Friday, October 12, 2018

BLOGGER’S LIFE : BLOGGER’S BLOCK



Weekend kemarin saya nemu resep teh tarik di internet. Ternyata bahan-bahannya sederhana. Cuma teh, gula, SKM, dan krim. Kalau lihat di video, bikinnya juga gampang. Tinggal direbus bareng, dicampur, lalu ditarik-tarik. Saya niru dong. Tapi SKM dan krimnya saya ganti susu UHT, gulanya enggak ikut. Ternyata susah. Saya enggak ngerti gimana cara narik-nariknya sampai jaadi foam. Ya udah, punya saya jadi teh susu aja.


Itu tadi intro.

Pernah dengar frase writer’s block? Saat penulis kehabisan ide cemerlang lalu buntu lalu enggak bisa nulis bahkan hanya satu kalimat. Sama seperti yang dialami Raia di The Architechture of Love. Raia sampai kabur ke New York untuk mengusir writer’s blocknya. Meski ternyata setelah sampai di New York pun, writer’s block enggak semudah itu diatasi.
Baca : My Thoughts on TheArchitechture of Love
Rasanya? Ngeselin. Dan kondisi semacam ini bukan cuma dialami penulis buku saja. Narablog a.k.a blogger macam saya juga sering. Istilahnya saja diganti jadi blogger’s block.
Kalau ada yang ngeh, arsip tulisan di blog ini beberapa bulan terakhir jauh dari ideal. Sejak bulan April, tulisan saya di blog ini enggak pernah lebih dari 4. September kemarin malah cuma satu artikel. Malu sama pengumuman “new blogpost every Monday and Saturday” yang pernah saya pampang di bio Instagram.

Jadi, itu kenapa bisa sebulan hanya satu artikel? Karena blogger’s block? Ya dan enggak. Blogger’s block bukan satu-satunya alasan. Ada time management yang buruk dan rasa malas yang susah dilawan. Baliknya ke motivasi diri sendiri yang kurang sih ya.
Baca : Behind Those SleeplessNights
Lantas kalau sedang mengalami blogger’s block saya ngapain? Biarin dan bengong aja sampai ada ide brilian datang baru nulis lagi? Enggak lah. Nunggu ide spektakuler itu sama seperti nunggu ladang gandum dijatuhi meteor coklat. Cuma ada di iklan tahun 90an. 

Normalnya saya akan tetep maksa nulis apapun terutama kalau lagi ada deadline advertorial. Biasanya dikit-dikit masih bisa lah jadi satu artikel lima ratus kata.

Tapi kalau lagi butek banget ya biarpun nongkrongin laptop seharian, enggak ada satu baris kalimat pun berhasil saya tulis. Kalau udah gitu, shut down aja laptopnya. Ganti aktivitas. Comfort activity saya enggak jauh-jauh dari maraton baca buku, maraton nonton drama, atau maraton wisata kuliner.
Baca : 88 Love Life
Kalau masih belum bisa nulis juga, saya cari aktivitas baru yang belum pernah saya coba sebelumnya. Salah satunya seperti yang saya certain di paragraf pertama blogpost ini. Browsing menu iseng lalu ditiru. Perkara berhasil atau enggak urusan belakangan. Yang penting otak direfresh. Lumayan efektif loh. Buktinya, dua minggu terakhir ini saya produktif banget kelar nulis 6 artikel. Proud.

Ngomong-ngomong soal refresh otak, kok jadi pengen jalan-jalan ke kebun teh ya. Itu aktivitas baru juga yang saya belum pernah sebelumnya. Pasti jadi sumber inspirasi.

Kalian yang blogger dan pernah mengalami blogger’s block, certain dong gimana cara kalian akhirnya bisa nulis lagi? Cukup nonton drama Korea kesayangan, coba aktivitas baru, atau malah harus kabur ke luar negeri dulu kaya Raia di TAOL?

(ADV)

1 comment

  1. Kalau aku biasanya mba, cari inspirasi dengan jalan-jalan ke tempat wisata/mall, kadang BW, dan cari info-info lomba. :D

    ReplyDelete

Halo, terimakasih sudah mampir di JurnalSaya. Satu komentar Anda sangat berarti bagi saya.
Semua komentar dimoderasi ya. Komentar yang berisi pesan pribadi akan saya anggap spam.
Oiya, tolong jangan tinggalkan link hidup di badan komentar. Kisskiss

© JurnalSaya
Maira Gall