.
Oiya, tolong jangan tinggalkan link hidup di badan komentar. Kisskiss

© JurnalSaya
Maira Gall