Tuesday, February 12, 2019

MAU INVESTASI, MULAINYA GIMANA?


Ya bikin akun investasi. Pertanyaannya rada ngeselin ya? Sama kaya pertanyaan: “Kak, caranya jadi blogger gimana?” Ya bikin blog lah. Oke, ini saya mau ngobrolin investasi, bukan blogging. Nah, saya tuh sering banget denger orang yang pengen ini pengen itu banyak sekali tapi usahanya nol. Ya ada sih usahanya, kerja lebih rajin, lebih sering lembur, dan banyakin nabung. Ya tetep aja kepenginannya enggak tercapai. Karena pas tabungannya udah kekumpul, harga sesuatu yang  dipengen udah naik.


Inflasi. Hahah.

Btw, saya udah ngomongin soal inflasi di artikel kapan kemarin. Sedikit nyrempet soal investasi juga.
Baca: Membicarakan Uang
Di artikel kemarin itu saya bilang mau ngobrolin lebih lanjut soal investasi. Kebetulan, dua pekan lalu saya habis kopdar lagi bareng investarian klikmami.com. Akun investasi saya sudah aktif, sudah bisa mulai beli unit di reksadana. Belinya gampang, kaya belanja lipstik di marketplace. Pilih unitnya, pilih jumlahnya, online aja, lalu transfer uangnya.

Oh, saya belum bilang ya, satuan pembelian reksadana itu disebutnya unit. Bisa beli 1 unit, 2 unit, selusin unit. Bebas. Per unit dijual mulai dari Rp. 10.000,- di reksadana Manulife. Lebih murah dari harga kopi segelas kan?

Kalau ada yang penasaran kenapa saya pilih investasi di reksadana, alasan saya sederhana. Saya baru mulai, belum punya pengalaman baca laporan keuangan perusahaan, dan praktis belum tahu caranya menganalisa laporan tersebut. Kemampuan menganalisa laporan keuangan itu penting kalau mau investasi langsung di saham.

Gini loh, di dunia investasi itu ada hukum alam “low risk low return, high risk high return”. Tips buat yang baru mulai investasi, pilih yang low risk dulu. Kalau udah nyaman, baru cari tantangan dengan cara nambahin portofolio investasi saham. 

Reksadana ini alternatif terbaik untuk investasi low risk. Cocok buat nabung yang tertarget. Misalnya, saya pengen beli lensa kamera yang bagusan tahun depan. Alih-alih nabung biasa di rekening yang tiap bulan berkurang karena biaya admin, mending  saya belanjakan uang saya tiap bulan sedikit-sedikit ke reksadana. Bisa jadi enggak nyampe setahun return dari reksadana sudah terkumpul untuk beli lensa.

Reksadana ini sebetulnya bentuk investasinya di pasar uang juga. Sama seperti investasi saham. Bedanya, di reksadana, saya dan kalian ngumpulin uang jadi satu di manajer investasi. Si manajer yang memutuskan uang kita mau dibelanjakan saham apa. Low risk, karena uang kita berada di tangan expert, dibelanjakan di beberapa saham perusahaan berbeda. Misal ada satu perusahaan yang colaps, langsung diganti perusahaan lain.

FYI, investasi reksadana itu ada beberapa jenis. Kalian bisa pilih sesuai target: uang kalian harus terkumpul dalam 1 tahun, 2 tahun, 5 tahun, atau di atas 10 tahun. Saya bikin list aja ya cheat sheet milih jenis reksadananya.

1.      Reksadana Pasar Uang: untuk target 1-3 tahun, potensi return rendah tapi stabil, instrumen 100% pasar uang.
2.      Reksadana Pendapatan Tetap: untuk target 3-5 tahun, potensi return sedikit lebih tinggi, instrumen 80% obligasi.
3.      Reksadana Campuran: untuk target 5-10 tahun, potensi return & fluktuasi sedang, saham dan obligasi seimbang.
4.      Reksadana Saham: untuk target > 10 tahun, potensi return & fluktuasi tinggi, instrumen 80% saham.

Jadi, misalnya kalian punya target mau upgrade laptop tahun depan, investasinya di reksadana pasar uang. Kalau target kalian umroh 10 tahun lagi, ya pilih aja reksadana saham.

Ada yang udah mulai investasi reksadana juga? Share dong cerita kalian, siapa tahu menginspirasi yang lain buat ikutan investasi juga!


(ADV)

No comments

Post a Comment

Halo, terimakasih sudah mampir di JurnalSaya. Satu komentar Anda sangat berarti bagi saya.
Semua komentar dimoderasi ya. Komentar yang berisi pesan pribadi akan saya anggap spam.
Oiya, tolong jangan tinggalkan link hidup di badan komentar. Kisskiss

© JurnalSaya
Maira Gall