Monday, October 26, 2020

MENJAGA CASHFLOW TETAP STABIL SAAT PANDEMI

 


Januari, Februari, Maret, Covid, November, Desember. Kalender 2020 isinya gitu ya kayaknya. Gara-gara pandemi, banyak sekali yang berubah. Ada yang kehilangan pekerjaan, ada yang gajinya dipotong kantor, ada yang usahanya nyaris kolaps. Ujungnya, ngaruh juga ke tujuan-tujuan keuangan yang sudah ditetapkan di awal tahun.

Saya termasuk yang sempat kena dampak. Beberapa goals terpaksa saya tunda. Adjusting is a must. Karena hidup terus berjalan sedangkan pandemi belum kelar.

Satu hal yang pasti, pandemi bikin hidup serba uncertain. Nggak ada pekerjaan yang betul-betul secure. Nggak ada yang tahu kalau tiba-tiba bulan depan kena efisiensi atau tertular Covid sehingga harus nganggur sekian waktu. Namun cashflow harus dijaga agar tetap stabil.

Rebudgeting

Adapt or die bukan sekadar pepatah kalau saya bilang. Situasi berubah, maka perlu penyesuaian di sana-sini. Penghasilan berubah, maka pengeluaran harus disesuaikan. Saya sendiri melakukan rebudgeting sejak bulan April. Simpel saja. Saya cuma menghapus beberapa pos yang kurang penting, dialihkan ke kebutuhan yang lebih penting.

Budget beli makeup saya pangkas, dialihkan untuk beli masker dan Covid starter pack kayak hand sanitizer gitu-gitu. Well, kalau dipikir-pikir, saya memang dari dulu jarang sekali beli produk makeup.

Budget café hopping juga saya pangkas, masuk ke tabungan. Budget entertainment saya alihkan untuk subscribe Netflix dan Gramedia Digital. Selain itu, saya juga rebudgeting untuk kebutuhan sehari-hari; sekarang ke kantor bawa bekal.

Baca: Menjaga Kesehatan Mental Selama Pandemi

Tetap Belanja

Berhemat itu satu hal. Tapi memastikan roda ekonomi tetap berputar itu hal lain. Sejak awal pandemi, saya sudah concern terhadap hal ini. Sempat berdiskusi dengan teman tentang ini juga dan punya kesimpulan sama: kita harus tetap berbelanja supaya perputaran uang nggak mandek.

Ya bayangin aja kalau semua orang yang punya uang wegah belanja dan memilih mengendapkan uangnya. Apa nggak makin parah tuh resesi yang menghadang nantinya?

Tentu belanjanya tetap on budget dan jangan sampai mengganggu cashflow.

Cari Sumber Pendapatan Lain

Tiba-tiba membangun bisnis secara impulsif di tengah-tengah pandemi memang nggak lucu. Apalagi kalau modal bisnisnya dari tabungan pribadi. To be honest, memulai bisnis ini salah satu goal yang saya tunda karena pandemi.

Bukannya saya melarang kalau ada yang mau bikin bisnis sekarang-sekarang ya. Tapi lebih mindful aja. Pikirkan dulu matang-matang. Dan kalau bisa, bikin bisnis yang modalnya minimal.

Kalau perlu sumber pendapatan lain yang nggak perlu modal, bisa nge-freelance atau ambil part time.

Cash Is King

Di masa krisis, betul bahwa cash is king. Beberapa bulan terakhir, saya stop investasi di reksa dana dan membiarkan saja uang saya di tabungan konvensional. Just in case.  

Baca: Tutorial Investasi Reksa Dana

Pertanyaannya sekarang, gimana kalau nggak punya cukup cash? Gimana kalau butuh cash cepat? Well, ada yang namanya pinjam uang. Tapi sebisa mungkin jangan pinjam uang ke teman ya. Rawan merusak hubungan.

Kalau butuh banget pinjaman uang, ada yang namanya fintech, misalnya Tunaiku. Yes, ini situs pinjaman online. Please, be mindful. Sama seperti kartu kredit, pinjaman online bukan sumber pendapatan.

Disclaimer: Saya belum pernah menggunakan layanan Tunaiku maupun pinjaman online mana pun, dan belum berencana menggunakannya. Tulisan ini hanya bertujuan membagi informasi.

Tunaiku adalah produk dari Amar Bank yang merupakan kategori bank BUKU II (FYI, bank dikategorikan dari BUKU I sampai BUKU IV berdasarkan modal intinya. BUKU I yang paling kecil). Mereka bisa kasih pinjaman sampai dua puluh juta rupiah dengan cicilan sampai 20 bulan. Bunganya pinjamannya 3-4% per bulan, cukup besar kalau dibandingkan KTA konvensional yang rangenya 0,5-2% per bulan. But hey, tentu saja di mana-mana bunga pinjaman online relatif lebih tinggi.

Kelebihan Tunaiku itu di proses yang cepat dan bisa diakses siapa saja. Yes, kamu nggak perlu kasih jaminan saat mengajukan kredit. Prosesnya pun serba online, kecuali step tanda tangan kontrak. Kamu hanya perlu mengajukan pinjaman melalui website, mengisi formulir, menunggu pinjaman diterima, konfirmasi, tanda tangan kontrak, kemudian menerima dananya.

Apakah aman? Yes, Tunaiku sudah terdaftar di OJK.

Sekarang Tunaiku juga punya layanan investasi berupa deposito. Sama seperti bunga pinjaman yang relatif tinggi, bunga investasi mereka juga tinggi. Range-nya dari 5-10% per tahun. Menarik sekali. Saya berencana mencari tahu soal ini lebih lanjut. Nanti saya ceritain lagi ya.

Punya cerita tentang mengatur keuangan saat pandemi melanda? Share sini yuk!

No comments

Post a Comment

Halo, terimakasih sudah mampir di JurnalSaya. Satu komentar Anda sangat berarti bagi saya.
Semua komentar dimoderasi ya. Komentar yang berisi pesan pribadi akan saya anggap spam.
Oiya, tolong jangan tinggalkan link hidup di badan komentar. Kisskiss

© Jurnal Saya
Maira Gall