Thursday, October 11, 2018

LIFE AS DIVORCEE #9 : MEMBICARAKAN UANG



Artikel ini isinya beda kok dengan thread yang saya buat di twitter hari Minggu pekan lalu. Judulnya aja yang sama.


Anyway, thread twitter yang maksud itu ini.

Saya pernah nulis, salah satu hal yang harus dipikirkan sebelum memutuskan bercerai adalah soal finansial. Mau enggak mau, kondisi finansial akan berubah setelah bercerai. Ini berlaku bagi yang IRT tulen sejak awal maupun yang sudah punya pekerjaan. Bagi yang sejak dulu menjadi tulang punggung maupun yang tadinya merupakan tulang rusuk. That rhyme, tho!
Baca : Sebelum MemutuskanBercerai
Perubahan kondisi finansial kalian setelah bercerai bisa memburuk atau justru membaik. Memburuk kalau kalian jenis istri yang bergantung sepenuhnya pada pemberian suami dan kalian buta sama sekali pada persoalan uang. Membaik kalau suami kalian jenis parasit. Ya setelah cerai kan enggak ngurusin parasit lagi.

Ngomong-ngomong soal parasit ini, kemarin saya baru dengar cerita seorang teman. Pernikahannya berantakan. Tiba-tiba ceritanya banyak padahal sebelumnya semua orang mengira dia bahagia. Salah satu masalahnya soal uang. Dan ironis, salah satu alasan teman saya bertahan juga uang. Sedemikian kompleks masalah uang ini dan sedemikian rapuh pernikahan itu. Teman saya sih belum official bercerai ya, tapi perceraian sudah di depan mata. Sekarang dia mencari uang.

Satu hal yang pasti terjadi sesudah kalian bercerai: kalian harus bisa berdiri di atas kaki sendiri. Kalian harus punya uang, tahu cara mengelolanya, mengerti cara menyimpannya, dan tahu kapan menggunakannya. Intinya, jadi divorcee berarti jadi breadwinner.
Baca : Life As Divorcee #1
Caranya punya uang, tentu mendapat dari sumber dana. Idealnya, kalian mendapat tunjangan dari mantan suami kalau punya anak. Kalau kalian enggak dapat, ya cari penghasilan. Paling gampang sih kerja.

Menabung dan Menentukan Prioritas

Saya suka membuat target tabungan. Ada target untuk anggaran sekolah anak, untuk anggaran senang-senang, dana darurat, sampai dana pensiun. Tapi realitanya sulit untuk membuatnya jadi nyata. Terutama karena nabungnya sendiri. Ya itu kan resiko bercerai.

Nah, minggu lalu saya ke event Manulife, sharing soal finansial. Dari hasil survey kemarin, rata-rata masalah semua orang  adalah bisa nabung sedikit karena banyak keperluan mendadak. Seharusnya keperluan mendadak bukan alasan enggak bisa nabung kalau punya dana darurat. Makanya, ada yang namanya prioritas. Nabung dulu, senang-senang belakangan.

Saya contohin deh. Saya selalu menyisihkan sedikit gaji untuk ditabung di awal. Dalam jumlah yang sama tiap bulan. Prioritas saya sekarang kamera dan dana darurat dulu. Soalnya sedih amat ya blogger enggak punya kamera. Hahaha. Kalau kalian memprioritaskan biaya sekolah anak juga boleh.

Setelah menyisihkan untuk tabungan, baru saya bagi untuk pos-pos lain. Bujet skincare dan bujet beli buku aja sih yang penting kalau saya. Ini personal banget. Setiap orang butuhnya beda. Sisanya baru untuk daily basis seperti bayar SPP anak, transportasi, kuota internet, makan, dan sejenisnya. Untuk hedon gimana? Kalau saya, enggak terlalu butuh hedon. Paling beli sepatu aja kalau sepatu lama udah rusak. Itu pun saya beli dari invoice kerjaan freelance. Jadi enggak ganggu cashflow bulanan.

Dana darurat idealnya ekuivalen dengan biaya hidup setahun. Biar apa? Biar kalau ada apa-apa kalian bisa apa-apa. Dan biar bisa bantah kalau tiba-tiba mantan suami mau ngambil hak asuh anak dengan alasan kalian enggak sanggup membiayai.

Inflasi dan Investasi

Saya enggak akan ngomongin inflasi kaya Bu Sri Mulyani. Ini versi paling sederhana aja. Inflasi itu menurunnya nilai mata uang, FYI. Misalnya, dua tahun lalu biaya ngurus cerai setengah juta aja. Lima tahun lagi bisa jadi naik lima kalinya. Jadi kalau mau cerai lima tahun lagi ya sekarang nabungnya pakai target estimasi biaya yang udah naik itu. Kok gini amat ya contohnya.

Oke, ganti. Misalnya hari ini biaya masuk SMP 12 juta. Padahal Uprin sekarang masih umur 4 tahun, masuk SMP 7 tahun lagi. Kalau inflasi 5 % per tahun, tujuh tahun lagi biaya masuk SMP sekitar 17 juta. Berarti kalau nabung senilai 12 juta, 7 tahun kemudian enggak cukup. Solusinya berarti nabung sebanyak 17 juta itu atau nabung yang 12 juta dan berharap nanti mengembang jadi 17 juta.

Opsi kedua itu namanya investasi. Tapi jangan investasi bodong ya. Bentuk investasinya terserah kalian. Bisa di saham, properti, atau reksadana. Yang penting, saat memilih produk investasi, selalu ingat bahwa makin tinggi returnnya, makin besar pula resikonya. Jadi kalau ada yang nawarin investasi tanpa resiko tapi returnnya gede, kalian harus curiga.

Jujur sih, saya belum pernah investasi apa-apa. Kemarin banget saya baru mulai invest di reksadana. Saya bikin akun di klikmami.com dan ternyata gampang banget. Investnya mulai dari seratus ribu aja.

Reksadana emang returnnya enggak besar ya, tapi terjangkau dan sejauh ini sih terbukti yang paling mudah untuk pemula. Cocok untuk yang kondisi keuangannya enggak bagus-bagus amat.

Saya akan bahas lagi soal investasi. Nanti. Setelah saya belajar lagi.
Manulife : Instagram | Twitter | Investasi
(ADV)

No comments

Post a Comment

Halo, terimakasih sudah mampir di JurnalSaya. Satu komentar Anda sangat berarti bagi saya.
Semua komentar dimoderasi ya. Komentar yang berisi pesan pribadi akan saya anggap spam.
Oiya, tolong jangan tinggalkan link hidup di badan komentar. Kisskiss

© JurnalSaya
Maira Gall