Rabu, 22 Februari 2017

DEAR HIGH QUALITY SINGLE LADIES

25 tahun belum menikah
Gambar pinjam Pixabay

Selama ini saya memakai kaca mata kuda. Bagi saya pernikahan itu merepotkan, tidak layak dijadikan indikator happy ending. Tertnyata di luar sana banyak perempuan ingin menikah. Banyak yang merasa belum lengkap hidupnya sebelum menikah dengan seseorang. Jadi saya menulis ini untuk kalian, 25+ years old high quality single ladies.

Menjadi perempuan lajang berusia 25+ tahun di Indonesia memang agak merepotkan, terutama yang tinggal di daerah. Rongrongan pertanyaan “kapan bagi undangan” dari teman, “mama udah pengen menimang cucu” dari orang tua, “kapan nyusul” dari kerabat di resepsi saudara, silih berganti memekakkan telinga. Belum termasuk meme-meme jomblosentris yang wara-wiri di timeline social media.

Jengah ? Wajar. Tapi tahu nggak, saya lebih jengah pada kalian wahai para perempuan lajang yang terlalu sering galau menanyakan mengapa jodoh tak kunjung datang.

Well, mungkin ini akan jadi monolog sarkastik. But please, jangan close tab dulu. Bukan hanya karena marriage doesn’t work on me, lantas saya menyimpulkan it won’t work on you too. Marriage itu mirip gambling sebenarnya, bisa menang bisa kalah. Bisa berhasil bisa gagal. Tapi peluang keberhasilan pernikahan seseorang yang satu dengan yang lainnya tidak sama. Ada banyak faktor yang mempengaruhi. Setidaknya, jangan menikah tergesa-gesa.
Baca : Being Young and Beautiful Divorcee
Begini lho, kalian kan baru 25+, kalian pintar, cantik, punya prestasi, masih muda. Banyak sekali yang bisa kalian lakukan. Travelling ke Manokwari hingga pulau Weh, mampir ke Karimunjawa lalu main-main di Morotai. Puas keliling Indonesia kunjungi museum Louvre, jangan pulang sebelum menyentuh setiap inchinya. Kalau perlu buat perjalanan napak tilas a la Da Vinci Code, jelajahi sudut-sudut Perancis dari sisi berbeda.
Baca : Saya Kepingin Jadi Vampir Saja
Nggak suka travelling ? Clubbing, then. Bersenang-senang dengan teman-teman selagi bisa apa salahnya ? Or simply bekerja saja sebaik mungkin, mengejar karir seperti yang seharusnya dilakukan karakter utama di metropop kesayangan.

Atau kalian berasal dari keluarga yang sangat relijius ? Kalau begitu pergi umroh saja bareng simbah. Atau ke Madinah melanjutkan kuliah. Atau ke Mesir mempelajari qira’ah sab’ah.

Banyak sekali kan yang bisa kalian lakukan ? Banyak perempuan menginginkan kehidupan kalian, ngomong-ngomong. Apa kalian tidak sayang melepaskan kesempatan demi mengikatkan diri pada laki-laki yang belum ketahuan rimbanya ?

Sejujurnya hingga detik ini, saya belum mengerti apa tujuan pernikahan sesungguhnya.

Untuk ibadah ? Well, ibadah-ibadah yang lain banyak kok : salat tahajud, puasa sunnah, memberi makan orang miskin, memelihara anak yatim, menyumbang biaya operasional sekolah di daerah terpencil ...

Untuk menyempurnakan separuh agama ? Maaf, tapi apa rukun islam yang lima itu sudah dikerjakan semua ? Kalau belum, kenapa tidak disempurnakan dulu yang separuh itu ?

Untuk membangun keluarga ? Heyy,, kalian kan sudah punya keluarga.

Ada yang sudah menemukan tujuan pernikahan ?
Baca : Tentang Nikah Muda
Saya bukannya ngompor-ngomporin kalian untuk nggak menikah lho ya. Menikahlah, tapi jangan tergesa-gesa. Jangan menurunkan standar kalian hanya supaya bisa segera menikah. Jangan dengarkan ocehan “jangan terlalu pemilih” atau “jangan terlalu sukses nanti laki-laki pada minder” atau sejenisnya. Itu hidup kalian. Pilih pasangan kalian dengan seksama.
Baca : Critical Eleven dan Alpha Female

Jadi, wahai high quality single ladies, bagian mana yang masih membuat kalian gundah ?

6 komentar

  1. hihihi.... aku jadi yang pertama komen nih mbak. Berasa banget aku sama story nya.

    Kalo ngomongin standar sih gak ada, tp emang belum berani atau takut gagal seperti yg sebelumnya. Beberapa temen bilang bahkan aku katanya trauma. Enggak kok.

    Malah kalau abis nonton drama korea yg happy ending. Aku suka pengen kawin *eh :)

    BalasHapus
  2. Bagian "Jangan terlalu sukses, nanti Laki - Laki minder".

    Well jujur ya mbak, aku paling nggak suka banget ada yang bilang kayak gitu, bahkan aku cenderung emosi seketika. Menurutku, Laki - laki seperti itu memiliki pemikiran paling sempit, nggak bisa diajak diskusi bareng. Amit - amit naudzubillahmindzalik dengan laki - laki seperti itu.

    Aku juga sama nih mbak, masih mencari tujuan pernikahan sesungguhnya selain berbagi kehidupan. Yang terpenting bagi kita sekarang jangan dengerin omongan seperti itu lagi mbak, ntar kita nggak maju" lagi hehe.

    www.extraodiary.com

    BalasHapus
  3. semua keputusan harusnya dikembalikan lagi pada diri masing2, saya juga nikah umur 29, mahal dulunya pengen nikah umur 30-an heheheheh tapi ternyata dikasih jodoh umur 29. Being single or married adalah pilihan, semua didunia ini ada pilihannya :D jadi silahkan aja para individunya memilih sendiri.
    Btw saya sering baca banyak cewe2 yg bilang aaw saya udah tua ternyata baru umur 25 or early 30... Oh c'mon girls.. age is just a number, the important things is enjoy your life to the fullest :D

    BalasHapus
  4. setuju bgt mom... kayanya memang lebih asik kalau kita bisa enjoy masa muda dulu, biar puas yah.. akupun mikirnya begitu, mau nikmatin masa muda, jalan-jalan, nikmatin waktu sama keluarga dulu, bangun karir dan mapan.. toh kalau mmg tertakdir untuk menikah pasti akan ada waktunya :D

    BalasHapus
  5. haiiii, aku mau share point of view aku ttg pernikahan . buat aku pernikahan itu kaya life time contract. cari partner sulit. letting other people knows our flaws juga sulit. apa karena saya kebanyakan sendiri dan mandiri dari kecil ya? im thinking that i dont need a bf. aku apa2 bisa sendiri hehhehe

    BalasHapus
  6. Aku gak bakal nurunin standar. Sekali aku turunin standar, aku udah tau gimana jadinya kak. :D

    www.vinasaysbeauty.com

    BalasHapus

Halo, terimakasih sudah mampir di JurnalSaya. Satu komentar Anda sangat berarti bagi saya.
Semua komentar dimoderasi ya. Komentar yang berisi pesan pribadi akan saya anggap spam.
Oiya, tolong jangan tinggalkan link hidup di badan komentar. Kisskiss

© JurnalSaya
Maira Gall