Monday, August 3, 2020

EAT & STAY: MENGINAP SEMALAM DI ARTOTEL GAJAHMADA


Saya nggak nge-mall sama sekali sejak pandemi melanda. Café hoping juga nggak. Rutinitas setiap hari praktis hanya ngantor-pulang-ngantor-pulang. Ngopi masih sih, dari rumah, pesan via ojol. Bosan? Nggak juga, masih bisa ditahan. Toh saya memang anak rumahan sejak dulu. Yang jadi ganjalan buat saya justru kehabisan stok foto.

Baca: Jajan GoFood Patungan

Don’t get me wrong. Saya bukannya maniak fefotoan atau gimana. Bukan juga selebgram yang per foto dibayar jutaan. Saya cuma mbak-mbak medioker yang suka motret dan dipotret. Seneng aja gitu dress up lalu nyari referensi pose buat diprektekin.


Affordable Yet Adorable

Berbekal sale Traveloka (tapi artikel ini bukan iklan, saya nggak dibayar), saya dapat harga Rp 297.000 untuk kamar twin tipe Studio 30, dari rate Rp 540.000-720.000,- di Artotel Gajahmada. Hotelnya dekat kosan, nge-Grab cuma lima belas ribu. Lumayan banget buat escaping.


Saya udah sejak beberapa bulan lalu eye-ing hotel ini. Konsepnya artsy cakep. Gedung hotelnya ada 11 lantai. Nggak terlalu tinggi tapi cukup dapat view dari ketinggian. Saya suka staf-stafnya yang ramah secukupnya. Maksud saya, gesturnya ramah, pas request atau komplain ditanggapi dengan baik. Selebihnya, “make yourself at home”. Dan mereka cukup jaga jarak. Saya suka inisiatif mereka untuk meminimalkan interaksi dengan tamu.   

Pas masuk kamar, wah cakep. Di kamar disediakan Dolce Gusto, air mineral, dan ada kulkasnya. Di kamar ada meja panjang di bawah TV, serta ada bangku di sepanjang sisi dinding kaca. Kamar saya di lantai 5 atau 9, lupa. View-nya pemukiman sekitar sih. Nggak spesial. Tapi over all, kamarnya nyaman.


Soal lokasi, Artotel Gajahmada Semarang sangat strategis. Letaknya di Jalan Gajahmada, salah satu jalan raya yang hulunya di Simpang Lima, tepatnya menghubungkan kawasan Simpang Lima dengan Jalan Pemuda. Dekat sekali dari pusat kota. Dari bandara setengah jam sih, dihitung sama macetnya. Dari pusat oleh-oleh Pandanaran juga dekat. Dari kedai lumpia femes malah cukup jalan kaki 3 menit. Akses transportasi nggak akan jadi masalah sih.

Baca: Lunpia Cik Me Me

Artistic Ambience

Saya masuk ke Artotel Gajahmada melalui tempat parkir. Dari lift di tempat parkir itu kemudian naik ke lantai lobi. Drop off taksi juga di sini. Agak nggak praktis sih, bapak taksolnya kudu mundurin mobil buat keluar. Mungkin karena okupansi hotel sedang sepi dan masa pandemi, jalur masuk dan keluarnya dibuat satu pintu.

Sampai di lobi disambut interior yang cozy dan “dipikirin”. Alih-alih plafon, langit-langit di lobi Artotel Gajahmada pakai cermin. Auto jepret lah ya.

Dari lobi ada artspace yang saya baru tahu ternyata temanya diganti secara berkala. Pas ke Artotel karena pekerjaan, Januari lalu, artspace didominasi warna putih. Pas staycation kemarin, berisi lukisan-lukisan berwarna vibrant yang di-layout kotak-kotak. Di salah satu sisi dinding resto lantai 1 yang nembus ke langit-langit lantai lobi, ada lukisan juga. Memang di Artotel bertabur lukisan.



Kamar yang saya dapat luasnya 30 sqm, ada wall painting karya Diela Maharani. Setiap kamar ada wall painting karya seniman Indonesia. Mereka beneran stick to art concept. Setiap area ada unsur seninya.

Baca: Resort Berkonsep Multikultur di Semarang

Must Visited Rooftop

Ini yang terkenal di Artotel Gajahmada Semarang: rooftop-nya!


Nggak yang wow banget juga sih. Tapi kata stafnya rooftop Artotel populer jadi tempat bersosialisasi buat tamu-tamu. Rooftop-nya sendiri terdiri dari bar di area indoor dan kursi-kursi santai di area outdoor.


Saya ke sana di pagi hari, jadinya sepi. Praktis cuma saya dan teman nginap saya ditemani satu staf Artotel. Ngapain di rooftop? Nyetok foto lah! Kan itu tujuan utama staycation.

Kamu sendiri, kalau staycation tujuannya apa? Share dong ceritanya!


No comments

Post a Comment

Halo, terimakasih sudah mampir di JurnalSaya. Satu komentar Anda sangat berarti bagi saya.
Semua komentar dimoderasi ya. Komentar yang berisi pesan pribadi akan saya anggap spam.
Oiya, tolong jangan tinggalkan link hidup di badan komentar. Kisskiss

© Jurnal Saya
Maira Gall